Halaman

Sabtu, 31 Desember 2011

Maaf

"Aku rindu mencintai seseorang dengan bebas dan aku rindu dicintai seseorang dengan hanya aku yang kamu inginkan."

***
Sejenak, Raisa berhenti berjibaku dengan tumpukan berkas tugas, memandang memelas terhadap kertas-kertas. Namun tiba-tiba Aldo lewat membawa kertas manila yang masih menggulung dan memukul kepala Raisa.

"Aduh..." keluh Raisa sambil mengusap kepalanya. Namun Aldo berlalu tanpa merasa bersalah.

"Nyebelin kamu, Do." Aldo yang memasang tampang tak bersalah langsung duduk santai di meja kerjanya yang tepat di belakang meja kerja Raisa. Dan Raisa kembali mengerjakan pekerjaannya.

Raisa yang baru lulus dan bekerja di selama 6 bulan di Perusahaan tersebut mempunyai partner kerja sebaya diantara para pegawai di perusahaan yang rata-rata sudah menikah. Aldo, pria tinggi tegap dan wajah bisa dikategorikan tampan ini juga pegawai baru, baru lulus dan baru bekerja. Hobinya mengganggu dan menggoda Raisa.

Sesaat konsentrasi Raisa dibuyarkan oleh Hp Raisa yang bergetar di atas meja kerjanya. Pesan pendek itu muncul dilayar hp Raisa hanya berisikan "Sayang kamu, muah.." dan Raisa hanya menanggapi datar, dia tahu siapa si pengirim yang tidak lain adalah Aldo. Raisa sudah biasa mendapati sms yang tidak jelas dari Aldo.
"Heh, kalo sayang beneran gimana?" Balas sms Raisa. Tanpa menunggu lama Aldo pun membalas.
"Biarin, emang aku sayang jadi mau digimanain lagi." Raisa hanya menoleh ke belakang dan mencibir.

Sesuatu yang tidak mungkin menurut Raisa jika Aldo menyukainya, karena Aldo sudah memiliki pasangan dan menjalin hubungan hampir 3 tahun.

***

"Aku ke rumahmu ya?" Sms di malam minggu dari Aldo. Raisa mengerutkan keningnya, "mau ngapain ya dia" pikirnya.

"Aku udah di gang rumahmu nih, rumah kamu di yang mana ya?" Smsnya lagi. Raisa pun keluar dari Rumah, lalu terlihat Aldo dengan motor sportnya tersenyum.

"Ih, kamu apa-apaan sih malam minggu ke sini? Bukannya sama pacarnya"

"Biarin dong, mungkin awal pendekatan hehehe.." jawab Aldo dengan cengirannya.

"Heh.." Raisa memukul manja Aldo tapi tetap mempersilahkan Aldo duduk. Mereka bercakap-cakap tentang pekerjaan, curhat tentang kehidupan dan juga tentang mantan-mantan dan pacarnya Aldo. Entah mengapa saat Aldo bercerita tentang pacarnya ada sesak yang menghampirinya seakan oksigen di terasnya habis oleh polusi-polusi angan yang terlarang.

***

"Ah aku senang banget malem ini bisa ngobrol denganmu, kamu tahu tidak? Kakiku tadi lemas pas turun dari motor. Kamu cantik malam ini." Sms Aldo setelah dari rumah Raisa. Ada rasa senang sekaligus sakit di dada.

"Iya, trimakasih. Aku tahu kamu memang sedang butuh teman ngobrol, makanya datangnya ke aku, huft." Balas Raisa.

"Hehehe... terima cinta juga boleh. Sayang kamu, minggu depan lagi ya." Lagi-lagi sms Aldo yang membuat Raisa bimbang. 'Dasar cowok aneh, belum nikah aja udah punya bakat poligami' bathin Raisa.

***

4 bulan berlalu, Aldo yang terus-terusan menggoda Raisa dan Raisa pun sudah mulai tak kuat dan meminta penjelasan Aldo. Suatu senja yang berubah malam di taman kota, Raisa dan Aldo duduk di bangku taman berdua,
"Do, hmm aku mau menanyakan sesuatu." Tanya Raisa ragu.

"Apa?" Sahut Aldo dengan senyum yang menggodanya

"Kita ini hubungannya kaya gimana sih? Sahabat bukan, pacar juga bukan. Perasaan kamu ke aku tuh gimana sih?" Tanya Raisa yang tatapannya terpaku pada rerumputan di taman sambil mengayunkan kaki ia menunggu jawaban Aldo.

"Hahaha.. aku sayang kok sama kamu." Jawab Aldo dengan tawa yang memecahkan keheningan.

"Aku serius, Do." Raisa menatap Aldo dengan mata memelas.

"Gini ya Raisaku sayang, aku suka hubungan ini, masalah apa yang terjadi di depan itu kita liat nanti. Yang perlu kamu tahu, aku sayang kamu, tapi aku gak mau kamu jadi pacar aku karena aku sudah milik Aina dan kamu tahu itu." Jawab Aldo yang masih saja tersenyum melihat langit yang di penuhi bintang.

"Jadi?" Tanya Raisa. Namun lagi-lagi Aldo hanya menatap Raisa tersenyum lalu mengalihkan lagi pandangannya pada bintang-bintang di langit. Aldo menarik napas dan menjawab

“Kamu sudah tahu jawabannya tanpa harus bertanya.”





Ditulis untuk hastag #CumaNaksirUnite @hurufkecil

Jumat, 09 Desember 2011

Padahal Aku Pacarmu

Semenjak kecelakaan itu kita tak lagi bertemu. Yang ku ingat adalah wajah sedihmu saat kamu dibawa pulang oleh keluargamu, tanpa pamit padaku yang terkulai tak berdaya dengan peralatan Rumah Sakit yang menempel di badanku.

***
1 bulan berlalu
Aku sudah keluar dari Rumah Sakit dan hendak bertemu denganmu, rindu tak bisa lagi dibendung. Malam itu aku berdiri di depan rumahmu. Mengetuk jendela kamarmu karena sudah pasti orangtuamu tak mengijinkan kita bertemu. Namun yang kudapati saat kamu menoleh ke jendela hanyalah sebuah teriakan. Sebegitu bencinya dirimu padaku?

Segala upaya ku coba untuk menemuimu namun tetap penolakanmu yang ku dapat. Hingga kamu tak ragu lagi membaca doa itu. Kini hanya itu caramu mengusirku.




Flash fiction #111Kata
Terinspirasi dari fiksimini @cocodarz : PADAHAL AKU PACARMU – Namun, tiap kali aku datang, kau tak pernah ragu membaca doa itu. Kini, hanya itu caramu mengusirku.

Rabu, 16 November 2011

Untukmu yang Bersembunyi

:.... (yang menjadi rahasia dalam genggaman Tuhan)

Aku telah berjalan jauh untuk menemuimu
Mendekati jemari Tuhan
Mendekatkan diri pada Tuhan

Dalam tanganku, tak luput lembaranlembaran doa
Yang hampir seluruhnyanya berisikan tentangmu, kebaikan untukku
Sebab hidup ini tak mudah, dan dua pikiran-mungkin-mampu mengubah menjadi tak sekadar indah.

Ini Tak Hentikanku

Panas terik tak juga hentikan ku melangkah menuju senja pantai nan indah
Sebab aku merindukan oase, itu saja. Namun selalu fatamorgana semata

Angin tak lagi sekadar perlahan, pun pasir tak lagi sekadar menghalangi pandangan
Perih, mataku berair. Kemarau yang tak kunjung berakhir

Batangbatang kesepian saling beradukan, melambai sendu kesakitan.
Sekali lagi ku katakan "ini tak kan hentikan ku melangkah", perjalanan menyedihkan diantara hatihati semu

Demi kamu, seseorang yang berada diujung pantai senja itu; menungguku sedari dulu tanpa ragu.

Selasa, 15 November 2011

Waktu bukanlah jarak kita.

Kita sudah lama bersama. Kamu dan saya mempunyai ikatan yang kuat--ya memang seharusnya begitu. Namun, kesukaanmu dan saya, hobimu dan saya, kesibukanmu dan saya, menjauhkanmu dengan saya--saat itu.

Malam itu, saya pandangi wajah lelahmu saat terlelap. Mengingatkan segala hal tentang kamu. Saya ingat jarak kita dulu jauh, namun tidak menyurutkan cintamu. Jakarta - Bandung bukan masalah. Kamu mendatangi saya sekali atau dua kali dalam sebulan.

Saya ingat saat kamu datang dari jakarta setelah mungkin satu bulan tak bersua, kamu dengan boneka teddy bear hitam lucu yang hingga kini masih ada untuk saya jaga. Saya juga ingat saat jarak tak lagi menjadi masalah karena kita satu tempat tidak melunturkan cintamu dengan kejenuhan namun selalu memberi saya ice cream setiap hari.

Waktu berlalu, sayang saya ke kamu selalu sama begitu pula denganmu. Saya ingat caramu menyiapkan bekal untukku yang terlalu sibuk dan hingga melupakan makan.

"Ini buat kamu, dimakan ya." Ujarmu menyodorkan roti bakar tanpa isi, sengaja katamu agar badan saya tidak melebar.

"Saya mencintaimu" bathin saya.

Dan saya takut kehilanganmu, terlebih pada kejadian sebulan lalu. Kamu pulang dengan wajah memar dan luka juga darah yang terus menetes di dagumu.

"Tadi ditabrak dari kiri. Kata orang-orang sih langsung pingsan di tengah jalan. Lalu dibawa ke pinggir. Si penabrak kabur" Ujarmu yang masih menahan sakit

Ya Tuhan, saya peluk kamu, menangis dalam pelukmu.

"Tuhan, terimakasih masih menyelamatkannya."

Sayang saya ke kamu memang tak sebanding dengan apa yang telah kamu korbankan untuk saya. Kamu cape saya tahu, namun kamu selalu merasa ini adalah tanggung jawabmu. Walau tidak ada waktu lagi kita untuk sering bersama, seperti saat dahulu kamu menyempatkan waktu untuk menemani saya mengikuti lomba mewarnai dan hanya menggeleng-geleng kepala saat melihat warna awan saya yang hitam.

"Awannya kan sedang mendung. " Jawab saya enteng, kamu pun tertawa kecil.

Namun kejadian kecil seperti tawa yang tergelak saat kamu membonceng saya dan kita hampir saja terjatuh karena jok motor yang licin lalu tak henti-hentinya tertawa sepanjang perjalanan, itu sangat amat luar biasa indahnya.

Untukmu yang kini menghitam terbakar matahari, garis kulitmu menunjukan usiamu, untukmu yang selalu berkorban, untukmu. Ya untukmu yang mencintai keluarga kecilnya. Saya menyayangimu dengan sangat, Ayah.

Anakmu, Mirna.

Jumat, 11 November 2011

11.11.11

Suatu hari dalam satu tahun pasti saja ada angka-angka cantik. Tahun ini angka satu jadi dominan, 01.01.11 atau 11.11.11. Ada yang memilih untuk menjadikannya hari pernikahan, jadian, melahirkan, melamar, dan saya tidak dapat mendapatkan hal-hal itu.

Melahirkan? Suami saja belum punya. Dilamar? Menikah? Sama siapa? Jodoh saya masih senang bersembunyi dengan waktu. Jadian? Sama siapa pula? Tidak ada yang sedang dekat, jika ada pula pun itu memang ada tapi saya menghindari, tidak mau dengan pria yang sudah punya pasangan, ya walau bukan pasangan hidup dan janur kuning belum melengkung, sedapat mungkin saya tidak akan--jatuh--cinta. Pun Tuhan masih melindungi saya dari cap yang buruk.

Tapi sesuatu yang indah bukan hanya pada tanggal segitu, bukan? Saya setiap hari selalu mendapatkan kehangatan dan perhatian, dari anak-anak dibawah 11 tahun. Pekerjaan saya, walau hanya sebagai guru tapi selalu mendapat perhatian, pelukan, walau kadang saya memang harus tegas terhadap anak yang malas. Setidaknya ini semua buat saya belajar menghadapi keluarga kecil nantinya.

