"Aku membencimu (dengan cinta); berpikir bagaimana menjatuh(cinta)kan mu." - Nae
Jumat, 02 September 2011
Kamis, 01 September 2011
Semoga Akhir ini Adalah Awal Memulai Hidup Baru
Malam ini pukul 1 dini hari, Bandung semakin dingin. Aku mengambil posisi sudut ruangan rumah nenekku. Ya, dekat stop contact. Sambil mengecharge hp, aku mengetik pada keypad, seperti biasa untuk bercerita. Sunyi, senyap, tempat ku suka untuk merenung. Dimana selalu merasa banyak suara dipikiranku dan menerima, lalu merenungkan.
Cinta, sebuah rasa untuk kamu yang mungkin masih di hati. Anggit, entah kenapa menjadi primadona dipikiranku, padahal sudah saatnya aku berhenti memikirkanmu saat kau telah melakukan terlebih dahulu, melupakanku.
Pernah kamu merasa merindu hingga menangis namun pikiran membuat suatu suara bantahan "untuk apa?". Tapi setidaknya aku ingin menyapamu, tapi sungguh berat, terlebih kamu seseorang yang mengambil ilmu psikolog, pasti tahu tujuan sms ku, aku kangen kamu.
"Hi, apa kabar?"
Sms terkirim. Tak bisa dibohongi saat bagaimana jantung lebih berdetak cepat saat mengirimimu sms sesingkat itu. Ya, dan bodohnya aku. Kebiasaanku yang selalu terbuka denganmu. Kamu menanyakan keadaanku yang sebenarnya aku tahu itu hanya basa basi mencairkan kondisi hati kita.
Semakin panjang smsku, kamu semakin malas untuk membalas. Ya aku terlalu terbuka, denganmu. Kamu menanyakan hidupku, pekerjaanku, anak-anak berkebutuhan khusus, lalu aku akan bercerita tiada henti. Dan 2 hari setelah kita bertukar cerita via sms, aku mengerti. Aku baru sadar sikap ku bercerita panjang lebar tentang segala hal yang berkaitan dengan pertanyaanmu hanya akan membuat kamu berpikir bahwa aku sedang menarik perhatian, menarik simpatimu tentang aku. Bukan, tolong jangan berpikir seperti itu. Aku hanya ingin berbagi, dan mungkin aku tidak tahu tempat.
Kamu tahu, karna tersadarnya aku itu, aku berjanji pada diriku sendiri. Tak kan ada cerita panjang lagi di smsku padamu, atau bahkan tak kan ada lagi sms untukmu. Aku takut kamu berpikir lain. Aku hanya ingin berubah, keluar dari bayang-bayangmu dengan menjadi temanmu. Tapi ternyata cara yang ku pilih salah. Lebih baik aku benar-benar harus menjauh, demi ketenanganmu, demi kebahagianmu, demi kamu.
Semoga tak ada lagi seseorang yang stalking di media sosialmu. Tak kan ada lagi surat seperti ini. Aku harus berhenti ketika waktu untuk kita pada saat itu terhenti. Berhenti berhayal bahwa kamu akan mampu dan sempat untuk membaca ini. Peratap, ya pasti pikirmu bilang seperti itu, seperti yang pernah kamu bilang langsung padaku.
Aku akan mulai hidup baru, bukan dengan sepi, tapi dengan keceriaan dan tawa polos anak-anak di sekolahku. Aku kubur cinta ini, meski sempat ada keyakinan yang kamu tanam di sini, namun hanya waktu yang bisa menjawab semua keraguan. Tuhan punya rencana, berharap kita dewasa.
Selamat tinggal Kenangan.
Cinta, sebuah rasa untuk kamu yang mungkin masih di hati. Anggit, entah kenapa menjadi primadona dipikiranku, padahal sudah saatnya aku berhenti memikirkanmu saat kau telah melakukan terlebih dahulu, melupakanku.
Pernah kamu merasa merindu hingga menangis namun pikiran membuat suatu suara bantahan "untuk apa?". Tapi setidaknya aku ingin menyapamu, tapi sungguh berat, terlebih kamu seseorang yang mengambil ilmu psikolog, pasti tahu tujuan sms ku, aku kangen kamu.
"Hi, apa kabar?"
Sms terkirim. Tak bisa dibohongi saat bagaimana jantung lebih berdetak cepat saat mengirimimu sms sesingkat itu. Ya, dan bodohnya aku. Kebiasaanku yang selalu terbuka denganmu. Kamu menanyakan keadaanku yang sebenarnya aku tahu itu hanya basa basi mencairkan kondisi hati kita.
Semakin panjang smsku, kamu semakin malas untuk membalas. Ya aku terlalu terbuka, denganmu. Kamu menanyakan hidupku, pekerjaanku, anak-anak berkebutuhan khusus, lalu aku akan bercerita tiada henti. Dan 2 hari setelah kita bertukar cerita via sms, aku mengerti. Aku baru sadar sikap ku bercerita panjang lebar tentang segala hal yang berkaitan dengan pertanyaanmu hanya akan membuat kamu berpikir bahwa aku sedang menarik perhatian, menarik simpatimu tentang aku. Bukan, tolong jangan berpikir seperti itu. Aku hanya ingin berbagi, dan mungkin aku tidak tahu tempat.
Kamu tahu, karna tersadarnya aku itu, aku berjanji pada diriku sendiri. Tak kan ada cerita panjang lagi di smsku padamu, atau bahkan tak kan ada lagi sms untukmu. Aku takut kamu berpikir lain. Aku hanya ingin berubah, keluar dari bayang-bayangmu dengan menjadi temanmu. Tapi ternyata cara yang ku pilih salah. Lebih baik aku benar-benar harus menjauh, demi ketenanganmu, demi kebahagianmu, demi kamu.
Semoga tak ada lagi seseorang yang stalking di media sosialmu. Tak kan ada lagi surat seperti ini. Aku harus berhenti ketika waktu untuk kita pada saat itu terhenti. Berhenti berhayal bahwa kamu akan mampu dan sempat untuk membaca ini. Peratap, ya pasti pikirmu bilang seperti itu, seperti yang pernah kamu bilang langsung padaku.
Aku akan mulai hidup baru, bukan dengan sepi, tapi dengan keceriaan dan tawa polos anak-anak di sekolahku. Aku kubur cinta ini, meski sempat ada keyakinan yang kamu tanam di sini, namun hanya waktu yang bisa menjawab semua keraguan. Tuhan punya rencana, berharap kita dewasa.
Selamat tinggal Kenangan.
Langganan:
Postingan (Atom)