Mereka bilang saya ini “Miss Galau”, katanya karena sering
ngetweet galau. Sebenarnya enggak bermaksud galau juga tapi sedang berlatih
sajak. Ya mau bagaimana lagi udah di jelasin tetap aja mereka ngasih gelar saya
“Miss Galau”. Aslinya emang sering galau juga sih ya kadang karena
ketularan, kadang karena mantan, kadang karena kelamaan ngejomblo juga, eh.
Atau dari hal-hal kecil, ya alhasil jadi penggalau yang konsisten, tukang
khayal, berilusi hingga hati kacau.
Mungkin
saya memang punya bakat galau. Jadi ingat pembicaraan dengan @tuannico, saya
berbicara tentang awan dan langit, lalu saya bilang kalau saya pernah mewarnai
awan dengan warna hitam saat lomba mewarnai tingkat TK di masjid istiqlal.
Kalau kata tuan nico itu saya Keren!! galaunya udah dari kecil. Dan saya
pun—dan mungkin kalian—bertanya, dimana letak galaunya. Menurut tuan nico,
dimana saat anak-anak kecil lebih suka mewarnai awan dengan warna polos atau
biru, maka titik galaunya itu kamu yang beda sendiri, awannya mendung =
galau—jengjeng, dan mungkin ini salah dua saya menjadi penggalau
Plus ada satu cerita lagi, saat saya merasa berbeda mendengar
cerita ibu saya, "Dulu kamu lahir tuh enggak nangis, untung dokternya bisa
buat kamu nangis, kalau gak nangis-nangis juga kamu mungkin sekarang ya gak ada
di sini."
Mendengar hal itu saya merasa keren karna berbeda dengan yang lain, dan
suatu hal yang patut disyukuri dan juga diceritakan—loh? Iya, iya saya
cerita kepada teman-teman saya, bukan hal takjub yang mereka perlihatkan malah
"Ya ampun sejak lahir pun lo udah galau, bayi yang lain nangis, lo
masih bingung mau nangis bagaimana, pantes aja lo mau move on aja masih
bingung."
“HEH!!” Kalian tuh enggak kasian apa ya sama orang-orang jomblo. Udah
sendirian, di-bully, kesepian, tukang khayal, fakir asmara. Kasiani kami wahai
orang-orang di luar sana.
Galau itu artinya bimbangkan? Bingung gimana gitu. Ya jadi wajarlah kami—para
jomblo—bingung mau berbagi sama siapa setiap kegundahan hati.
“Aku berlari ke hutan kemudian dikira orang utan. Aku berlari ke pantai
kemudian tenggelamku. Sepi, sepi dan sendiri aku benci. Hanya dibawah shower
aku bisa menangis.”
Jadi biarkan saja kami menggalau di twitter,
di facebook atau mungkin
agar tak merasa diganggu kami menggalau di Friendster. Sudah biarkan saja, jangan diganggu, jangan. Kecuali
mau jadi sandaran saat dia sedih. Apalagi jadi sandaran hidupnya.
postingan lama di blog saya yang
tak pernah ditengok
24 Juli 2011