Menikah? Siapa sih yang tidak ingin menikah, tapi saya belum ingin sekarang. Masih banyak yang harus saya tuntaskan, saya persiapkan. Jikapun saya pernah berucap pada (mantan) pacar saya, "aku tidak sabar ingin segera menikah denganmu." Lalu mulai membicarakan hal-hal indah setelah itu, abaikan saja, jangan dianggap serius lalu membuatmu--pacar-saya-kelak--tertekan karena merasa diburu-buru. Karena kalimat itu hanya kalimat pengganti "aku ingin bersamamu, selamanya. Itu saja."

Tanggal cantik katanya lebih mudah diingat nantinya. Tapi bagi saya semua tanggal cantik, semua tanggal jadian dan putus dengan (mantan) pacar saya saja masih ingat--karena memang kurang dari 5 jari tangan. Siapa sih yang gak kan ingat dengan hari bersejarah dalam hidup? Tapi siapa pula yang gak pengen punya sesuatu yang unik? Menambah suatu hal untuk dikenang bukan?

Minggu, 30 Oktober 2011

Aku dan Gaun Pengantin

2 minggu sebelum hari pernikahan, aku dan Damar pergi ke Bridal untuk fitting baju terakhir kalinya. Gaun yang akan aku kenakan adalah gaun putih sederhana,

"Model gaun Kate Middleton ini memang sedang menjadi trend." Ungkap pemilik bridal

"Kamu cantik sekali sayang." Ternyata Damar sudah ada di depan pintu memperhatikan ku yang berputar-putar di depan cermin besar dengan sumringah.

Hari pernikahan

Iringan pengantin menuju tempat pemberkatan. Entahlah, sepertinya hitam menjadi dresscode para tamu padahal tidak ada dalam undangan. Aku hampiri Damar, aku melihatnya menangis, pikirku mungkin terharu. Namun, ada yang membuatku berhenti bernapas. Tatapan Damar tertuju pada peti yang mana seseorang wanita dengan gaun pengantinnya terbujur kaku di dalamnya, dan itu Aku.

Hari Bersama Aninditya

Hari ini akan ku pastikan menjadi hari yang teramat manis untuk pacarku yang manis, Aninditya. Hari ini dia mengajakku ke wahana bermain Dufan. Ku pandangi diriku dalam cermin itu, kaos putih bertuliskan “I love her” berwarna merah, rambut yang semi mowhawk membuatku semakin keren, ah jadi geli sendiri.

Ku lihat jam di dinding sudah pukul 8 pagi, sudah waktunya aku berangkat. Ku semprotkan parfum Acqua Di Gio for Men, ku tarik jaket coklat yang menggantung di balik pintu, ku panaskan sebentar motor matic putihku. Tak sabar ingin ku temui Anin.

Selama perjalanan ke rumah Anin, tidak henti-hentinya ku bernyanyi mengalunkan lagu-lagu cinta. Teringat saat pertama kali kunyatakan cinta padanya, sebait puisi untuknya, segenggam tangan menghangatkannya, semakin cinta ku padanya.

Lamunanku dan lagu-lagu cinta yang menemaniku membuatku tak merasakan perjalanan selama satu jam ini. Ku hentikan motorku di depan rumah bergaya minimalis bercat abu-abu dengan tanaman merambat yang menggantung dari atas ke bawah.

“Permisi Om.” Ku sapa pria setengah baya yang sedang mengelapi sepedanya.

“Eh, nak Riyan. Silahkan masuk dulu. Anin sedang siap-siap.” Jawabnya ramah.

“Iya om, saya masuk ya.”

Anin pun muncul dengan senyum tipisnya. Anin memakai cardigan ungu yang dia biarkan tak terkancing hingga kaos putih dengan tulisan “I love him” berwarna merah terlihat jelas. Rambut pendek dengan poni yang ia biarkan sedikit menutupi matanya membuat dia semakin lucu.

“kita langsung berangkat aja yuk.” Ajaknya.

Dalam perjalanan dengan motor maticku, ku rasakan pelukan Anin. Ku sesapi wanginya yang tertiup angin. Perjalanan menuju utara Jakarta butuh waktu satu setengah jam. Tapi ku nikmati dengan Anin yang terus bercerita tentang rencananya kuliah lagi di Aussie. Sedih pasti, tapi kita akan saling percaya.

Sekitar jam 11 kami sampai di wahana bermain tersebut. Tidak begitu ramai karena kita datang lebih awal namun satu jam kemudian wahana ini memang tak pernah sepi pengunjung. Aku dan Anin menikmati wahana bermain satu persatu. Ku lihat senyum dan tawanya sangat ceria. Hingga tak terasa matahari pun menunjukan kepada kami waktu untuk pulang.

Kita tidak langsung pulang, melainkan mampir dahulu ke pantai Ancol sekedar menikmati langit senja.

“Apakah kamu senang sayang?” tanyaku sambil memeluknya di tepi pantai itu dan Anin hanya mengangguk. Ku tatapi matanya yang kini berkaca-kaca.

“Aku sayang kamu, Nin. Kamu tahu itu dan perpisahan jarak tak akan menghalangi cinta kita, kamu tahu itu.” Ku yakinkan Anin dan semakin erat pelukanku padanya.

“Kita pulang yuk, yang. Udah malam.” Pintanya dan aku hanya mampu menurutinya, lagi pula angin malam tak baik untuknya.

Tepat pukul 8 aku mengantarkan Anin. Lelah membalut kami, hingga ku biarkan Anin untuk langsung beristirahat. Ku peluk kembali Anin dan ku ciumi keningnya.

“I love you, Aninditya.”

Aku pun langsung menuju rumahku. Sungguh lelah melekat padaku tapi kegembiraanku bersama Anin membuat semua itu tak kurasa. Saat ku buka jaket coklatku, kurasakan ada sesuatu di balik saku jaketku. Secarik kertas yang ku kenali tulisannya lalu ku baca,

Dear Riyan, kekasihku.

Terimakasih kamu selalu ada di sampingku. Menemani hariku di setiap waktu. Aku mengajakmu ke tempat bermain itu bukanlah suatu hal tanpa alasan, tempat dimana kamu pernah ucapkan cinta di sana. Di mana aku merasakan detakan jantung yang semakin kencang, di mana rasa manis selalu menyeruak dalam ingatanku. Hingga aku tak mau kisah kita berakhir.

Aku suka kata-kata cintamu, aku suka puisimu, aku suka setiap hari denganmu. Namun aku tak mengerti akhir-akhir ini. Dan kau pun tak tahu apa yang ku rasakan. Mendengar kata cinta darimu terasa biasa, bersamamu terasa hambar, memelukmu pun terasa berat. Jika kamu temukan kertas ini, berarti aku telah memilih jalanku, sendiri tanpamu. Ya menurutku itu lebih baik dari pada aku bersamamu namun cintaku telah hilang. Maafkan aku, ku harap kamu temukan seseorang yang bisa menjaga rasa sayangnya padamu, tidak seperti aku. Sekali lagi terimakasih atas semuanya.

Ps: Aku berangkat ke Aussie malam ini, pesawatku terbang pukul 10. Jadi tak usah mencariku.


Sekejap, jantungku seakan berhenti sesaat. Tak percaya tentang 2 hal yang terjadi hari ini. Anin, wanita yang sangat ku cintai hingga kini ternyata cintanya telah lama mati.

Manis.. Manis yang ku rasa
Ku tak rela cintaku berakhir
Ku minta kau katakan cinta
Saat ku terjaga
Adakah kau rasa
Tak seperti diriku kini
Cintaku tlah hilang

Lagu : Geisha - Cintaku Hilang

Senin, 24 Oktober 2011

Aku Ingat

Awalnya aku memang benar-benar tidak mengenalmu. Setiap hari bertemu dari pagi hingga malam itu memang mengundang cupid bekerja. Alih-alih berusaha jaga jarak, tapi rasa itu semakin dalam.

Aku ingat kita pernah berpas-pasan berjalan di dalam koridor kantor, kita hanya saling menunduk. Tapi dalam seperkian detik aku sudah dalam pelukmu.

“Aku tak mau berakhir.” Harapmu sambil mengecup keningku


Aku ingat dengan jelas makan malam romantis di suatu kafe ditemani lampu kuning redup dan lilin, romantis.

“masa nasi goreng dan teh manis lagi?” tanyamu saat tahu pesananku

Diakhir obrolan ada yang membuat kita canggung. Aku ingat sekali kamu memanggilku Myra padahal aku masih ingat namaku Mirna. Sedangkan Myra adalah pacar resmimu, bukan aku.

Ps: Ini Fiksi, bukan keluhan atau curhat :)

Malaikat Senja

Dan,
Aku masih saja merindukan sosok kamu pada senja di jembatan penyebrangan itu.
Tawamu menyeruak mengalun bagaikan nada bersama memori, membawa kenangan.

Seharusnya setengah tahun berlalu tanpamu aku sudah terbiasa.
Tapi kamu terlalu manis, pikiranku menolak untuk melakukannya; melupakanmu.

Kamu, sempurna.
Kamu malaikatku.

Membawaku ke sebuah surga kecil,
membuat hati tak lagi sunyi.
Kamu pemilik segala kerinduan hati yang bernyanyi.

Tahun ini kegembiraan dan kesedihan terjadi karenamu.
Ingin ku anggap ini adalah sebuah mimpi panjang tapi pipiku selalu saja sakit saat ku cubiti, terlebih hatiku.

Dan, pada akhirnya aku harus segera tersadar.
Kamu hanyalah milik senja
Entah senja yang di ufuk mana
Keindahanmu selalu abadi
Meski merah langit sendu menghampiri
Ku paksakan logika memahami
Bahwa Malaikat tak akan selamanya berada di bumi(ku).



Tak Sebaik yang Kamu Pikir

“Jadi dia pacar kamu, ya? Pantes akhir-akhir ini kamu ilang-ilangan.” tanya ku kepada Arya yang diam saja setelah ada suara perempuan yang mengangkat telepon dan mengaku sebagai pacarnya.

“Iya gue pacarnya. Lo siapanya Arya sih? Nanya-nanyain Arya mulu” sambar perempuan yang suaranya ku kenal di awal telepon.

“Oh, kebetulan gue pacarnya Arya juga,” jawabku dengan nada santai namun memberi kesan menjengkelkan.

“hah? Sejak kapan? Arya itu pacar gue. Gue udah 3 bulan pacaran sama dia. Tau gak lo? Hah?” jawab perempuan disebrang telepon yang tersulut emosinya.

“Sis, gue udah setahun setengah pacaran sama dia. Dan yang pasti lo Cuma jadi selingkuhannya. Mana Arya? Lo gak sopan, gue butuh ngomong sama Arya. Kasih cepetan Hp-nya ke Arya.”

“OGAH, tut...tut... tut..” Jawab perempuan itu singkat lalu mematikan teleponnya. Oke, yang aku tahu sekarang adalah Arya selingkuh.

***

Dua hari setelah kejadian itu, Arya tidak ada kabarnya. Namun hari ini tiba-tiba ia menelpon.

“Hallo Rani, maafin aku. Gak ada maksudku untuk selingkuh. Aku hilaf maafkan aku Rani. Aku janji akan segera memutuskannya. Kamu mau kan maafin aku?” dengan nada yang terburu-buru dan menyesal Arya melanjutkan omongannya. “Kemarin aku berpikir untuk memutuskan memilihmu, kamu yang terbaik. Kamu yang tahu aku dari dulu, sangat amat mengerti aku, dan Manda tidak sepertimu.”

“Arya, sudahlah. Dengan kamu memilih untuk selingkuh sudah mengartikan kalau aku banyak kekurangannya, maka kamu mencari pelengkap ke.. maaf siapa nama perempuanmu itu?"

“Manda.” Sambar Arya

“Iya, itu. Jadi aku bukanlah yang terbaik untukmu, ya.” Jawabku menenangkan Arya

“Maaf membuatmu sakit, Ran. Aku janji dalam beberapa waktu dekat ini akan ku putuskan Manda.” Ucap Arya yang meyakinkanku.

