Halaman

Tampilkan postingan dengan label #Lagu Bercerita. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label #Lagu Bercerita. Tampilkan semua postingan

Minggu, 02 September 2012

Cinta Pandangan Pertama

   “sial, telat”
Aku bergegas masuk ke theater dengan membawa popcorn di tangan kiriku dan tiket di tangan kananku. Karena asik jalan-jalan sendiri mengitari mall aku tak sadar waktu 30  menit begitu cepat berputar.

   “E 13” pikirku coba untuk mengingat karena lampu theater ini baru saja digelapkan. Sengaja aku pilih tempat di tengah karena jauh dari orang yang berpacaran, iya aku belum punya pacar semenjak 2 tahun lalu dikecewakan, hati pun mati rasa. Entah menjadi orang yang sulit jatuh cinta.

   “hmm, L, K, I, H, G, F, dan yup E.” Ucapku riang dalam hati mencari lokasi tempat duduk dalam kegelapan. Perlu melewati 2 orang untuk mendapati posisi tempat dudukku.

    “Tapi, tunggu. Kok ada orangnya ya?” kembali ku lihat tiket di tangan kananku namun sesaat kemudian  telepon genggamku berdering. Gawat lupa di-silent. Kurogoh handphoneku di dalam saku sembari berjalan saja aku ke bangku disebelahnya yang kosong yang berarti E 15.  Namun kakiku tersandung dan aku terjatuh tapi pria E 14 memegangiku, jika tidak aku tersungkur kelantai. Spontan ku lontarkan maaf padanya dan segera duduk namun senyumnya mengalihkan pandangku untuk sekian detik menatapnya. Tapi handphone ku tak henti-hentinya berdering.

   “hallo” bisikku saat mengangkat telepon

   “lo di mana, cha? Jadi nontonnya?” suara perempuan yang tak asing bagiku. Dia adis, sahabatku.

   “jadi, lo sih susah bener diajakin sih.” Jawabku datar

   “makanya punya cowo dong hahaha.” Adis tertawa puas

   “sial, ish. Udah ah gue mau nonton dulu” langsung saja ku tutup teleponnya dengan jengkel

Kurapihkan posisi dudukku, menatap sedih melihat popcornku yang hampir tertumpah semua akibat terjatuh tadi. Untung saja filmnya belum mulai, baru iklan-iklan film yang akan segera datang. Namun teringat dengan pria disebelahnya.

   “eh maaf ya tadi, tapi makasih juga udah ditolongin” aku menatap pria itu yang wajahnya yang tampan terpantulkan cahaya layar film. Seperti adegan slowmotion dia pun menoleh pelan.

   “oh iya gak apa-apa, lagi buru-buru ya?” jawabnya dengan suara yang mengingatkan aku kepada artis Vino G. Bastian. Dan entah lagi-lagi senyumnya itu manis dan memakukanku sesaat.

   “eh iya, ini tadi aku bingung ada yang duduk di tempat dudukku terus ada telepon, lengkap deh.” Jawabku sembari merasa aneh, entah hanya memandangnya mengapa seperti ada yang menguap dalam perutku.

    “oh emang kamu duduk nomer berapa? Ya sudahlah bangkunya kosong ini kan. Kamu nonton sendiri?”

   “oh iya ya aku nonton sendiri, kamu?” jawabku cepat dengan segera menenangkan jantung yang sedari tadi berdegup kencang.

    “aku juga, eh filmnya udah mulai tuh.” Lagi-lagi senyumnya dan aku hanya menganguk-angguk.

Aku jatuh cinta kepadamu
Saat pertama bertemu

Aku menonton film dengan perasaan tidak karuan. Selama pemutaran film sedikit kita mengomentari filmnya.

   “abis ini kamu mau ke mana?” tanyanya saat film usai

   “oh makan mungkin.”

   “eh sama, yuk bareng. Aku juga sambil nunggu  temen nih.” Jawabnya santai

  “uhm okay.” Entah wajahku terasa panas, ada desiran pelan menuju hatiku.

