Pagi itu saya terbangun dengan wajah memerah. Semalam saya mendapatkan mimpi indah. Di dalam mimpinya ada seorang pria—entah siapa—menyatakan perasaannya. Tapi saya jawab "nanti dulu, beri saya waktu". Sombong sekali saya ini. Namun penolakan saya ini bukan tidak beralasan karena hari ini saya akan bertemu pria yang saya memang dari dahulu ingin saya temui dalam dunia nyata. Siapa tahu dia ingin menyatakan perasaannya juga—tolong bangunkan saya dari hayalan ini.
Pria ini saya kenal di jejaring sosial facebook, kita berteman sejak Mei 2009. Tak ada yang menarik dari pertemanan kita. Layaknya teman facebook dan saya pun baru mengenal facebook. Jadi setiap orang yang add saya dan tampan—maklum saja 2009 saya masih ababil—langsung saya konfirm. Tapi hanya sebatas itu, tidak bertegur sapa. Dia hanya mengucap terimakasih dan kita menjalani kehidupan masing-masing di dunia facebook.
Saya memang suka mengintip facebooknya, melihat fotonya—tidak apa bukan mensyukuri dan memuji ciptaan Tuhan? Saya sadari saat itu memang masih genit, hehehe. Dan keadaan berubah saat dia menyapa saya di message FB.
"Mirna Ermawati." Pesannya
"Ya Ilan" *bukan nama sebenarnya :p
Lalu setelah kejadian itu dia pun mengajak saya beberapa kali chat, bergurau dan mengobrol hal-hal tidak penting. Saya ingat dia punya julukan untuk saya "ih na SERING deh"—Seru tapi garing.. Kejadian tersebut tepatnya terjadi pada tahun Agustus 2010. Dari situ kita mulai akrab, chat via YM, telepon dan webcam via YM—saat itu belum tau skype.
Ya mungkin karna terlalu intens suatu interaksi itu berakibat buruk pada hati, Hehe. Ya saya mulai suka, tapi langsung hancur karena dia baru saja "jadian" dengan seorang wanita manis keturunan arab. Yah "pedekate-nya sama siapa, jadiannya sama siapa". Memang sih jika dibandingkan dengan saya itu ya gak terlalu jauhlah. Ah tapi setiap orang punya kekurangan dan kelebihan.
Semenjak dia punya pacar, sedikit demi sedikit menarik diri. Terlebih saat dia selalu balas mention saya via DM di twitter. Ya katanya gak enak kalau pacarnya melihat. Ya sudah kalau begitu, dari situ saya gak kontak-kontakan, akhir Oktober 2010. Awal 2011 saya punya pacar dan dia baru putus, itu pun baru saya tau akhir-akhir ini.
Kini, kita menyambung silahturahmi. Dari saya yang entah ingin menyapanya. Lalu dia pun mengajak ketemuan, bukan di mall, di jalan atau suatu tempat tapi di rumah saya. Tidak dengan kendaraan umum tapi motor. Rumah saya dan tempat tinggalnya bisa dikatakan jauh. Dengan motor, waktu yang diperlukan itu sekitar 2.5 jam.
Ya, ada tamu dari jauh itu harus menyiapkan diri agar dia tidak kecewa, Hah XD. Dan dia pun datang dengan motor Revo hitam, berjaket hitam, bermata coklat lalu tersenyum. "Salaman dulu na" usai memarkirkan motornya.
Kaku, saya kaku. Saya yang biasanya aktif, bawel dan lebay tiba-tiba salting. Kalaupun saya sempat memendam rasa itu serasa terpanggil kembali. Senyumnya, cara bicaranya, walau terkesan baku—ya saya maklumi karena pekerjaan dia yang merangkap sebagai wartawan sekaligus manager marketing—tapi saya tetap terpesona dan meleleh.
Dia tiba pukul 3 sore. Berapa menit kemudian adzan. Dan kamu tahu dia langsung menanyakan kamar mandi. Oke, ini saya sedang bermimpi? Dulu saat pertama kenal dia, dia sempat mengatakan "buat apa solat? Kenapa harus solat." Sepertinya saya belum banyak mengenal dia. Atau memang banyak yang terlewatkan di sini.
Setelah dia solat dan saya masih salting, dia menanyakan ke saya,
"kamu lagi gak solat na?" Dan saya pun terbata-bata menjawab.