“Ya sudahlah terserah dirimu. Aku lagi ada janji nih sama temen-temen butuh hiburan. Nanti saja lah telepon lagi.” Lalu ku matikan saja telepon genggamku dan langsung di non-aktifkan.

“Telepon dari siapa, beb?” tanya lelaki berbaju berwarna hitam yang bertuliskan ‘she is mine’ membawa pesanan makanan aku dan dia.

“Dari temen, beb. Tapi sayang, hape ku lagi lowbat” ucapku santai.

“Oh bagus deh kalau begitu, tidak akan ada yang mengganggu perayaan satu tahun kita, aku mau kamu seharian sama aku.” Ujar Angga yang menggenggam tanganku erat dengan lengkungan senyum teramat manis.


Slama ini aku pun mendua
Tapi kau tak tahu sayang
Pikirmu kau yang menyakitiku
Bukan bukan kamu sayang
S'lalu ku bilang
Aku tak sebaik kau pikir
Tak pernah ku nantikan kamu
Ku cinta kamu bukan berarti Ku tak mendua
Sayang kau nilai aku salah

Lagu: Potret - Salah

Menunggu Hal Indah

“Aku menyukai puisimu.”

Komentarku pada sebuah blog yang berisikan puisi puisi indah dan postingan yang bercerita tentang kehidupan. Daniel, sejak berkenalan dengannya melalui blogwalking, aku menjadi kecanduan menulis suatu tulisan yang bisa dikatakan puisi. Terlebih saat kita bisa saling berbalas puisi.

Aku menyukai malam, saat yang tepat menuliskan kegalauan, menumpahkan semua perasaan yang terselimuti oleh ambigunya sebuah puisi, apalagi hanya pada saat malam tiba aku dan Daniel bertukar cerita dengan mengindahkan kata.

“apa aku mulai jatuh cinta padanya?” pikirku

***

Aku membenci malam seperti bagaimana aku membencinya yang tak ada saat ku rindukan. Dinding dinding dan lelangit kamar semakin membutakanku, bagaimana bisa sebuah benda mati mewujudkan bayanganmu dengan seburat senyum manis kepadaku. Kata orang ini adalah rindu, sebuah rasa indah pelengkap dari suatu hubungan.

“Ah ini sungguh menyiksa, aku merindukanmu, Daniel.”

***

Dua, tiga, dan kini empat minggu berlalu tanpa kabar dari Daniel, pun mimpi buruk selalu menghantui. Dan aku hanya mencoba memejamkan mata dan mengatur napas saat semua pikiran negatif muncul setidaknya ada perasaan lega walau sesaat getir menghampiri. Antara memilih untuk menunggu Daniel atau melanjutkan kembali langkahku, masa depanku, tanpa Daniel.

Setahun berlalu

Hari-hari ku lalui, tanpa Daniel tentunya. Menjalani hidup dengan kesendirian pun sudah terbiasa, sebenarnya ada dan tiada cinta bagiku itu bukan satu alasan untuk hidup, hanya ada sesuatu yang hilang dari diriku, entahlah. Aku yang sejak kecil tanpa orang tua, hidup di panti asuhan bersama anak-anak lain yang bernasib sama. Setidaknya aku pernah mempunyai cinta, bersama Daniel

Melalui Daniel aku belajar banyak hal. Seperti sekarang ini, aku memilih untuk menunggunya. Aku yakin suatu hari Daniel akan kembali. Kembali menuliskan puisi untukku.

“Maaf mbak, waktunya terapis”, suara wanita berbaju putih membuyarkan lamunanku

Ku hantarkan Daniel dengan kursi rodanya ke ruang terapis. Ya, Daniel lumpuh total sejak kecelakaaan 11 bulan lalu, dan beruntunglah matanya masih berfungsi walaupun kesemua inderanya butuh beberapa kali terapi kembali. Namun hingga kini kemajuannya sangat lambat, pun fisiknya semakin melemah.

Jumat, 14 Oktober 2011

#15 Quotes

Kita masih dibiarkan Tuhan untuk samasama bermain petak umpet, bukan aku yang bersembunyi lalu kamu mencari, tetapi kita samasama bersembunyi, samasama ingin mencari lalu Tuhan akan menyudahi permainan kita--aku dan kamu, jodohku--dengan mempertemukan kita di tempat penjagaan yang dinamakan 'tangan Tuhan'.
-@whynae (Mirna "Nae")

Harusnya saya dan kamu itu bersyukur, mendapat pekerjaan lalu membuatmu sibuk seharian namun diawal bulan berikutnya dapat imbalannya. Karena di luar sana masih banyak orang membawa map pergi lalu masuk ke beberapa tempat dan keluar tempat itu dengan sebuah harapan.
 -@whynae (Mirna "Nae")

Setiap orang punya kesempatan kedua. Mungkin kesempatanku padamu tidak untuk waktu dekat ini, melainkan setelah kita saling memperbaiki diri.
 -@whynae (Mirna "Nae")

#15HariMenulisBlog
#quotes

Rabu, 12 Oktober 2011

#13-Semalam

Lagi-lagi malam ini saya sendirian di rumah. Sudah 2 hari Ayah dan Ibu tak ada kabar setelah pamit pergi ke Sukabumi. Mereka pergi setelah mendapat kabar dari Om Adi bahwa nenek sedang sakit keras. Nenek tinggal bersama Om Adi, satu-satunya adik dari Ibu. Nenek yang dijaga oleh Om Adi tidak mau pindah ke rumah tinggal bersama Ayah, Ibu dan saya. Katanya tidak mau merepotkan Ibu dan Ayah serta banyak kenangan di kampung tersebut yang membuat nenek enggan pindah ke rumah kami.

Sudah 2 hari Ayah dan Ibu tidak ada kabar, saya khawatir. Terakhir saya mendapat telepon bahwa mereka baik-baik saja dan nenek pun sudah membaik. Ayah dan Ibu berhasil membujuk Nenek dan Om Adi untuk tinggal bersama, di rumah ini. Mereka akan kembali 3 hari kemudian, yang berarti besok.

Namun sekarang aku khawatir, ‘mengapa mereka tidak ada kabar?’, ‘Apa karena telepon genggam ini tak lagi berfungsi atau sebaliknya?’,‘apa di sana tak ada sinyal?’, ‘apa karena mau memberi kejutan?’ Semenjak semalam tak ada satu pun sms dan telepon yang masuk.

Semalam saat sebelum saya tertidur pulas semua baik-baik saja. Hanya kini entah kenapa di sini sedikit beraroma gosong. Sialnya malam ini listrik di rumah mati. Saya tidak bisa melihat apa-apa, termasuk badan saya sendiri. Orang-orang di sekitar rumah pun tumben tidak ramai seperti semalam. Sepertinya semalam ada kejadian karena saat tidur saya sayup mendengar mereka berbicara. Entah apa yang mereka bicarakan, “ketabrakan..” atau “kebakaran..” entahlah tidur saya terlalu pulas untuk mendengar itu. Dan saya masih khawatir menunggu hari esok. Semoga besok membaik.


tema#13 Rumah
#15HariMenulisBlog

Rabu, 05 Oktober 2011

#6 Taman Kanak-kanak Saat Itu

Matahari memerah, aku masih melihat sekitar. Berharap ada yang kembali berulang saat itu. Meraih tiap bayanganbayangan yang tersisa pada suatu tempat, tempat yang menjadi kenangan aku dan--pun seharusnya--dia.

Di tempat ini beberapa terlihat banyak perubahan--tentunya--setelah 20 tahun berlalu saat aku pernah bersekolah di sini. Ayunan yang hanya muat untuk satu orang dengan tempat duduknya terbuat dari kayu dan pinggirannya dari rantai besi sebagai pegangangan itu memang sudah tergantikan dengan ayunan yang--mungkin akan--lebih kuat. Lebih kuat saat membiarkan kita berdua bermain-main disini, tidak ada lagi aku yang mendorong, kamu yang naik, tapi kita seiring berada dalam satu ayunan.

Aku dan dia di taman kanak-kanak ini. Mengingat lalu mencoba memunculkan secara visual, dia dengan pedang plastiknya mengusir teman-teman yang lain untuk memberikan aku tempat bermain di papan seluncur (perosotan) itu. "Awas-awas, tuan putri ingin main," Katanya dengan gagah saat itu. Beberapa anak yang lain menyurakinya dan beberapa lainya lagi keheranan. Lalu dia menungguku di bawah.

Aku ingat kejadian saat kamu berlari menghampiriku dengan celana dan kaos kakinya penuh dengan--entah tumbuhan apa itu namanya, mungkin semacam--ilalang, sambil berkata, "ini bunga untuk kamu, aku ambil tadi di belakang sekolah." Dia langsung berlari lagi menuju teman-temannya. Atau kejadian saat dia selalu ingin bermain seperti mama papa, aku jadi mama dan dia menjadi papa hidup bahagia.

Namun semua berubah di hidup aku dan dia dua tahun lalu, tak ada lagi ayunan yang muat untuk dua orang, kembali lagi pada "aku yang dorong, kamu yang naik." Dia lebih memilih untuk mendorongku untuk membuatku melambung lalu jatuh tersungkur.
Dia tidak lagi memegang pedang plastik dan menunggu ku di bawah untuk membiarkan ku meluncur dengan aman. Tapi dia membawa sebuah senjata tajam yang mampu melukai perasaan, dia tidak lagi menungguku di bawah, melainkan di atas untuk mendorongku dan menancamkan luka.

Dia tidak lagi si pemberi bunga, tapi dia si pemberi luka. Dan tak ada lagi permainan mama dan papa, itu memang hanya permainan baginya mempermainkan aku ketika sudah 18 tahun kita menjalin hubungan namun dia lebih memilih menikahi Intan, selingkuhannya yang juga sahabatku, anak baru di Taman kanak-kanak pada pertengahan tahun saat itu.

Selasa, 04 Oktober 2011

#5 Seandainya

Sudah satu bulan Elang dan Delfi tidak bertemu, dan 3 minggu tidak juga berkomunikasi. Entahlah cinta dengan cara menggantung telah Elang pilih. Elang tak pernah menghubungi Delfi maupun menerima telepon dari Delfi bahkan sekedar membalas sms dari Delfi pun seperti tak ingin.

Elang dan Delfi sudah menjalin hubungan berpacaran hampir tiga perempat tahun namun kesan yang dirasa cukuplah mendalam. Pasangan ini romantis, jarak bukan lagi penghalang, tak pernah ada perselisihan, saling pengertian, saling percaya bahkan di saat terakhir pertemuan Delfi dan Elang pun semua baik-baik saja tapi entah mengapa akhir-akhir ini Elang sulit sekali dihubungi. Delfi si tipe penyabar dan setia hanya terus saja berusaha mencoba menghubungi Elang, tidak pernah terbesit untuk mencari pelarian.


"Apa aku coba gunakan nomer lain sajalah untuk menghubungi dia ya?" Gumam Delfi dalam hati, sambil menekan tombol genggamnya dengan hati-hati. Nada sambung pun terdengar, tidak lama terdengar suara yang tak asing yang selalu dirindukan

"Hallo..", DEG jantung Delfi terasa cepat berdetak, ada rasa panas di wajah, suara yang dirindukan.

"Elang?"

"Iya, ini siapa ya?"

"Ini aku Delfi." Dengan nada kecewa.

"Oh iya, kamu pakai nomer siapa?"

"Nomer baru, habisnya kamu gak bisa dihubungin terus sih, aku kangen kamu, aku sayang kamu Elang", Delfi mencoba menahan tekanan rasa rindu yang ingin keluar dari tangisan.

"Oh, aku juga." Jawab Elang singkat.

"Juga apa?" Tanya Delfi menggoda manja, mencoba menutupi rasa sedihnya.

"Perlu ya diomongin?" jawabnya dingin,

"Ya aku kan pengen denger dari kamu, kan udah lama gak denger kalimat itu dari kamu."