Setibanya di sebuah cafe aroma kopi pun langsung terhirup segar. Pria itu  memilih tempat duduk di lantai dua caffe ini yang tidak begitu ramai, Kini pria itu duduk tepat di depanku. Aku tersenyum menatapnya sembari mencoba menjelajahi setiap sudut caffe ini, hanya ada pelayan yang lalu lalang namun dia tiba-tiba tertawa kecil.

    “Heh kamu sadar gak sih, kita jalan gini tapi belum kenalan.” Aku pun baru tersadar kalau kita memang belum berkenalan. Aku terlalu sibuk untuk menenangkan hati.

   “oh iya ya, bodoh. hahaha.” sambil menepuk keningku aku tertawa lepas bersamanya, lalu aku mengulurkan tanganku.

      “aku Icha” ku coba berikan senyuman termanisku

     “hei Icha, aku Rio. Senang berkenalan denganmu.” Balasnya dengan senyum menggoda khasnya. Entah aku spontan mencubit perutnya seperti sudah akrab sekali.

Kita pun berbincang tentang dia dan pekerjaannya sambil menunggu temannya. Aku seperti terbangun dari mati suriku akan cinta. Aku benar-benar jatuh cinta setelah sekian lama tak merasa ini. Aku pikir cinta pada pandangan pertama itu hanya ada di FTV dan menertawakan setiap adegan-adegan yang sepertinya tidak mungkin untuk orang bisa secepat itu jatuh cinta.

Tidak lebih dari sejam kita mengobrol asik temannya pun datang. Pria tinggi bersih yang tampannya tidak jauh beda dengan Rio. Namun ada hal yang mengherankan, saat bertemu dengan temannya ini ada tatapan yang beda.

   “Oh iya Andri, ini Icha. Icha ini Andri.” Rio yang mencoba memperkenalkan aku dengan temannya itu. Aku berdiri dan mengulurkan tanganku namun “GLETAK” handphoneku jatuh tapi kuabaikan saja dahulu.

    “Eh iya, aku Icha.” Jawabku canggung karena melihat tatapan Andri yang sepertinya tidak suka melihatku.

   “aku Andri” jawabnya singkat. Dan kami semua duduk kembali. Andri dan Rio, dua pria tampan yang duduk di depanku

   “tinggal di mana Andri? Maaf ya mau ambil handphoneku dulu.” Aku bertanya sambil membukukan badanku mencoba meraih handphoneku di bawah meja. Belum juga dijawab oleh Andri tiba-tiba pandanganku yang tertuju pada handphone putihku teralihkan pada dua orang yang saling menggenggam tangan.

    “Ya Tuhan, ternyata mereka...”

Oh mungkin, hanya keajaiban Tuhan
Yang bisa jadikan hambanya yang manis
Menjadi milikku



Ditulis untuk meramaikan #30harilagukubercerita
Terinspirasi dari lagu Kasidah Cinta – Dewi dewi

Minggu, 30 Oktober 2011

Hari Bersama Aninditya

Hari ini akan ku pastikan menjadi hari yang teramat manis untuk pacarku yang manis, Aninditya. Hari ini dia mengajakku ke wahana bermain Dufan. Ku pandangi diriku dalam cermin itu, kaos putih bertuliskan “I love her” berwarna merah, rambut yang semi mowhawk membuatku semakin keren, ah jadi geli sendiri.

Ku lihat jam di dinding sudah pukul 8 pagi, sudah waktunya aku berangkat. Ku semprotkan parfum Acqua Di Gio for Men, ku tarik jaket coklat yang menggantung di balik pintu, ku panaskan sebentar motor matic putihku. Tak sabar ingin ku temui Anin.

Selama perjalanan ke rumah Anin, tidak henti-hentinya ku bernyanyi mengalunkan lagu-lagu cinta. Teringat saat pertama kali kunyatakan cinta padanya, sebait puisi untuknya, segenggam tangan menghangatkannya, semakin cinta ku padanya.

Lamunanku dan lagu-lagu cinta yang menemaniku membuatku tak merasakan perjalanan selama satu jam ini. Ku hentikan motorku di depan rumah bergaya minimalis bercat abu-abu dengan tanaman merambat yang menggantung dari atas ke bawah.