"Hmm.. uhm tadi kan ilan solat dulu, jadi gantian. Tadinya na mau solat bareng sama ilan, di imami oleh ilan, siapa tahu bisa jadi imam hidup na, seterusnya." Oke saya nyepiknya ini garing banget karena responnya hanya senyum—serasa ingin gali lubang karena malu *duh
Sebenarnya lebih banyak diam sih, obrolan ya standar-standar. Kerjaan, sosial media, agama, politik *serius*, kenaikan harga bbm, kehidupan dia, kuliah dia dulu, aktivitas sebagai GEMSOS. Pokoknya random dan begitulah. Saya senang melihat tatapan matanya yang antusias mendengarkan cerita saya namun saya agak kurang suka melihat seseorang menguap, itu kan salah satu kegiatan merasa bosan.
Hal saya ingat adalah,
"Saya sudah putus akhir 2010, dan hingga sekarang masih nyaman dengan keadaan seperti ini. Karena memilih untuk menjalani suatu hubungan itu tidak boleh asal, ada hati yang harus dijaga agar tak tersakiti atau tak sengaja tersakiti. Lagi pula pacaran banyak sekali tuntutannya sedangkan saya juga banyak tuntutan dari pekerjaan saya."
Jadi pada intinya dia belum mau pacaran *ngangguk-ngangguk. Lalu dia pun berkata lagi, kata-kata yang akan saya ingat,
"Dalam sosmed orang-orang menjadi memiliki banyak kepribadian, termasuk saya. Berbicara tentang masalah yang menarik perhatian followers dan pertemanan memudahkan saya mempromosikan media informasi online."
Dan siapa yang sedang berbicara dengan saya? Hmm pukul 17.45, ada yang mau pamit pulang. Cerita ini akan segera berakhir. Dia memakai sepatunya di teras rumah lalu saya berkata,
"Ada yang ketinggalan gak?"
"Gak ada kayanya." Sambil mengecek tiap saku di jaketnya.
"Yakin? Kayanya ada deh, hati aku ketinggalan di kamu." Oke ini saya garing banget karena lagi-lagi dengan datarnya dan senyumnya yang melelehkan saya itu hanya menjawab.
"Iya he." *tepok jidat, saya kaku, saya salting dan kamu datar. Pertemuan yang tidak mengesankan, tapi saya tetap terpesona :p
Yah setelah dia pulang melewati malam bersama mamah dan beliau pun berkata,
"Jadi, dia nembak kamu?" Saya yang mendengar itu langsung tertawa
"Ya gak lah mah, dia hanya anggap na teman."
"Lalu, menurutmu dia naksir kamu?"
"Hmm... Enggak hehe." Pertanyaan yang jleb.
"Yah sayang, padahal keliatannya dia baik banget, sopan, menjaga waktu solatnya, dan ganteng pula."
"Hah.. bukan jodohnya kali mah, mungkin ada yang lebih baik di luar sana." Menenangkan diri.
"Emangnya kamu udah lebih baik dari dia?" Tuh kan jleb lagi. Dan saya hanya bisa diam
Setelah 2 jam dari dia pulang, saya memberanikan diri untuk sms dia sekedar menanyakan apakah sudah sampai dan sudahkah makan. Sebelunya saya ini deg-degan banget karena saya bukan tipe perempuan sms duluan jika ada perasaan ke pria. Jawabannya baik tapi selalu singkat, 2 kali berbalas dan sms terakhirnya hanya mengirimkan 3 huruf "sip"
Tidak ada sesuatu hal positif merujuk ke arah sana sepertinya, bukan menyerah dan tidak mau berjuang hanya saja saya bukan seorang tipe perempuan aktif dalam pedekate, saya tidak cukup pengalaman dalam hal ini. Dan kini saya harus mengalah pada pria yang menyatakan cintanya semalam dalam mimpi tentunya. Ya mimpi, jadi tolong jangan bangunkan hingga jodoh saya benar-benar datang.
Tangerang, 11 Maret 2012
Dalam kebimbangan antara harus senang atau sedih.
******************************************************************************
Tangerang 25 Maret 2012
Berteman akrab dari 2010 namun sempat lost contact dan bertemu lagi 2012 and still FRIEND, saya mention-mentionan dengan dia hingga sekarang, saling balas gombalan tapi ya tetep datar. Sekarang sih gak berharap lebih—biar terlihat tegar aja sih—but Oke I'm stuck in FRIENDZONE
Ini ceritaku, apa ceritamu?
Minggu, 25 Maret 2012
Rabu, 07 Maret 2012
Suatu kisah sebelum meniup lilin
Kamu ingat pertemuan yang (tidak) romantis kita? Kita bertemu depan Tiang bendera, hukuman karena telat datang ke sekolah. Saya mengeluh kepanasan tapi kamu mengulurkan tangan mengajak berkenalan. Saat itu wajahmu yang coklat dengan bulir-bulir keringat yang memasang senyuman menawan membuat saya tak pernah bisa tidur. Sejak saat itu sepertinya saya jatuh cinta padamu.