"Udah ya aku gak enak sama temen-temen ku." Ada rasa sesak di dada yang menyabar Delfi saat mendengar ucapan-ucapan dari Elang. Elang pun langsung menutup teleponnya tanpa pamit terlebih dahulu. Delfi sekali lagi hanya bisa menangis dan memilih tidur cepat.

***
"Ardy, kamu tau gak kenapa Elang kok berubah akhir-akhir ini."

Pesan singkat untuk Ardy, sahabat Elang sejak SMP. Satu jam Delfi menunggu balasan Ardy namun telepon genggamnya tak pernah berbunyi. Dua jam, empat jam, sepuluh jam, dan hingga keesokan harinya pun Delfi belum mendapat balasan dari Ardy.

*Drrr Drrr* telepon genggam Delfi bergetar.

"Gue gak tau Del, kemarin sih kita ngumpul-ngumpul tapi dia gak cerita apa-apa." Balas Ardy. "Oh gitu ya, thanks ya di." Bathin Delfi pun berkecamuk, rasanya ingin sekali terbang ke tempat Elang berada, seandainya jarak Bandung-Jakarta itu bisa di tempuh beberapa menit, seandainya aku tahu rumah Elang, gumam Delfi.

***
Keesokan malamnya, Delfi terus saja mencoba hubungi Elang. Setelah 2 jam berlalu, akhirnya suara di ujung telepon sana menyapa,

"Hallo."

"Akhirnya kamu angkat juga, sayang. Kemarin-kemarin kenapa gak diangkat? Kamu apa kabar?"

"Hmm baik, tapi hubungan kita tidak membaik." Deg, ada perasaan tidak enak menghampiri saat Delfi mendengar kalimat dari Elang, 'oh Tuhan semoga hubungan ini membaik.' Bathinnya.

"Yaudah kita omongin baik-baik aja dulu, selesaikan berdua, cari jalan tengahnya." Jawab Delfi dengan tenang menutupi kegelisahannya.

"Maaf banget, maaf maaf banget. Aku ingin kita selesai aja sampai sini." Seketika Delfi tidak bisa membendung tangisnya namun tetap berusaha tenang.

"Kenapa? Kenapa kita gak bisa omongin baik-baik dulu."

"Gak bisa, aku udah pikirin ini matang-matang, dan jalan tengahnya memang harus seperti ini." Dengan tetap tenang pula Elang menjawab.

"Tapi kenapa kamu gak libatkan aku untuk berpikir di dalamnya." Timpah Delfi.

"Maaf, aku gak bisa ceritakan apa masalah sebenarnya. Sekali lagi maaf ya, ini demi kamu. Dan aku salut dengan kesabaranmu yang telah aku sakiti namun tak pernah kamu marah padaku." Delfi hanya terdiam.

"Kamu baik-baik ya tanpa aku ke depannya. sekali lagi maaf. Selamat malam." Tiba-tiba telepon pun terputus. Dan Delfi berusaha menghubunginya lagi namun nomer telepon Elang sudah tidak aktif.

Setiap hari Delfi mencoba menghubungi Elang, berharap mendengar suara yang selalu dirindukannya. Dan berharap pula ada keajaiban menghampiri hubungan mereka. Tapi sepertinya usahanya sia-sia. Elang sudah hilang, teman-temannya pun menghilang. Dan tak terasa hampir dua tahun sudah Delfi lewati tanpa Elang.

***
Suatu hari di sudut kota Bandung. Elang yang duduk memandangi hujan dari balik jendela sedangkan di tangan kanannya memegang suatu foto,

"Seandainya dulu, orang tua kita tak saling mengenal. Seandainya orang tua kita tidak saling bermusuhan, seandainya orang tuamu tidak mengancam keluargaku, seandainya kios tempat orang tuaku mencari nafkah tidak dirusak oleh orang-orang suruhan orang tuamu, seandainya saja itu tidak pernah terjadi mungkin kita adalah pasangan yang berbahagia sejak dulu. Aku sangat mencintaimu, Delfi." Dan tetesan-tetesan luka dari mata Elang pun jatuh membasahi foto sepasang kekasih dengan senyum sangat bahagia itu.

Senin, 03 Oktober 2011

#4 Stalking Timeline

"Ketika status berubah menjadi seorang mantan pacar dari seorang pria/wanita. Maka stalking timeline sang mantan akan menjadi suatu hobi hingga sesuatu hal yang menghentikan kamu".

Saya dan dia adalah pecinta kata, merajut aksara menjadi sesuatu yang bisa dikatakan indah. Memenuhi timeline tiap malam hanya untuk saling berbalas kata. Layaknya seperti Zarry dan Rahne, kita memang selalu berbalas-balas puisi di blog ku atau blognya.

Twitter, dulu dia tak mengenal twitter hingga saya ajak dia untuk bermain-main disana. Awalnya saya yang bermain #kode dengan teman saya dan dia ikut nimbrung. Dan kita pun berbalas kata ya bisa dibilang sajak. Hmm seandainya bisa saya tuliskan beberapa sajaknya dulu.

Saya dan dia sempat merasakan cinta 5 bulan cukup memberi kesan yang mendalam dibanding saya yang pernah menjalin kisah 3 tahun. Entah apa sebabnya ia memilih untuk berjalan sendiri-sendiri, setelah janji dan keyakinan dia ucap.

Satu hari setelah kita putus, ia mengganti password facebook-nya. Dan saya tidak bisa mengetahui dengan siapa ia dekat dan apa balasan untuk wall-wall temannya terutama ada seorang wanita--sepertinya adik kelasnya--yang selalu mengirim kata-kata yang tidak layak disebut teman. Dan hal itu membuat saya tidak bisa berhenti memantaunya di timeline twitternya maupun di facebooknya.

Seminggu setelah putus, dia unfollow akun twitter saya. Saya tanya kenapa, tapi sayang tak ada balasan. Rasanya di-unfollow mantan itu seperti diputuskan 2 kali. Entah kenapa penyakit sesak di dada kembali menghampiri. Lalu beberapa hari setelah itu, ia menghapus semua tweet-nya. Dan sebegitukah buruknya kenangan saya dengan dia?

Sedih rasanya melihat ia bisa becanda, saling membalas tweet teman-temannya di timeline, dan saya hanyalah seorang mantan. Lalu 2 bulan setelah kita berpisah saya putuskan untuk me-unfollow-nya. Tapi hal tersebut belum juga menghilangkan hobi saya untuk stalking di timeline-nya.

Suatu hari setelah kesibukan saya menghentikan saya sesaat untuk memantau timeline-nya. Hingga suatu hari saya mencoba untuk mengetahui kabarnya melalui timeline-nya, tiba-tiba dada kembali sesak saat membaca tulisan,

"Dia memang bukan siapa-siapa sekarang, tapi lihat nanti dia akan jadi ibu dari anak-anak saya. #lol udah malem tidur dulu."

Oke, sepertinya dia sudah cepat move on lalu bertemu seseorang. Dia ingin bahagia bukan ingin dipantau terus menerus. Dan saya seharusnya ada untuk--hanya--berada di suatu tempat yang bernama kenangan. Walaupun janji-janjinya dan keyakinan dia tentang hubungan ini sudah--pernah--terucap, "aku yakin kamu jodohku, dan akan ku buat kamu merasa yakin pula", "aku tidak akan jenuh dengan hubungan ini, tidak akan," dan aku ingat kata-kata terakhirnya setelah putus, "maafkan aku, mungkin 2 atau 4 tahun lagi kita bertemu dengan rasa yang sama seperti dulu, Tuhan yang punya rencana."

Seseorang yang memutuskan itu lebih siap dibanding yang diputuskan, dan terkadang seseorang yang diputuskan masih saja menunggu adanya harapan.

Minggu, 02 Oktober 2011

#3 Senja Di Suatu Hari

Di sebuah senja, aku duduk di sebuah bangku taman kayu dengan dikelilingi pohon cemara dan pinus. Melamun atau membaca buku di keheningan adalah kesukaanku sambil menikmati angin berbaukan pinus yang seakan saling berbisik. Namun kenikmatan ku ini terusik oleh sesosok pria misterius di arah jam 2. Siapa dia? Karena selama aku berkunjung di taman ini tak pernah ku temui seseorang lagi selain aku dan burung-burung saling bersautan.

Pria itu memakai kaos berkerah berwarna putih dan bercelana pendek coklat muda sedang asik melihat sekitar nampaknya. Sesekali ia duduk beralaskan rumput-rumput. Rasa penasaranku pun menjadi. Ingin ku hampiri sekedar berkenalan atau berbagi keindahan di sini tapi aku takut mengganggunya.


Dan tiba-tiba ia melihatku lalu tersenyum, entah kenapa pria itu membuat jantungku hendak loncat untuk keluar--untung aku pegang dadaku. Jarak kita berdua itu sekitar 10 meteran dan makin berkurang saat ia mulai mendekat.

"Hai, sudah lama di sini?" tanyanya sambil tersenyum. Dan aku masih terpaku menatapnya. Pria itu dilihat lama-lama makin menarik dengan kacamata berbingkai hitam. Suaranya pun membuat tenang.

"Hallo?" Pria itu menyapaku lagi, membuyarkan lamunanku.

"Eh, iya udah lama", jawabku terbata-bata.

"Perkenalkan namaku Langit", pria itu mengulurkan tangannya sambil tersenyum. Aku langsung menaruh bukuku langsung menjabat tangannya.

"Hmm namaku Luna", jawabku. "Silahkan duduk, kamu dari mana?", lanjutku sambil mempersilahkannya duduk disampingku sambil menyembunyikan jantungku yang berdebar-debar.

"Aku dari tadi", jawabnya singkat dan lagi-lagi senyumnya itu loh.

"Ah kamu bisa saja"

"Aku serius, aku dari tadi bahkan dari dulu menunggumu. Menunggu untuk dipertemukan denganmu, menunggu kamu move on dari masa lalumu", jawabnya dengan nada bicara yang entah mengapa membuatku tenang. Dan aku hanya terdiam bingung.

"Aku yang disiapkan Tuhan untukmu. Aku jodohmu", lanjutnya dan aku merasa menelan ludah pun berat sekarang.

"Hah? Jodohku? Dari mana kamu tahu aku ini jodohmu?", tanyaku heran tapi ada rasa melambung.

"Dari keyakinanku, jadi tidak perlu kamu tanya lagi alasan keyakinan dari mana hingga aku tahu kamu jodohku. Karena seperti kita meyakini adanya Tuhan", aku yang masih diam kebingungan mendengar penjelasan singkatnya.

"Jadi apa kabarmu, dungde?", tanyanya manja sambil mencubit hidungku yang memang agak besar. Dan jantungku yang kembali berdetak kencang.

"Hmm aku baik-baik saja", jawabku terbata-bata sambil memegang hidungku--takut posisinya berubah.

Dia mampu mencairkan suasana yang membuat kita pun cepat sekali akrab, kita membicarakan segala hal, becanda, dan saat ia mencoba menggendongku lalu tiba-tiba *GUBRAK*

Aku terjatuh dan mengusap-usap pantatku yang kesakitan. Namun tak ku dapati pria bernama Langit itu di depanku, hanya seorang perempuan yang wajahnya tidak asing sedang tertawa puas.

"Hahaha.. Luna tidur kamu lincah banget sih, sampai bisa jatuh gitu. Mimpi apa lagi?" tanya Deby teman kost-ku yang tak henti-hentinya menertawai aku.

"Ah sial cuma mimpi, tapi kenapa begitu nyata", gumamku dalam hati.

"Kenapa lagi kamu?", timpahnya lagi sambil menahan ketawa.

"Gak apa-apa, rese ah.. udah jangan ngetawain aku mulu", kulihat jam dinding menunjukan pukul 6 pagi, saatnya ku siap-siap berangkat kuliah--sembari masih linglung antara merasa masih mimpi atau kenyataan.

Ku sambar handukku yang menggantung dekat kasurku, sambil tak henti-hentinya memikirkan arti mimpiku.

"Seandainya itu kenyataan", keluhku lagi dalam hati. Berjalan pelan menuju kamar mandi, membayangkan wajah pria itu lagi.

