Jika puisi menurut mu sebagai pengantar asa maka sudah kah asaku tersampai padamu?
Jika puisi sebagai doa, maka tak pernah lelah puisiku panjatkan kepada Maha Indah
ku memuji yang Maha Kuasa pemilik dirimu
setiap stanza doa menyebut namamu
begitu sempurnanya ciptaan Maha Indah pelengkap hidup
ah, mungkin sudah lembaran puisi kubuat untuk mu
mungkin dapat kurajut tiap lembarannya menjadi penghangat duniamu.
kita memang memahami satu itu kita
lalu tak pernah mengenal kata perpisahan
tak pernah tahu arti berpisah
dan memang tak ingin seperti itu
dua dalam satu
kamu tahu bukan, aku menginginkamu, titik.
ku peluk lengan mu erat
tangan yang selalu membantu menutup telingaku dari buruknya masa lalu
cinta pun tak mampu berhenti
rasa yang aneh dalam dada ini menjerat
menuntunku terus untuk bersama
matamu yang sendu saat punggungmu ku usap
selalu mengisi betapa kamu mencintaiku dengan sangat
kamu pun juga tahu, aku membutuhkanmu, titik.
kamu layaknya metamfetamin dalam tubuh
candu pembuat debar jantung terhebat
candu penenang dari setiap gundah
candu pembuat euforia
candu yang membuatku hangat
jadi apa ini termasuk puisi?
padahal indahmu belum cukup terwakilkan di sini
Tangerang, 2 Januari 2014
Tampilkan postingan dengan label naePoems. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label naePoems. Tampilkan semua postingan
Sabtu, 12 Juli 2014
Melepas
Langit pagi, tak
pernah ada yang menikmati
Pekerja dengan kesibukannya
Aku dan pelukan hangatku
Kamu dengan tidur manjamu
Ingatan dikosongkan karna sepenuhnya milikmu
Tubuhku tercuri dirimu yang hidup kekal di sana utuh
Tubuh yang sedang belajar menangis tanpa air mata
Tubuh yang setiap degupan jantungnya memanggil namamu
Sayup-sayup wangi senja di pantai tercium
Getar debur ombak dan riuh camar
Aku sering pergi ke pantai membisikan pikiran dan perasaanku
Kepada pasir yang tak pernah teraih
Kepada senja yang indah dan berlalu begitu cepat
Pekerja dengan kesibukannya
Aku dan pelukan hangatku
Kamu dengan tidur manjamu
Ingatan dikosongkan karna sepenuhnya milikmu
Tubuhku tercuri dirimu yang hidup kekal di sana utuh
Tubuh yang sedang belajar menangis tanpa air mata
Tubuh yang setiap degupan jantungnya memanggil namamu
Sayup-sayup wangi senja di pantai tercium
Getar debur ombak dan riuh camar
Aku sering pergi ke pantai membisikan pikiran dan perasaanku
Kepada pasir yang tak pernah teraih
Kepada senja yang indah dan berlalu begitu cepat
Tangerang, 16 Febuari 2014
dalam kamar pengap akan rindu.
Rabu, 15 Agustus 2012
Rumahmu
Aku senang duduk di kursi kayu taman, ya taman depan rumahmu. Menunggu pintu rumahmu terbuka dengan sesekali mengayunkan kakiku, sebagai penghilang penat.
Rumahmu teduh, sangat teduh. Membuatku nyaman berlama-lama di sana. Meski beberapa tahun lalu rumah ini didatangi orang yang berlalu lalang untuk mengisi keriangan rumahmu, namun kini sepi, namun tak juga kamu membiarkan ku masuk.
Tapi aku tak mau diam, aku berlari mengitari rumah tempat yang kamu diami, nyaman. Lariku dengan riang, leloncatan seperti anak kecil yang sedang kesenangan. Aku intip rumahmu dari jendela yang kacanya sedikit retak, mungkin pernah terbentur sesuatu yang keras. Belum juga diperbaiki. Aku intip dari kaca yang sedikit berdebu, ku bersihkan dengan lengan bajuku, arahnya memutar. Ku lihat dirimu tersenyum melihatku. Jantungku berdetak semakin kencang, sangat hebat. Samar-samar wajahmu sayu teduh, namun matamu terlihat keresahan mendalam di sana.
Aku berlari menghindari rumahmu. Takut mengganggu, pikirku. Tapi akalku terus berputar, memikirkan bagaimana mengajakmu keluar, menikmati indah bersama, aku dan kamu
Tangga sudah ku siapkan, aku sedang ingin membuatkan pelangi. Merah, jingga, kuning, hijau, biru, nila, dan ungu. Kuwarnai langit rumahmu dengan simpul pelangi yang indah.
Ya, aku sedang menarik perhatianmu, cara entah kesekian kalinya aku berbuat ulah agar kamu memperhatikanku. Namun, kamu hanya mengintip dari balik jendela, lalu kembali menarik kain penutup jendela.
Hujan deras mengguyur rumahmu, menghapus pelangiku untukmu. Aku duduk di kursi tamanmu, menggigil. Dingin, sangat dingin. Sama seperti sikapmu. Kembali ku lihat kamu mengintip di jendela menatap ku iba. Tapi kembali lagi kamu menarik kain penutup jendela tersebut.
Suatu hari aku menemukan tulisan di rumahmu, "Tunggu, ku perbaiki dulu rumah ini. Akan ku bukakan pintu untukmu. Tapi tunggu."