Saya senang bersekolah di tempat kita bertemu. SMA yang cukup terkenal pada saat itu karena selalu memanggil band ternama setiap pensinya. Kamu ingat pensi terakhir di kelas 3? Yang menjadi kencan pertama saya dan kamu. Kita menonton band kesukaan kita, lalu vokalis band tersebut melempar topi yang dia pakai lengkap dengan tanda tangannya. Kamu menangkapnya, untuk saya.
Dan apakah kamu masih ingat? Seorang kolektor topi yang menginginkan topi itu, sangat. Dia berani membayar hingga 10 juta. Kita menganggapnya tidak waras karena berani membayar dengan harga tersebut saat kita terus saja menolaknya.
Saya bahagia bertemu kamu, mencintai kamu dan dicintai kamu. Kamu bukan seorang biasa, kamu luar biasa. Pintar dalam membuat notasi lagu untuk saya dan menyanyikan dengan sepenuh hati diantara lilin di suatu kafe itu. Suaramu yang mampu mengalahkan kaleng-kaleng kosong di jalanan tetap bisa meluluhkan hati saya.
Jiwa petualangmu kamu tularkan pada saya. Kita pernah mendaki bersama, melihat kawanan capung dan kupu-kupu menari indah diantara kita, serta melihat apa itu Eldewaise secara langsung dengan jumlah yang banyak. Meskipun aku hampir terjatuh dan terseok-seok namun sesampainya di puncak gunung memang ada kepuasan tersendiri. Melihat matahari terbit secara dekat, kabut, gumpalan awan yang seperti gumpalan gulali berwarna putih. Kamu memeluk erat saya dari belakang, kamu bilang
"kamu liatkan? Betapa saya menyukai pendakian ini. Ada suatu kepuasan tersendiri. Melihat dari atas lebih indah karena ada beberapa hal yang tidak bisa kamu lihat dari bawah maka dengan melihat dari atas ada sesuatu hal yang menambah, menambah wawasan baru, menambah rasa sayang saya ke kamu." Saya hanya tersenyum lalu mendaratkan ciuman hangat di pipimu.
2 bulan kemudian kamu mengajak saya melakukan hal ekstrem lagi. "Apa? Terjun payung?", Saya belum pernah melakukannya, hanya saja sejak kecil saya selalu membeli permainan terjun payung, dimana mainan ini terbuat dari plastik belanjaan yang pinggirannya diberi beberapa lubang untuk mengikatkan tali dan si penerjunnya adalah miniatur seorang tentara yang terbuat dari plastik yang digemari saat itu.
Akhirnya kita melakukan terjun payung bersama. Pendaratan kita berdua pun tak kan pernah terlupakan. Kamu ingat bagaimana kita mendarat? Ya, kita mendarat di kolam renang, 1 km dari pendaratan sebenarnya. Lucu ya, kita basah-basahan dan kesulitan bernapas karena parasut menutupi kita yang hendak mengambil oksigen. Malunya kejadian tersebut dimuat dalam surat kabar.
Karena kejadian pendaratan memalukan itu, ada seseorang yang menghampiri kita memberi kartu nama, katanya jika ingin berlatih menjadi penerjun payung yang baik silahkan datang ke tempat latihannya. Kita hanya saling tatap lalu memberi senyuman kepada si pemberi kartu nama.
Hari ini hari spesial saya, kamu paling tahu bagaimana membahagiakan saya. Ada saja kejutan untuk ulang tahun saya. Walau saya tidak yakin, tapi ucapan ulang tahun darimu pun cukup berarti. Meskipun kita sudah tak bersama lagi. Setidaknya kamu tidak lupa saya yang pernah kamu sayangi dan menyayangi kamu.
Oke, sudah 3 jam saya duduk sendiri dalam kafe ini. Hanya ditemani cake dengan lilin seadanya. Mungkin saya harus segera menyalakan lilin dihadapan saya ini lalu meniupkannya. Sebelumnya saya memejamkan mata membuat beberapa pengharapan dan doa-doa. Kamu tidak perlu tahu apa itu. Intinya terbaik untuk saya dan kamu. Untuk kebahagian saya dan kamu.
***
Tulisan diatas adalah hasil tantangan menulis huruf kecil
Tulisan yang mengembangkan 10 frase (cetak tebal) menjadi sebuah karangan.