"Ah tapi bagaimana kalau itu benar? Bagaimana kalau pria itu memang jodohku? Duh kenapa waktu di mimpi itu tidak kutanyakan nomer teleponnya atau alamat rumahnya", pikirku yang masih termangu di depan pintu kamar mandi.

Sabtu, 01 Oktober 2011

#2 - Aku Ini Siapanya Dia?

Mendapat ajakan malam minggu, hari itu tanggal 23 Januari 2011. Seorang pria yang baru ku kenal 2 bulan di dunia per-blog-an, komentator setia pada postingan blogku. Kaos berkerah biru tertutup jaket tebal dengan motor matic putihnya tiba di rumahku. Ada wangi yang sampai sekarang ku rindukan. Ada senyum manis di balik helm putihnya.

"Masuk dulu yuk, minum aja, aku mau siap-siap dulu. Bentar ya" ucapku. Dia hanya tersenyum. Ah senyum yang hingga sekarang gak bisa aku lupakan.

Malam minggu ini kita pergi nonton di daeerah Serpong. Tentang pendakian dan pembunuhan. Ya aku pikir dia pasti suka, karna dia suka mendaki. Tapi filmnya malah membuatku takut hingga entah sengaja tidak sengaja--karna dorongan hati memegang pergelangan tangannya.

"Maaf." Ujarku, karna takut dia berpikir macam-macam.

Namun kenyataannya aku melalukan itu lagi, tapi dia malah menurunkan pegangan tanganku menuju genggamannya. Jantung bedebar semakin kencang, mungkin dia merasa, tangan ini berkeringat. Entah dengannya, dia mengusap tanganku dengan ibu jarinya. Ah malam yang tak pernah terduga.

Selesai nonton aku dan dia jalan-jalan dulu, bertukar cerita. Pada waktu itu sedang ada acara imlek. Ya aku diajak untuk melihatnya, tapi jalan dia itu ngebingungin, sesekali seperti ingin ke kanan kadang ke kiri, aku yang disampingnya narikin baju dia kebingungan.

"Iiihh kamu tuh mau kemana?" Tanyaku

"Makanya klo bingung jangan tarikin baju mulu, sini pegang tangan aku." Ucapnya santai dengan tersenyum.

Ya tuhan, mungkin aku seperti anak kecil yang baru seperti itu saja rasanya ingin loncat-loncat kegirangan. Aku yang memegang pergelangan tangannya lalu ia turunkan hingga pada satu genggaman tangan kirinya. Muka memanas, dia hanya tersenyum. Aku dan dia akhirnya memilih tempat duduk, malam yang indah. Aku dan dia berbagi cerita tentang kehidupan dan tangan kita pun masih saja berpautan.

Tidak ingin malam ini berakhir, ku peluk dia dari belakang saat menaiki skuter matic-nya.

"Yah, bentar lagi sampai rumah." Keluhku

"Iya, sabar ya nanti kita ketemu lagi. Aku janji." Hiburnya sambil menggenggam tanganku.

Akhirnya tiba di depan rumah, dia tersenyum berlalu. Perpisahan terjadi dengan rasa penasaran. Aku ini siapa dia ya sekarang?

Jumat, 02 September 2011

"Aku membencimu (dengan cinta); berpikir bagaimana menjatuh(cinta)kan mu."   - Nae
"Kamu selalu mampu menciptakan hal terindah dalam hidupku; pun luka darimu" - Nae (@whynae)

Kamis, 01 September 2011

Semoga Akhir ini Adalah Awal Memulai Hidup Baru

Malam ini pukul 1 dini hari, Bandung semakin dingin. Aku mengambil posisi sudut ruangan rumah nenekku. Ya, dekat stop contact. Sambil mengecharge hp, aku mengetik pada keypad, seperti biasa untuk bercerita. Sunyi, senyap, tempat ku suka untuk merenung. Dimana selalu merasa banyak suara dipikiranku dan menerima, lalu merenungkan.

Cinta, sebuah rasa untuk kamu yang mungkin masih di hati. Anggit, entah kenapa menjadi primadona dipikiranku, padahal sudah saatnya aku berhenti memikirkanmu saat kau telah melakukan terlebih dahulu, melupakanku.

Pernah kamu merasa merindu hingga menangis namun pikiran membuat suatu suara bantahan "untuk apa?". Tapi setidaknya aku ingin menyapamu, tapi sungguh berat, terlebih kamu seseorang yang mengambil ilmu psikolog, pasti tahu tujuan sms ku, aku kangen kamu.

"Hi, apa kabar?"

Sms terkirim. Tak bisa dibohongi saat bagaimana jantung lebih berdetak cepat saat mengirimimu sms sesingkat itu. Ya, dan bodohnya aku. Kebiasaanku yang selalu terbuka denganmu. Kamu menanyakan keadaanku yang sebenarnya aku tahu itu hanya basa basi mencairkan kondisi hati kita.

Semakin panjang smsku, kamu semakin malas untuk membalas. Ya aku terlalu terbuka, denganmu. Kamu menanyakan hidupku, pekerjaanku, anak-anak berkebutuhan khusus, lalu aku akan bercerita tiada henti. Dan 2 hari setelah kita bertukar cerita via sms, aku mengerti. Aku baru sadar sikap ku bercerita panjang lebar tentang segala hal yang berkaitan dengan pertanyaanmu hanya akan membuat kamu berpikir bahwa aku sedang menarik perhatian, menarik simpatimu tentang aku. Bukan, tolong jangan berpikir seperti itu. Aku hanya ingin berbagi, dan mungkin aku tidak tahu tempat.

Kamu tahu, karna tersadarnya aku itu, aku berjanji pada diriku sendiri. Tak kan ada cerita panjang lagi di smsku padamu, atau bahkan tak kan ada lagi sms untukmu. Aku takut kamu berpikir lain. Aku hanya ingin berubah, keluar dari bayang-bayangmu dengan menjadi temanmu. Tapi ternyata cara yang ku pilih salah. Lebih baik aku benar-benar harus menjauh, demi ketenanganmu, demi kebahagianmu, demi kamu.

Semoga tak ada lagi seseorang yang stalking di media sosialmu. Tak kan ada lagi surat seperti ini. Aku harus berhenti ketika waktu untuk kita pada saat itu terhenti. Berhenti berhayal bahwa kamu akan mampu dan sempat untuk membaca ini. Peratap, ya pasti pikirmu bilang seperti itu, seperti yang pernah kamu bilang langsung padaku.

Aku akan mulai hidup baru, bukan dengan sepi, tapi dengan keceriaan dan tawa polos anak-anak di sekolahku. Aku kubur cinta ini, meski sempat ada keyakinan yang kamu tanam di sini, namun hanya waktu yang bisa menjawab semua keraguan. Tuhan punya rencana, berharap kita dewasa.


Selamat tinggal Kenangan.

Senin, 29 Agustus 2011

Surat Untuk Tuhan

Dear Tuhanku
Aku menulis surat ini sebagai tambahan dari doa-doaku yang tidak pernah Engkau bosan untuk mendengarkannya. Tuhan, adalah aku yang terkadang tak menuruti perintahmu, namun selalu menuntut dikabulkannya doa-doaku. Adalah aku yang masih bersedih dan merasa tak adil saat semua cobaan ini adalah untuk kedewasaanku. Maafkan aku Tuhan.
Tuhan, Engkau maha tahu segalanya. Sesungguhnya pasti tahu apa dan mengapa aku ingin bercerita. Aku ingin bercerita tentang sosok malaikat yang Engkau berikan beberapa waktu lalu namun tak begitu lama ada disamping ku. Sosok pria yang selalu membuatku menangis karna bahagia. Tuhan, aku belum pernah bertemu dengan pria yang memperlakukanku selayaknya di dongeng-dongeng romantis, dan aku takut benar-benar takut saat itu, takut tak bisa membalas cintanya dengan sebanding, takut kehilangan cintanya.
Tuhan, masih ingat saat aku selalu menangis di setiap doaku tentang dia sesaat setelah ku bertemu dengan dia, aku takut dia tidak merasakan betapa aku menyayanginya, aku takut mencintai dia dengan cara yang salah. Aku yang terlanjur cuek karna orang-orang di masa laluku yang katanya cinta namun berhari-hari hilang entah kemana, seperti mau tak mau mencintaiku. Tapi dengan dia, matanya, suaranya, aku merasa, cinta. Hingga pada akhirnya dia pergi meninggalkanku, seperti terplanting jauh saat ku terbang dan sangat mencintainya lalu jatuh tersungkur dengan terbentur pada batu beberapa kali. Ya sepertinya perumpaan tersebut terasa berlebihan, tapi memang begitu sakitnya, Tuhan.
Tuhan, aku ingin dia. Oh bukan, aku ingin cintanya, sikapnya, aku mencintainya tanpa alasan dan tak memiliki alasan pula untuk meninggalkannya walaupun aku telah ditinggalkan terlebih dahulu. Ya, cinta membutakan pikiranku. Tuhan, aku tak meminta untuk dia kembali, karna pada akhirnya ini memang takdir yang harus aku lalui, mungkin aku akan bertemu lagi dengannya jika memang dia jodohku, dan mungkin (boleh aku berharap) orang seperti dia atau lebih menjadi orang yang akan ku lengkapi hatinya dan sebaliknya hingga senja nanti.
Tuhan, aku tau semua ini menunjukkan alur hidupku, di mana aku mulai menyukai blog, menyukai puisi lalu bertemu dia. Seperti aku diterima kerja di suatu lembaga bimbingan belajar lalu menemukan seseorang yang mengajakku bekerja di lembaga pendidikan islam yang memakai pendidikan multiple intelligence, sesuai skripsiku. Ya, seperti tersusun rapi Engkau buat. Bertemu anak-anak luar biasa membuatku ingin melanjutkan kuliah tentang psikologi, ya keinginan semenjak SMA namun Engkau ganti dengan mempertemukan ku dengan dia, seorang sarjana psikologi, dia memang malaikat yang Engkau berikan. Seseorang yang mampu berbagi rasa dan pikiran. Terimakasih telah memberikan kebahagiaanku hingga kini Anonim, lukaku adalah bekas kebahagiaan yang tak terkira. Terimakasih Tuhan untuk semua alur hidupku yang indah.

Hambamu.

Sabtu, 27 Agustus 2011

Patah Hati

Siapa yang Pernah Patah Hati? 

hayo hayo ngacung....

Kalo semua orang ditanya seperti ini, pasti pada nunjuk (hehe..) ya mereka pasti pernah mengalami, baik yang pernah pacaran atau belum pernah pacaran. Baik perempuan maupun laki-laki. Sakit, jelas. Yang berbeda hanyalah bagaimana waktu menyembuhkannya.

Mungkin ada perempuan berpikir, "ah cowo mah biasa aja klo patah hati. Beberapa hari kemudian kok bisa ya punya pacar lagi". Anggapan ini salah, mereka sakit, malah ada yang menangis dibawah shower (oke lebay hehe) cuma logika mereka lebih berjalan (semua cewe juga tau kale naa...).  Iya alasan saya disini klise, tapi ada juga loh laki-laki yang bener-bener kalo patah hati ya sakit banget (menurut pengamatan di jesos). Ada yang meluapkan rasa sakitnya di twitter dan fb (tipe extrovert) ada yang hanya dipendam (introvert) dan dilampiaskan dengan cara berbeda, baik positif (ngumpul-ngumpul sama temannya) maupun negatif (bikin strategi ngedukunin). Hehe yang terakhir becanda (eh tapi ada loh kan di berita-berita cewe dibunuh mantan pacarnya).

Kalo cewe yah pada tahu kan.. agak mendramatisir (oke termasuk saya) tapi tenang, gak semua seperti itu (takut dikeroyok oleh kaum sendiri). Ada yang ngeluh-ngeluh n marah-marah di jesos, jadi pengen *puk puk-in satu-satu klo liat status orang-orang di jesos (terlebih fb hehe), ada yang nangis berhari-hari sampe matanya bengkak ngalahin kantung matanya SBY (hehe..), ada yang curhat ke tiap temennya satu-satu yang  ketemu di jalan, dan ada yang bunuh diri (Oke kayanya negatif semua). Ya gak lah.. sama kaya cowo, cewe juga suka mengalihkan rasa sakit karna hatinya yang patah itu dengan jalan-jalan sama temen-temennya, ada yang shoping, sampai nyalon.

