Halaman

Rabu, 08 Februari 2012

Dear kamu

Dear Kamu, apa kabar kamu?
Kabarku baik, walau setelah kecelakaan yang membuat tulang jari kelingkingku agak berubah tapi tenang semua baik-baik saja. Aku tidak mau membuatmu cemas lalu menghawatirkanku terlalu hingga kamu mendiam agar aku tersadar bahwa kamu begitu karena mencintaiku.

Dear kamu, hari ini hujan.
Kamu tahu betapa aku menyukai hujan? Entah, hujan selalu membuatku merasa dalam situasi romantis jika aku berada denganmu. Ada pelukan hangat diantara dinginnya hujan, ada obrolan hangat tentang hidup, aku, kamu, kita dan masa depan.

Dear kamu, pangeran dengan scutter matic putih
Hujan dan kamu, kamu tidak takut hujan. Kamu dengan senang hati menjemputku di halte itu, berhenti tepat di depanku lalu tersenyum dengan butiran-butiran air hujan di wajah. Ah, mirip adegan yang menjadi slow motion dalam FTV-FTV.

Dear kamu,
Masihkah kamu selalu pilek tiba-tiba bila dalam ruangan bersuhu rendah? Kini aku selalu membawa tissue, untuk kamu agar saat kita berpergian nanti kamu tidak kehabisan tissue untuk membersihkan wajahmu atau menghambat aliran dalam hidungmu. Jangan lupa pula dengan memakai jacketmu tapi selalu dicuci ya agar jaket tersebut tetap pada fungsinya yaitu melindungi kamu dari penyakit bukan memberimu penyakit.

Kamu, si cuek
Aku tak peduli kamu memakai baju apa untuk bertemu denganku. Kaos belel kuning yang kamu bilang “ini kaos nyaman banget”, tidak merubah kadar sayang aku ke kamu. Kamu ingat kita pernah pergi ke suatu mall dengan kamu hanya memakai kaos hitam dan celana pendek yang bahannya seperti celana bola itu lalu membawa ransel merahku berkeliling mall, makan, nonton, aku tidak peduli orang melihatnya aneh. Sama sekali. Aku hanya ingin membuatmu nyaman pada zonamu. Menjadikan dirimu apa adanya karena aku tahu kamu di luar sana bisa lebih rapi. Aku sayang kamu.

Dear kamu, dengan kemeja dan dasi itu
Aku luluh saat melihatmu dengan kemeja panjang yang digulung lengannya lalu dasi yang melingkar di lehermu. Kamu tampan, sangat tampan. Pergi bekerja dengan semangat, belajar untuk jadi pekerja keras. “Aku seperti ini, agar aku terbiasa ke depannya dengan pekerjaan yang lebih berat lagi,” katamu.

Dear kamu, waktu itu hujan
Kamu tidak bisa datang ke rumahku karena gerimis padahal kamu tidak takut hujan terlebih gerimis bukanlah suatu penghalang besar untuk menyatukan rindu kita. Waktu itu hujan, kamu takut. Tapi aku lebih takut ini adalah awal badai kita. Kita tak bertemu, hingga sekarang tak pernah bertemu lagi. Layaknya orang asing.

Dear kamu, lelaki terbaik.
Aku sedih saat kamu berkata, “kamu terlalu baik untukku.” Karena aku tak akan bicara, “ya, kamu tidak baik untukku.” Walaupun kamu lebih memilih meninggalkan aku tanpa aku tahu alasannya sampai sekarang. Yang aku tahu kamu lelaki terbaik memperlakukanku sangat spesial hingga membekas dalam pikiran sampai sekarang. Kamu pria baik, mencari seseorang yang lebih baik, dan itu bukan aku. Maka janganlah memakai alasan klise “kamu terlalu baik untukku”.

Dear kamu,
Baik-baik ya kamu di sana. Aku selalu mendoakanmu dalam kebaikan. Salam buat ayahmu, atlet bulu tangkis. salam untuk ibumu, instruktur senam yang hebat. Salam juga untuk adikmu yang cantik juga berprestasi seperti kakaknya. Juga pada kucing-kucing blesteranmu itu. Aku menyayangimu juga keluargamu. Semoga kamu mendapat yang lebih baik ya setelah ini. Amieen.

Sampai Jumpa!
Semoga Tuhan merencanakan kita bertemu lagi walau hanya bertegur sapa sebagai teman.