“Permisi Om.” Ku sapa pria setengah baya yang sedang mengelapi sepedanya.

“Eh, nak Riyan. Silahkan masuk dulu. Anin sedang siap-siap.” Jawabnya ramah.

“Iya om, saya masuk ya.”

Anin pun muncul dengan senyum tipisnya. Anin memakai cardigan ungu yang dia biarkan tak terkancing hingga kaos putih dengan tulisan “I love him” berwarna merah terlihat jelas. Rambut pendek dengan poni yang ia biarkan sedikit menutupi matanya membuat dia semakin lucu.

“kita langsung berangkat aja yuk.” Ajaknya.

Dalam perjalanan dengan motor maticku, ku rasakan pelukan Anin. Ku sesapi wanginya yang tertiup angin. Perjalanan menuju utara Jakarta butuh waktu satu setengah jam. Tapi ku nikmati dengan Anin yang terus bercerita tentang rencananya kuliah lagi di Aussie. Sedih pasti, tapi kita akan saling percaya.

Sekitar jam 11 kami sampai di wahana bermain tersebut. Tidak begitu ramai karena kita datang lebih awal namun satu jam kemudian wahana ini memang tak pernah sepi pengunjung. Aku dan Anin menikmati wahana bermain satu persatu. Ku lihat senyum dan tawanya sangat ceria. Hingga tak terasa matahari pun menunjukan kepada kami waktu untuk pulang.

Kita tidak langsung pulang, melainkan mampir dahulu ke pantai Ancol sekedar menikmati langit senja.

“Apakah kamu senang sayang?” tanyaku sambil memeluknya di tepi pantai itu dan Anin hanya mengangguk. Ku tatapi matanya yang kini berkaca-kaca.

“Aku sayang kamu, Nin. Kamu tahu itu dan perpisahan jarak tak akan menghalangi cinta kita, kamu tahu itu.” Ku yakinkan Anin dan semakin erat pelukanku padanya.

“Kita pulang yuk, yang. Udah malam.” Pintanya dan aku hanya mampu menurutinya, lagi pula angin malam tak baik untuknya.

Tepat pukul 8 aku mengantarkan Anin. Lelah membalut kami, hingga ku biarkan Anin untuk langsung beristirahat. Ku peluk kembali Anin dan ku ciumi keningnya.

“I love you, Aninditya.”

Aku pun langsung menuju rumahku. Sungguh lelah melekat padaku tapi kegembiraanku bersama Anin membuat semua itu tak kurasa. Saat ku buka jaket coklatku, kurasakan ada sesuatu di balik saku jaketku. Secarik kertas yang ku kenali tulisannya lalu ku baca,

Dear Riyan, kekasihku.

Terimakasih kamu selalu ada di sampingku. Menemani hariku di setiap waktu. Aku mengajakmu ke tempat bermain itu bukanlah suatu hal tanpa alasan, tempat dimana kamu pernah ucapkan cinta di sana. Di mana aku merasakan detakan jantung yang semakin kencang, di mana rasa manis selalu menyeruak dalam ingatanku. Hingga aku tak mau kisah kita berakhir.

Aku suka kata-kata cintamu, aku suka puisimu, aku suka setiap hari denganmu. Namun aku tak mengerti akhir-akhir ini. Dan kau pun tak tahu apa yang ku rasakan. Mendengar kata cinta darimu terasa biasa, bersamamu terasa hambar, memelukmu pun terasa berat. Jika kamu temukan kertas ini, berarti aku telah memilih jalanku, sendiri tanpamu. Ya menurutku itu lebih baik dari pada aku bersamamu namun cintaku telah hilang. Maafkan aku, ku harap kamu temukan seseorang yang bisa menjaga rasa sayangnya padamu, tidak seperti aku. Sekali lagi terimakasih atas semuanya.

Ps: Aku berangkat ke Aussie malam ini, pesawatku terbang pukul 10. Jadi tak usah mencariku.