Sakit karena hatinya patah itu wajar. Yang namanya patah emang sakit, patah kaki, patah tulang, sampai vas bunga kesayangan nyokap patah juga bikin sakit, sakit hati di nyokap-nya karna barang kesayangannya dibikin patah juga si yang matahinnya, diomel-omel sama sang nyokap, but i feel something wrong sound words in here (masa vas bunga patah?). Hehe oke itu cuma perumpamaannya aja.

Cara mengatasi rasa sakit bisa berbagai cara, menulis dan membaca salah satunya (anak SD juga bisa kali na..). Beda loh, saat membaca, terlebih buku-buku positif ya jangan baca buku cara-cara menyantet mantan atau gebetan yang nolak kalian. Dalam membaca ada rasa tersupport, merasa "gue gak boleh gini terus" atau malah jadi terinspirasi untuk menulis. Bikin cerpen, puisi, sajak bagus-bagus bisa bikin buku terus diterbitin maka patah hati kita menguntungkan (Boleh lah berhayal positif seperti itu, dengan motivasi yang kuat pasti tercapai). Intinya sih sibukin diri aja, sampai gak da waktu buat mengenang masa lalu. Times will heal you!

"Kalo gak lupa-lupa gimana? Wajar gak sih?", kalo kata psikolog (bentar saya lupa namanya) hmm.. Ratih Ibrahim "wajar seseorang susah melupakan mantan, tinggal kontrol pikiran diri aja, doakan aja si dia (mantan pacar/mantan gebetan) dengan kebaikan, doain juga diri kamu semoga cepat sembuh dari patah hati kamu". Jadi intinya setiap manusia diberikan kekuatan untuk lupa kok, buktinya orang puasa aja kadang suka lupa malah minum (hehe..) atau lebih sering kita sering dilupakan menaruh sesuatu benda hingga kelagapan nyarinya (pas dibutuhin). Jadi kita bisa saja lupa sama kenangan, apa yang perlu diingat? Kan ga dibutuhin, kalopun masih mengingat berarti itu keinginan. Ya kaya si mantan yang udah mutusin, mereka lebih siap mengambil ancang-ancang untuk kehilangan, lebih siap nerima resikonya dibanding yang diputuskan. Mereka (yang diputuskan) merasa "kok bisa?", "Aku gak mau pisah", "Salah aku dimana?" dan lain sebagainya (kalo disebutin satu-satu nanti terasa curcol). Perkara putus sih gampang, toh tinggal bilang "KITA PUTUS", yang jadi masalahnya itu hari-hari setelah itu. (Aw aw aw, terasa sekali curcolnya)

Tuhan mempertemukan kamu dan dia itu udah termasuk jodoh dan sudah direncanakan, berapa lamanya hingga pisah itu namanya takdir. Itu semua memang sudah ada jalannya dari Tuhan, dan rencana Tuhan yang lebih indah sedang menunggumu di depan atau bahkan sedang disekitar kamu, saya percaya itu (kamu juga harus). Intinya Tuhan sedang dan selalu mengajarkan manusia tentang ilmu kedewasaan, ikhlas, dan sebagainya demi menaikan satu tingkat menuju kebaikan. Dan juga mengingatkan semua itu milik Tuhan, manusia berusaha Tuhan yang berkehendak. Hanya Tuhan yang mampu memutar balikan perasaan manusia. Kamu mencintai dia (mantan pacar/mantan gebetan) itu kan karna kuasa Tuhan. Manusia meminta, Tuhan yang memberi sesuai kebutuhan, malah suka dilebihkan maka bersyukurlah. :D 



pindahan dari blog ini

Rabu, 17 Agustus 2011

Saya dan Kamu.

Saya dan kamu dalam satu kota,
layaknya seperti orang asing tak bertegur sapa.

Saya dan kamu berada dibawah langit yang sama.
Menyusuri malam, berbeda arah, bertuan rembulan.
Berharap dipertemukan karna bumi itu bulat.

Saya dan kamu punya hati.
Berharap abadi.
Namun ternyata mati.

Saya dan kamu membiarkan ini terjadi,
melepas diri masing-masing.
Agar tak ada lagi saling menyakiti.
Oleh rindu yang tak pernah berakhir.

Pada akhirnya, saya dan kamu menikmati kesendirian.
Berharap tak ada lagi sakit.
Ternyata rindu makin menjangkit.

00.12
Tangerang. 16 Agustus 2011

Senin, 15 Agustus 2011

Untitle

Minggu, 31 Juli 2011

Hanya Kamu

Hanya Kamu

Sekuat aku berkata “aku sudah biasa tanpamu”
Sekuat itu juga kepiluan dalam hati.
Pura-pura senyum ku pancarkan..
Seperti kepura-puraan dalam getir aku berkata “Aku bahagia”
Ya kasih, kulakukan hanya karna itu adalah inginmu

Kamu bawa hatiku menetap nyaman disana
Karna entah mungkin sebabnya aku masih ingin mencintaimu
Bukan sesuatu yang lain, sesuatu yang sama denganmu
Tapi aku ingin bersamamu, kasih.

Ya, mungkin aku akan bertemu sosok sempurna sepertimu
Sosok yang mendewasakan aku
Membuat ku nyaman
Membuatku merasa yang amat istimewa
Waktu dapat memaksa kami begitu dekat
Hingga suatu ketika aku tersadar
Dia bukan kau.

Maka mungkin ia baik menawarkan hatinya
Lalu bagaimana dengan aku?
Apa yang bisa ku beri?
Bila hatiku berada padamu

Maka tetap seperti ini
Kembali sendiri
Aku yang begini

Maaf kasih jika terasa aku keras kepala,
Sudah ku coba berlari jauh menghindar dari bayangmu
Selelah bagaimana ternyata aku menyadari
Aku hanya berlari berputar  mengelilingimu

Lalu menurutmu, apa yang mungkin terjadi?
Selain mencintaimu dan terus mencintaimu.

00:10
Tangerang,  100/2 hari tanpamu


Minggu, 24 Juli 2011

Dear Anonim

Dear Anonim,
Apa kabarmu, tampan? Aku akhirnya memutuskan untuk menulis surat ini untukmu. Entahlah, aku selalu merasa kau pasti membaca suratku suatu hari nanti saat kamu teringat denganku, meskipun aku tak begitu yakin apakah ada sisa-sisa bayangan yang menjadi kenangan di hidupmu. Ah, sudahlah.. rasanya seperti mengharap, dan itu hal yang kamu tidak mau terjadi padaku, bukan? Tapi apa bila tak boleh mengharap, masih bolehkah aku mencintaimu dalam diam? Ya pasti diam pula lah jawabanmu.
Anonim sayang,
Saat aku menulis surat ini, aku baru saja pulang ngajar. Hmm.. tubuhku terasa letih, semacam mau rontok, dan sedang batuk pula tapi ini tak menyurutkan niatku untuk menulis sepucuk surat cinta untukmu, lelakiku. Masih kudapatkan kebahagiaan disini, ya murid-murid yang lucu plus cerdas, salah satu kebahagian selain darimu. Oh ya, anonim.. kamu tak perlu khawatir, karena sebelum menulis surat ini, aku sudah makan malam dengan capcay, makanan kesukaanmu dan bukan makanan yang pernah ku makan sebelum bertemu denganmu tapi setelah betemu denganmu yang pernah memaksaku untuk makan sayur dan menyuapiku entah aku jadi suka dengan capcay. Aku juga sudah  meminum obat batuk, jadi kau tak perlu merasa tak didengar lagi, seperti yang mungkin kau rasa dulu.
Mbul..
Beberapa hari ini, aku putar kembali rekaman-rekaman suara obrolan kita ditelepon, kebiasaan yang tak pernah aku lakukan pada yang lain selain kamu, entah kamu selalu membuatku merasa rindu setiap detik. Aku ingat, saat kamu menyanyikan lagu lalu aku goda untuk menyanyi lagi, tapi kamu enggan. Aku terus mengulang-ulang, bagian ketika aku bernyanyi keras dengan suaraku yang tak ramah lingkungan dan mirip kaleng rombeng dan cempreng menurutmu, lalu kau pun tertawa, betapa hal yang amat manis bagiku sayang. Dan aku teringat tingkah konyolku salah membuka pintu suatu tempat perbelanjaan saat kita hendak berkaraoke bersama teman-temanmu, namun semua kekonyolanku itu, cukup untuk membuatmu tertawa terpingkal-pingkal. Aku terus membayangkan dengan seksama rekaman ingatan itu, bagaimana lekuk tawamu mengalun, semacam harmoni yang memberikan energi, semua itu sekejap saja membuatku tertegun tanpa sepatah kata, dan tak berapa lama, kusadari mataku sudah berkabut. Aku sungguh merindukanmu, mbul..
Kau tahu, Mbul?  Aku selalu bergelut dengan rindu yang tak berkesudahan. Hal yang selalu tumbuh subur dan bersemi di dalam jiwaku, tapi sejujurnya, aku ternyata cukup bahagia dengan semua itu, Aku hanya bisa memperhatikanmu dari kejauhan, melihat senyumanmu pada lukisan manis kamu dengan teman-temanmu, ku lihat pula beberapa jejak cantik mencoba menggodamu, aku berharap kamu bahagia, karna ini inginmu, jalanmu, menjauh dariku, entah apa yang kamu pikirkan saat itu. Ah sudahlah.. pasti kamu tak akan suka jika ku bahas ini.
Anonimku yang gembul..
Entah mengapa aku selalu berdebar setiap melihat namamu di mana kamu punya akun sosial media, bahkan di surat ini. Belum lagi arsir wajahmu, yang seakan sudah membatu di kepalaku. Terkadang aku benci akan pagi, yang selalu memaksaku untuk membiarkanmu bangun siang. Katamu dulu ingin aku yang pertama kamu dengar saat terbangun dari mimpi-mimpi pengindah malammu. Masihkah kamu terbangun pada siang hari? Hayo sekali-kali untuk bangun pagi dan solat subuh. Jangan lupa untuk beribadah ya sayang, berdoalah agar kamu temukan kembali hati yang nyaman untuk kamu tempati, bila hingga suatu saat nanti entah itu kapan, tidak juga kamu temukan, tenang kasih,  aku masih di sini, menunggumu dengan senyuman dan hati tanpa luka yang sudah ku lupakan.  
Sejujurnya kasih, aku lebih suka malam, saat aku bisa sejenak terpejam, dan kembali menemukanmu disana. Kau muncul seperti jantung cahaya, yang berkilauan di atas samudera tenang tanpa gelombang. Ah, sebenarnya aku tak yakin dimana aku sedang hidup saat ini, yang aku tahu, saat ini aku sedang berada pada satu titik, dimana semua terlihat samar-samar, dan satu-satunya yang terlihat jelas adalah kau.
mbulku sayang,
Sebelum tidur, aku ingin mengecup keningmu lewat surat ini. Seperti saat terakhir kamu kecup keningku sebelum ku tahu itu adalah untuk terakhir kalinya. Ayo, sekarang pejamkan matamu sebentar saja, karena aku akan tiba disana memelukmu erat. Selamat malam sayang, selamat tidur lelakiku, aku akan terus menghitung setiap detik yang berkurang, sampai (mungkin) Tuhan ingin mempertemukan kita kembali.
Mantanmu,
Nae
*happy sixth month, i always love u, anggit pras and always do (if we aren't break)

*terinspirasi oleh @muhadkly

Senin, 11 Juli 2011

11 Juni to 11 Juli 2011

Dear anonim,

Apa kabar kamu sayang? Sedang mempersiapkan untuk sidang? Baguslah tetap semangat untukmu, aku yakin kamu selalu begitu, tersenyum menatap kehidupanmu. Walau terkadang kamu tidak bisa menyembunyikan segala rasa yang ada di hati dan benakmu dalam air mukamu.