Senangnya bisa menyelesaikan tantangan ini setelah sekian lama tidak menulis fiksi. Memang harus dipancing :D
Saya senang bersekolah di tempat kita bertemu. SMA yang cukup terkenal pada saat itu karena selalu memanggil band ternama setiap pensinya. Kamu ingat pensi terakhir di kelas 3? Yang menjadi kencan pertama saya dan kamu. Kita menonton band kesukaan kita, lalu vokalis band tersebut melempar topi yang dia pakai lengkap dengan tanda tangannya. Kamu menangkapnya, untuk saya.
Dan apakah kamu masih ingat? Seorang kolektor topi yang menginginkan topi itu, sangat. Dia berani membayar hingga 10 juta. Kita menganggapnya tidak waras karena berani membayar dengan harga tersebut saat kita terus saja menolaknya.
Saya bahagia bertemu kamu, mencintai kamu dan dicintai kamu. Kamu bukan seorang biasa, kamu luar biasa. Pintar dalam membuat notasi lagu untuk saya dan menyanyikan dengan sepenuh hati diantara lilin di suatu kafe itu. Suaramu yang mampu mengalahkan kaleng-kaleng kosong di jalanan tetap bisa meluluhkan hati saya.
Jiwa petualangmu kamu tularkan pada saya. Kita pernah mendaki bersama, melihat kawanan capung dan kupu-kupu menari indah diantara kita, serta melihat apa itu Eldewaise secara langsung dengan jumlah yang banyak. Meskipun aku hampir terjatuh dan terseok-seok namun sesampainya di puncak gunung memang ada kepuasan tersendiri. Melihat matahari terbit secara dekat, kabut, gumpalan awan yang seperti gumpalan gulali berwarna putih. Kamu memeluk erat saya dari belakang, kamu bilang
"kamu liatkan? Betapa saya menyukai pendakian ini. Ada suatu kepuasan tersendiri. Melihat dari atas lebih indah karena ada beberapa hal yang tidak bisa kamu lihat dari bawah maka dengan melihat dari atas ada sesuatu hal yang menambah, menambah wawasan baru, menambah rasa sayang saya ke kamu." Saya hanya tersenyum lalu mendaratkan ciuman hangat di pipimu.
2 bulan kemudian kamu mengajak saya melakukan hal ekstrem lagi. "Apa? Terjun payung?", Saya belum pernah melakukannya, hanya saja sejak kecil saya selalu membeli permainan terjun payung, dimana mainan ini terbuat dari plastik belanjaan yang pinggirannya diberi beberapa lubang untuk mengikatkan tali dan si penerjunnya adalah miniatur seorang tentara yang terbuat dari plastik yang digemari saat itu.
Akhirnya kita melakukan terjun payung bersama. Pendaratan kita berdua pun tak kan pernah terlupakan. Kamu ingat bagaimana kita mendarat? Ya, kita mendarat di kolam renang, 1 km dari pendaratan sebenarnya. Lucu ya, kita basah-basahan dan kesulitan bernapas karena parasut menutupi kita yang hendak mengambil oksigen. Malunya kejadian tersebut dimuat dalam surat kabar.
Karena kejadian pendaratan memalukan itu, ada seseorang yang menghampiri kita memberi kartu nama, katanya jika ingin berlatih menjadi penerjun payung yang baik silahkan datang ke tempat latihannya. Kita hanya saling tatap lalu memberi senyuman kepada si pemberi kartu nama.
Hari ini hari spesial saya, kamu paling tahu bagaimana membahagiakan saya. Ada saja kejutan untuk ulang tahun saya. Walau saya tidak yakin, tapi ucapan ulang tahun darimu pun cukup berarti. Meskipun kita sudah tak bersama lagi. Setidaknya kamu tidak lupa saya yang pernah kamu sayangi dan menyayangi kamu.
Oke, sudah 3 jam saya duduk sendiri dalam kafe ini. Hanya ditemani cake dengan lilin seadanya. Mungkin saya harus segera menyalakan lilin dihadapan saya ini lalu meniupkannya. Sebelumnya saya memejamkan mata membuat beberapa pengharapan dan doa-doa. Kamu tidak perlu tahu apa itu. Intinya terbaik untuk saya dan kamu. Untuk kebahagian saya dan kamu.
***
Tulisan diatas adalah hasil tantangan menulis huruf kecil
Tulisan yang mengembangkan 10 frase (cetak tebal) menjadi sebuah karangan.
Senangnya bisa menyelesaikan tantangan ini setelah sekian lama tidak menulis fiksi. Memang harus dipancing :D
Langganan:
Postingan (Atom)