Sekejap, jantungku seakan berhenti sesaat. Tak percaya tentang 2 hal yang terjadi hari ini. Anin, wanita yang sangat ku cintai hingga kini ternyata cintanya telah lama mati.

Manis.. Manis yang ku rasa
Ku tak rela cintaku berakhir
Ku minta kau katakan cinta
Saat ku terjaga
Adakah kau rasa
Tak seperti diriku kini
Cintaku tlah hilang

Lagu : Geisha - Cintaku Hilang

Senin, 24 Oktober 2011

Tak Sebaik yang Kamu Pikir

“Jadi dia pacar kamu, ya? Pantes akhir-akhir ini kamu ilang-ilangan.” tanya ku kepada Arya yang diam saja setelah ada suara perempuan yang mengangkat telepon dan mengaku sebagai pacarnya.

“Iya gue pacarnya. Lo siapanya Arya sih? Nanya-nanyain Arya mulu” sambar perempuan yang suaranya ku kenal di awal telepon.

“Oh, kebetulan gue pacarnya Arya juga,” jawabku dengan nada santai namun memberi kesan menjengkelkan.

“hah? Sejak kapan? Arya itu pacar gue. Gue udah 3 bulan pacaran sama dia. Tau gak lo? Hah?” jawab perempuan disebrang telepon yang tersulut emosinya.

“Sis, gue udah setahun setengah pacaran sama dia. Dan yang pasti lo Cuma jadi selingkuhannya. Mana Arya? Lo gak sopan, gue butuh ngomong sama Arya. Kasih cepetan Hp-nya ke Arya.”

“OGAH, tut...tut... tut..” Jawab perempuan itu singkat lalu mematikan teleponnya. Oke, yang aku tahu sekarang adalah Arya selingkuh.

***

Dua hari setelah kejadian itu, Arya tidak ada kabarnya. Namun hari ini tiba-tiba ia menelpon.

“Hallo Rani, maafin aku. Gak ada maksudku untuk selingkuh. Aku hilaf maafkan aku Rani. Aku janji akan segera memutuskannya. Kamu mau kan maafin aku?” dengan nada yang terburu-buru dan menyesal Arya melanjutkan omongannya. “Kemarin aku berpikir untuk memutuskan memilihmu, kamu yang terbaik. Kamu yang tahu aku dari dulu, sangat amat mengerti aku, dan Manda tidak sepertimu.”

“Arya, sudahlah. Dengan kamu memilih untuk selingkuh sudah mengartikan kalau aku banyak kekurangannya, maka kamu mencari pelengkap ke.. maaf siapa nama perempuanmu itu?"

“Manda.” Sambar Arya

“Iya, itu. Jadi aku bukanlah yang terbaik untukmu, ya.” Jawabku menenangkan Arya

“Maaf membuatmu sakit, Ran. Aku janji dalam beberapa waktu dekat ini akan ku putuskan Manda.” Ucap Arya yang meyakinkanku.

“Ya sudahlah terserah dirimu. Aku lagi ada janji nih sama temen-temen butuh hiburan. Nanti saja lah telepon lagi.” Lalu ku matikan saja telepon genggamku dan langsung di non-aktifkan.

“Telepon dari siapa, beb?” tanya lelaki berbaju berwarna hitam yang bertuliskan ‘she is mine’ membawa pesanan makanan aku dan dia.

“Dari temen, beb. Tapi sayang, hape ku lagi lowbat” ucapku santai.

“Oh bagus deh kalau begitu, tidak akan ada yang mengganggu perayaan satu tahun kita, aku mau kamu seharian sama aku.” Ujar Angga yang menggenggam tanganku erat dengan lengkungan senyum teramat manis.


Slama ini aku pun mendua
Tapi kau tak tahu sayang
Pikirmu kau yang menyakitiku
Bukan bukan kamu sayang
S'lalu ku bilang
Aku tak sebaik kau pikir
Tak pernah ku nantikan kamu
Ku cinta kamu bukan berarti Ku tak mendua
Sayang kau nilai aku salah

Lagu: Potret - Salah