Mbul ku sayang,

Tahukah kamu tanggal berapa ini? Ya mungkin kamu tak ingat, ini tanggal dimana aku tak kan melupakannya kejadian sebulan lalu, sebuah keputusan di mana hanya kamu dan Tuhan yang tahu alasannya, mengakhiri perasaan kita. Bagaimana kehidupanmu setelah hari itu? Bahagiakah kamu? Aku berharap seperti itu, bagaimana hatimu? Melihat beberapa kali kamu mengganti foto di akun socialmu atau jadi aktif di akun socialmu, seperti ada sepi di sana, seperti ada bimbang di sana. Tapi sepertinya kamu mendapatkan yang baru setelah ku baca kalimatmu untuk temanmu yang sedang mengalami “bad day” lalu kamu bilang “makanya pacaran dong biar good day” aku tersenyum, beruntunglah perempuan itu yang memenangkan hatimu.

Anonim,

Sepertinya kamu memang tak mau melihat aku, seperti kebohongan saat teringat obrolan kita sebulan lalu ketika kamu bilang “aku harap kita bisa berteman.” Ya memang klise ya bila kenyataannya kamu malah mengindar :)
Jadi apa kabar hari ini?
Semoga baik-baik saja ya sayang dengan hati yang kamu simpan di sana. Salam untuknya. Tolong bilang kalau kamu tuh suka hmm.. ah ga jadi deh, lebih baik dia jadi diri sendiri, jangan kaya aku yang berusaha jadi apa yang kamu mau, menebak-nebak lalu bingung karna tak jadi diri sendiri saat mencintaimu, dan segala upaya yg ku coba pun ternyata tak membuatmu bertambah cinta entah kenapa menjadi berkurang. “Hanya kamu dan Tuhan lah yang tau mengapa kita harus berpisah.”

Selamat malam..
Semoga keangkuhanmu tidak menyertaimu

Mantanmu
Nae

Sabtu, 02 Juli 2011

Untitle

Hmm.. udah 2 minggu aku ga posting, sebenernya sih udah nulis buat diposting di blog tapi ga da pulsa buat ngepostinginnya hehe... :p

pengen cerita beberapa hari dalam kegalauan, masih nyesek banget dan ga sengaja baca komen2 tmen si mantan yang katanya mantan lagi sibuk kencan huft... sepertinya dugaan orang-orang yang tak ingin aku dengar itu benar deh. Dia mang punya prinsip ga mau selingkuh tapi bisa aja kan di ga pengen selingkuh, makanya dia putusin aku trus lanjut pedekate ma yang lain. hmm padahal sudah terbentuk keyakinan disini.. *nunjuk dada *yang ada didalem maksudnya hehe..

ah tapi kan ga gitu juga sih, sampe saat ini ko aku masih percaya2 aja ya sama dia, walau temen pada bilang
"udah nae.. jangan ngarep lagi."
hmm ngarep ga ya? iya sih dikit tapi udah ga gitu juga.. "yakin?" *entah suara dari mana*
hehe..
mengenang manisnya dengan dia itu ga da habisnya, walau dibilang pacaran yang paling bentar hehe...
hebatnya bikin berkesan, semoga aku cepat2 move on deh... doakan.. :p

aku ini nanti pagi tuh harus ke nikahan temen eh malah belum tidur...
Bobo dulu ah...
mimpikan aku ya anonim.. hihi...

Sabtu, 18 Juni 2011

(500) Days Of ....

Hari kelima dalam menulis dan tujuh hari tanpa dia


Kamu pernah nonton (500) Days Of Summer? Kadang terpikir ku masukan kisah ku ke sana dan yap cocok.. tapi apakah harus menunggu 500 hari untuk move on? Atau 500 hari menunggu untuk seseorang yang baru? Who knows? Tom hansen dan Summer.. ya Mirna dan Anggit.. tom yg hmm istilahnya mungkin diputuskan atau menghilangkan suatu intensitas kali ya sama summer pada hari 200an aku lupa, sedangkan aku hari ke 211 diputuskan setelah kedekatan kita dimulai dari tanggal 12 November 2010 dan berakhir 11 Juni 2011... hmm sedih nontonnya jadi inget masa-masa sama dia.. ga bisa nangis, mungkin pikiran ngontrol hati dan mata untuk tidak nangis hanya karna seorang anggit.. atau karna tiba2 ada kecoa masuk kamar dan kelabang yg maen petak umpet dan pura2 mati hhehe aneh tp ini beneran... makin ga bisa tidur dah...

Awal yg biasa aja tapi semakin intens dan intens jadi tumbuh rasa itu, saat tiba2 kita pegangan tangan tanpa status. Mungkin dia biasa seperti itu jadi saat meninggalkan aku tuh ga ada rasa sakit atau gimana gitu, hingga akhirnya makin lama makin berubah ga respect, ya persis summer. Ah terlalu sakit untuk dikenang lagi..

Terakhir jalan dengan dia, baru nunggu film yg mau diputar udah sempet dijutekin gara2 minta tolong jangan cuekin aku, sedangkan dia asik maen game di hp barunya. Lalu dimatikan hp’a dan langsung nodong pertanyaan, “kamu mau crita apa? Tuh aku dah brenti” dengan muka yg kaya kesel ke aku. Di bioskop pun kita diem2an, di tempat makan juga begitu, dia asik nonton band Audy yg saat itu sedang tampil, dan dia juga ga sadar klo yg disampingnya sedang nangis, brusaha menahan dan tetap senyum. Hanya bisa menatap dia, pura2 fotoin dia, padahal aku cari perhatian dia. Sudah jarang sms, ga pernah telp, ga pernah bilang sayang.. Harusnya aku sadar dari situ, siapin matras untuk hati aku yg pasti jatuh, bukan untuk jatuh cinta.

Semua brubah ga semanis dulu, aku ga mau nyalahin siapa-siapa disini, bukan keadaan, bukan dia, bukan aku, bukan takdir. Ini masalah keyakinan seseorang yg bisa saja brubah.

Lebih baik tak boleh peduli lagi sama dia, tahan diri untuk menengok2 isi FB-nya. Lebih baik tidak mencari tau  dari pada di hari ke 300an aku menemukan dia sudah milik orang lain. Iya dengan seorang temannya mungkin yang akan dijodoh2in ke dia atau apalah.. keyakinan dia yg bicara.

Aku kembali menonton film (500) days of Summer itu biar aku sadar untuk tidak menunggunya, tidak berusaha hingga stress untuk kembali. Aku pernah putus, tapi tak pernah sesakit ini, anggit beda, anggit istimewa. Ya persis yg diomongin Tom pada adiknya saat disuruh melupakan Summer.

Ingin segera bertemu ujung hari ku tanpa dengan bayang2 anggit, siapa tau setelah ku bertemu anggit yg telah membuat ku banggkit dulu dan suatu saat nanti akan ketemu seorang bernama “Angga” (*alah ngarang hehe), biar nanti ku panggil “bang” lalu ku gabungkan dan bicara padanya bahwa “aku punya kamu” lalu hasilnya menjadi “bang ga, aku punya kamu” (bangga aku punya kamu..) ambigu kan hehe..

Waktu menunjukkan pukul 01:25, apa besok aku akan menulis tentang pemulihan lagi? Entahlah klo ku pikir aku lebih banyak mengingat masa2 dlu, skit sendiri, sedang dia sudah tak pernah lirik aku disini.. untuk berbicara atau sms saja sudah pasti tak mau, apalagi bertemu atau mampir ke blog ku J

Met tidur semua.. Met tidur anggit..
Mimpi indah ya..

Jumat, 17 Juni 2011

Ternyata Belum Terkuatkan

Hari ke empat
Dan enam hari tanpa dia..

Hari ini dini hari tepatnya pukul 01:19, kamu tau apa yg aku rasa saat itu? Hmm antara hampa banget plus campur aduk gara2 mantan. Pengen cari kegiatan yg lebih berguna. Seperti terbesit ingin kuliah lagi. Pendidikan yg dari dulu aku pengen, psikologi. Dulu ortu ga ngijinin,, mereka mikir nanti kerjanya apa? Mending ambil keguruan, setidaknya bisa ngajar les sebelum dapet kerja yg tetap. Aku ngambil pendidikan matematika dengan IPK pas-pasan tapi memuaskan, slama kuliah aku tetap coba baca2 buku ttg psikologi yg ada di perpus, amp judul skripsiku ya nyerempet ke psikologi dan alhamdulillah dapet pujian karna baru pertama kali penelitian ini dilakukan di kampus aku. Mantan orang psikologi, entah Tuhan Maha Adil dimana aku ingin belajar tentang psikologi, Dia kirimkan seorang anggit, kita tukar pandangan dari yg na tau hingga dia yg melengkapi, tapi perlahan diskusi itu mulai jarang karna kesibukan dia yg udah ga da waktu buat sms ato telp. Aku ingat dulu aku senang sekali punya dia, karna aku merasa terlengkapi, apa yang aku mau ada di dia.

Ko sekarang malah jadi sedih ya.. entah karna ada foto ku bersama dia satu2’a di FB itu dihapus. Lalu melihat ada seseorang yang akrab dgn dia minta ksh kabar klo udah smp bekasi... lalu dia balas, ni baru sampe. ohhh ancur bgt aku, dia dl susah bgt balas sms apalagi wall aku. Oh bolehkah aku berpikir dia putus dengan ku karna ada “yg lain”? aku tau ga da guna aku cemburu, aku bukan siapa2. Pertahanan ku masih belum kuat ternyata. Kangen bgt sama dia, kangeeeeen banget... dimana aku bisa tertawa, chat smp pagi, ngobrol yg ga brenti2, tapi aku harus kubur semua itu. Aku ga harap semua kembali seperti aku bisa balik lagi sama dia, aku ga mau menggantungkan asa terlalu tinggi, aku tau dia mungkin udah pny gebetan baru, seperti gampangnya dia lupain aku. Seperti dia bisa bosan dengan aku. Aku ga mau memaksakan hati ko.. mungkin seperti ini jalannya, dari pada dia jalani hubungan sama aku karna kasian, jadi sama2 ga nyaman. Lebih baik pisah dan mencari kebahagiaan masing-masing. Tapi aku ga nyangka banget dia bener2 total brubah, 5 bulan itu ga da artinya, ga da kesan, apa yg kita lalui itu bener2 ga da apa2nya sepertinya. Dia ga tanya kabar, ga balas sms aku. Padahal katanya aku ga salah, tp ko disini malah aku yg didiemin. Aku tau mungkin cara dia begini biar aku ga berharap sm dia, tau tapi pengen akrab kaya dl, becanda2 lg ky dl, ah sudahlah mungkin dia kaya nununu nurbayati (loh knp dia lagi?he..) yg kena amnesia jd lupa deh semua...

Sudahlah ga da cara untuk jd temannya mungkin. Allah maha pengasih dan maha penyayang, dikala aku sedih karna pisah dengan orang yg aku sayang ada saja yg dapat menghiburku. Ya aku ketrima di bimbel tempat aku kmrn melamar, tapi diminta resign ditempat yg dulu, hmm gmn ya klo honornya setimpal sih gpp hehe.. aku tadi baca ini..
Jadilah layaknya sehelai bulu yang terbang ke mana pun Allah Ta'ala kehendaki.Yang ke mana pun Allah Ta'ala kehendaki jatuhnya,niscaya ia tidak akan merasa sakit ataupun sedih.Jangan pernah merasa sedih atas ujian yang Allah Ta'ala berikan kepadamu.Jangan pernah menyalahkan siapapun atas segala sesuatu yang menjadikanmu sedih dan berduka.Sebab pada hakikatnya, Allah Ta'ala sedang mengujimu melalui orang lain...

"Dan Kami jadikan sebahagian kamu cobaan bagi sebahagian yang lain. Maukah kamu bersabar? Dan adalah Tuhanmu maha Melihat." (QS. Al Furqaan: 20)

ngerasa ke sentil dan makin mendekatkan kembali aja dengan segala yang mempunyai kuasa pada alam ini, Tuhan yang mampu memutar balikan pikiran manusia, dari cinta ke benci atau sebaliknya. 
Wallahualam bishawab

Aku janji, ga mau buka FB-nya lagi, tralu sakit, ga usah dicek, doakan saja smoga masalah2 beratnya terlalui, smoga bukan masalah dia tertarik wanita lain  yg membuat aku dan dia putus. Klo iya smoga dia ga kena karma, bukan berarti aku ngedoain jelek, ga, ga sama sekali, tiap doaku slalu kuselipkan “smoga dia dpt yg terbaik dan menjadi orang yg lbih baik lagi” sudah 6 hari aku doakan begitu.

Aku mau mulai update status lagi d FB dan pasang muka ceria lagi, bkan ingin bilang aku ditinggal kamu baik2 aja, tapi klo aku mau nunjukin aku sudah kembali, kembali untuk bisa dia ajak bicara, siap berteman, siap berbalas puisi tanpa menyelipkan rasa, kita bisa berdiskusi lagi bukan? Tentang psikologi, tentang bagaimana menghadapi orang-orang, bagaimana cara mendidik anak, apa nama2 kelainan sifat pada manusia. Aku semangat sekali berbicara tentang itu semua tapi dengan melihat mukanya yg semangat bukan jutek abis. J

Aku sayang dia sebagai mantan aku karna allah..
Mendoakan dia yang terbaik di hadapan Tuhan dan orang-orang sekitarnya
Bukan seseorang yg ingin aku miliki lagi, aku ingin melihatnya bahagia. Cukup itu, hanya melihat atau mendengar kabar dia dari kejauhan atau dari teman2-nya.

Semoga Bahagia menjadi milikmu selalu, Anggit..
Terimakasih, benar2 trimakasih untuk semuannya yg berkesan

Kamis, 16 Juni 2011

Mengenang

Hari ketiga..
Dan lima hari tanpa dia..

Sudah terbiasa, bangun tidur walau masih keinget tapi ga sesedih dulu. Hmm liat foto2’a aja dah kuat.. ga mewek2 lagi.. jadi bolehkan ku simpan ftomu wahai mantan? Hehe :p
Mau bahas apa ya di cerita pemulihan hati kali ini, coz kayanya hatinya dah pulih ni.. tapi untuk cari pacar lagi hmm.. udah deh ga usah nyuruh-nyuruh aku cari pacar lagi, kamu bukan charly ST 12. *loh? :p

Kita mengenang lagi, apa aku masih kuat untuk ga nangis, klo kuat brarti hebat :p
Oke di tes, siang ini aku makan yg biasa klo kita lbh srg makan, ayam goreng merk *** keingetan sih wktu romantisnya dia suirin kulit ayamnya buat aku (cewe dikasih kulit ayam crispy itu ngrasa istimewa loh, tnya beberapa cewe lain :p) apa lagi klo pk disuapin beuh... jadi inget lagi waktu makan sate ayam, jujur ga begitu suka tapi pas disuapin n dipaksa dia untuk makan tuh beda ya... hehe...

Hmm banyak hal yg dia lakuin buat aku yg ga bs aku lupa, tapi mang harus dilupain, inget tiba2 dia nggelitikin aku wktu aku srius nonton d bioskop, entah ada yg beda, entah terasa ada yg takut aku mendiam.. ah kamu mantan terindah
*backsond kahitna-mantan terindah* *alah..

Semoga aku mendapat pria yg manis n romantisnya lebih dari kamu ya mantanku, atau sama kamu aja? (eeeaaa teuteub...*pk U n B) hihihihi... ah memandang lurus kedepan, melihat sudut pandang yg berbeda dr istilah pisah atau putus. Jangan tralu berlarut meratap lah... *ini aku lagi nasihatin aku sendiri kayanya hehe...*

Kebanyakan cengengesannya deh, pantesan pernah diomelin mantan gara2 lg dinasihatin dia aku malah cengengesan, jd marah deh dia bikin status “sepertinya saya tak pernah di dengar...” *jeng jeng* katanya c dia Cuma png nulis status gt aja ah tp masa?? :p

Apa ya? Harus diubah ya? Biz tralu srius jg kan kaku, aku orangnya terlalu santai n cuek sama pasangan (mungkin kebiasaan dulu) smp takut dia ga ngerasa syg aku ke dia, akhirnya aku kirimin kata2 yg hmm aku bnr2 luapin apa yg aku rasa, smp aku baca sendiri jg terharu. Dan saat dia baca, katanya dia speechless, dia makin sayang aku. Hihihi.. seneng... Ah tapi sekarang dah ga seneng ah, bis dia udah ga sayang ma aku *bahasanya kaya ABG bgt ya? :p*

Hmm mantanku mantanku... kenapa kmu bisa brubah gitu, padahal aku dah siapin kejutan buat kmu yg ga sempet aku ksh pas ultah kmu.. *sigh* sempet ngecek kaskusnya, dia pengen jam, aku lgsg buat kaskus jg, nunggu gajian tuh buat mesen jam yg dia mau, eh keduluan dia dah beli, sebelumnya mau ngasih video sm scrapbook ttg dia, teman, keluarga dan kita (hahh kitaaaa??? Hehe...) karna dia sk masuk angin aku mau bliin dia vest, kembali mengumpulkan uang, pralatan buat bkin scrapbook udah dcicil dr 2 bln pcaran m dia, skrg dah lengkap, tgl nempel2in, vest tinggal bli ke cempaka mas, eh dia ngajak putus. Jadi apa kabar ini semua? *uhuk* aku simpen aja deh.. klo kata tmnnya sih mending dikasih aja, tapi ga ah, tkut dia makin benci ma aku, disangka aku masih ngarep, dia kan ga suka aku ngarep lg ke dia. Lagian dia buat apa? Toh udah ga da rasa lagi, yg ada malah dibuang, mending disimpen aja ma aku buat di kenang *alah*

Lost cantact, ya putus mang rus didinginin dl masing2, tapi bisa ga ya temenan n becandaan lag ky dl sebelum jadian *berpikir keras* tapi apa dia punya WIL ya? Bis kata temen2 “parah amat bru mau jln 5 bulan dah jenuh, ah mgkin pny gebetan yg lain itu mah.” Aku sih Cuma senyum aja, aku percaya dia ga kan begitu, karna dia percaya ada karma.


Hmm skrg sih aku masih bisa tenang dan ga sedih lagi liat fto dia, sms dia (sedikit, entah knp aku ga mau hapus), facebook dia, tapi mungkin bakal sedih banget klo dgr rekaman suara dia wkt telp2an (blm dhapus), ato video kiriman dia ato dalam beberapa minggu ato krg dari 6 bln dia dah pasang foto dia sama pacar barunya.. *loh katanya dah ikhlas??* iya udah ikhlas tapi tetep aja sedih, ah tapi aku ga boleh mikir gt ah, yg penting dia kan bahagia.. tapi aku pikir dia bahagia tanpa aku coz ngeliat senyumnya itu bebas :D tapi aga sedih sih liat fto trakhirnya itu smbil megang hp trus, trus ada yg smbil telponan.. ah pasti bakal calon pacar slanjutnya *lah trus kenapa? Nethink mulu dah, biarin aja lagi bukan pacar lagi*


*ini yg nulis ngedumel sendiri, tapi jawab sendiri*
#tepokjidat *jidatnya nunun nurbayati biar ga amnesia lagi
*loh?

Rabu, 15 Juni 2011

Aku Kuat!!

Hari kedua..
tapi hari keempat tanpanya..

AKU KUAT!!! AKU KUAT!!!
Menyemangati hati saat bangun tidur pagi ini.. orang sekitarku yang sudah aga hawatir dengan keadaanku juga terus mengingatkan, “jodoh ga kan kemana, masih banyak anggit diluar sana yang lebih pantas buat kamu”, ga tau knp karna cinta atau apalah, aku mulai merasa nyaman, ada hal yang beda dengannya. Tawa dia, senyumnya, tatapannya, tutur katanya, menenangkan.. aku ingin dengannya, nyaman walau aku harus perang bathin kala dia makin lama makin cuek, muka jutek, omongan nyelekit, kaya ga mau bicara dengan aku pdhl aku dah ngelucu tapi dia hanya diam (garing beud dah..). Tapi pada saat itu aku percaya dia sayang dengan ku (lagi-lagi...). Saat menonton film Humming, aku pernah takut dia akan jadi sosok pria yang jenuh dengan pacarnya, muka jutek, males ngomong, males ketemu, “apa kamu akan jenuh sm aku? Apa yg akan kmu lakukan ktika jenuh mehadangmu?” tanya ku dlm sms. “aku ga kan lakukan apa2... karna aku tak kan jenuh denganmu, aku sayang kamu hingga nanti. Kita akan bertahan.” Huh... siapa yg ga sedih dan seneng dibilang begitu, tapi kenyataannya berbeda sekarang. 5 bln penuh kenangan.. pangeran berkuda putih yang menolongku saat terpuruk berubah menjadi seorang yang mendorongku ke jurang.

Karma? Percaya dengan karma? “Life is drama and always have karma..” hehe kata-kata kesukaanku. Sebenernya bukan karma ya, tapi istilahnya, kau yang menuai, kau juga yang kan memanennya.. (bnr ga tuh istilah... :p) ah tapi aku mah ga mau ngedoain yang buruk untuk mantan2ku, ya walau mreka ada yg bilang menyesal atau apalah dan minta balikan lagi.. aku berdoa semoga mreka mndapat orang yg pantas, yg layak mreka cintai atau jadikan dia orang yg lebih baik lagi untuk aku (tetep hehe..) atau untuk pasangannya kelak, agar tak ada istilah “kamu terlalu baik buat aku”

Dalam hari kedua ini aku cukup tenang dibanding kemarin, smoga begitu terus, ingin kembali pada mirna yang ceria, mnganggap dunia terlalu indah untuk dilewati dengan keluh kesah. “Bagaimana mau dapat pengganti yg lbh baik dari anggit klo hidupmu saja masih terkurung di masa lalu” entah kalimat itu aku simpulkan dari kalimat yang aku dapat dari seorang motivator (kembali)
“Mengapakah engkau memilih hidup bernafas dalam kesedihan, dan mengulur-ulur penyesalan atas kesalahan masa lalumu? ...Mengapakah engkau memilih untuk hidup di masa lalu, saat semua orang hidup di masa kini? Apakah engkau bisa mengubah yang sudah terjadi dengan menjadikan dirimu peratap yang tak menarik bagi belahan jiwa yang dimuliakan Tuhan? Sudahlah, hiduplah sepenuhnya hari ini.Gembirakanlah dirimu.” (Mario Teguh)

Sudahlah, aku tak boleh jd peratap lagi, tapi apa masih ada ya yg mau sama aku hehe.. pasti mantanku tak suka aku berpikir seperti itu. Mungkin aku tak bisa dgn dia seperti dulu, tapi aku mau dia melihatku bahagia, agar tak ada rasa bersalah dihatinya karna telah membuat aku terpuruk (semoga saja bgitu..). aku juga mau membiarkannya bebas dan bahagia diluar sana, dengan pasangan pilihannya yang bisa ia cinta sampai tua nanti. Tak ingin meratap dan memintanya untuk kembali, AKU IKHLAS AKU IKHLAS.. Tuhan punya misteri, Tuhan punya rencana yang terbaik untuk kita. Amien...
“Jika sulit bagimu untuk berbahagia dalam cintamu terhadapnya, ikhlaskanlah hatimu untuk melepaskan dan membebaskannya....Jika dia kembali dalam kebaikan kepadamu, maka dia adalah pendamping jiwamu yang berhak bagi pemanjaan dan pemuliaan darimu.Tapi,jika dia kembali dengan membawa kebiasaan bernafas jelaga dan berkumur air nila, maka akan lebih indah bagimu jika engkau memelihara kemuliaan dirimu.” (Mario Teguh)