Aku menunggu, waktupun berlalu. Rumahmu belum juga diperbaiki, pintunya pun tak juga terbuka untuk membiarkan ku masuk. Aku termenung, apakah aku terlalu memaksakan kehendakku? Mungkin aku harus pulang, dengan meledak-meledakan balon berisikan asa untukmu.
Aku pulang, mungkin rumahku belum cukup huni jika kita nanti bertukaran rumah. Aku akan buat rumahku nyaman, untuk kamu siap huni nantinya.
Rumahmu teduh, sangat teduh. Membuatku nyaman berlama-lama di sana. Meski beberapa tahun lalu rumah ini didatangi orang yang berlalu lalang untuk mengisi keriangan rumahmu, namun kini sepi, namun tak juga kamu membiarkan ku masuk.
Tapi aku tak mau diam, aku berlari mengitari rumah tempat yang kamu diami, nyaman. Lariku dengan riang, leloncatan seperti anak kecil yang sedang kesenangan. Aku intip rumahmu dari jendela yang kacanya sedikit retak, mungkin pernah terbentur sesuatu yang keras. Belum juga diperbaiki. Aku intip dari kaca yang sedikit berdebu, ku bersihkan dengan lengan bajuku, arahnya memutar. Ku lihat dirimu tersenyum melihatku. Jantungku berdetak semakin kencang, sangat hebat. Samar-samar wajahmu sayu teduh, namun matamu terlihat keresahan mendalam di sana.
Aku berlari menghindari rumahmu. Takut mengganggu, pikirku. Tapi akalku terus berputar, memikirkan bagaimana mengajakmu keluar, menikmati indah bersama, aku dan kamu
Tangga sudah ku siapkan, aku sedang ingin membuatkan pelangi. Merah, jingga, kuning, hijau, biru, nila, dan ungu. Kuwarnai langit rumahmu dengan simpul pelangi yang indah.
Ya, aku sedang menarik perhatianmu, cara entah kesekian kalinya aku berbuat ulah agar kamu memperhatikanku. Namun, kamu hanya mengintip dari balik jendela, lalu kembali menarik kain penutup jendela.
Hujan deras mengguyur rumahmu, menghapus pelangiku untukmu. Aku duduk di kursi tamanmu, menggigil. Dingin, sangat dingin. Sama seperti sikapmu. Kembali ku lihat kamu mengintip di jendela menatap ku iba. Tapi kembali lagi kamu menarik kain penutup jendela tersebut.
Suatu hari aku menemukan tulisan di rumahmu, "Tunggu, ku perbaiki dulu rumah ini. Akan ku bukakan pintu untukmu. Tapi tunggu."
Aku menunggu, waktupun berlalu. Rumahmu belum juga diperbaiki, pintunya pun tak juga terbuka untuk membiarkan ku masuk. Aku termenung, apakah aku terlalu memaksakan kehendakku? Mungkin aku harus pulang, dengan meledak-meledakan balon berisikan asa untukmu.
Aku pulang, mungkin rumahku belum cukup huni jika kita nanti bertukaran rumah. Aku akan buat rumahku nyaman, untuk kamu siap huni nantinya.
posted from Bloggeroid
Jumat, 13 April 2012
-untitle
Langit malam sepakat denganku
Jatuh ke bumi
Lebih dari rintik
Memeluk setiap peluh
Memandangi kembali matamu,
mencari setiap hal yang mungkin serupa
pada hal yang mungkin kau upayakan
namun ku sadari ternyata bukan
aku berangan pada ingin yang menjadi mimpi
dan kamu hanya menganggapku angin
berlalu menyejukan sesaat hati
mencari setiap hal yang mungkin serupa
pada hal yang mungkin kau upayakan
namun ku sadari ternyata bukan
aku berangan pada ingin yang menjadi mimpi
dan kamu hanya menganggapku angin
berlalu menyejukan sesaat hati
posted from Bloggeroid
Minggu, 29 Januari 2012
Persimpangan
Tuhan berencana kembali
Mengirimkan seorang penyusup hati
Namun ia tak sendiri
Ada doa tiap harap pada kursi cadangan
Ada duka diantara kisah kamu dan dia
Ada aku yang terlihat jahat
Padahal bukan inginku
Juga bukan inginmu
Pun cupid tidak ingin disalahkan
Aku menjauh tuk menghindar
Tapi kamu berharap ku tuk tinggal
Dan aku terpenat pada suatu persimpangan
Mengirimkan seorang penyusup hati
Namun ia tak sendiri
Ada doa tiap harap pada kursi cadangan
Ada duka diantara kisah kamu dan dia
Ada aku yang terlihat jahat
Padahal bukan inginku
Juga bukan inginmu
Pun cupid tidak ingin disalahkan
Aku menjauh tuk menghindar
Tapi kamu berharap ku tuk tinggal
Dan aku terpenat pada suatu persimpangan
Rabu, 16 November 2011
Untukmu yang Bersembunyi
:.... (yang menjadi rahasia dalam genggaman Tuhan)
Aku telah berjalan jauh untuk menemuimu
Mendekati jemari Tuhan
Mendekatkan diri pada Tuhan
Dalam tanganku, tak luput lembaranlembaran doa
Yang hampir seluruhnyanya berisikan tentangmu, kebaikan untukku
Sebab hidup ini tak mudah, dan dua pikiran-mungkin-mampu mengubah menjadi tak sekadar indah.
Aku telah berjalan jauh untuk menemuimu
Mendekati jemari Tuhan
Mendekatkan diri pada Tuhan
Dalam tanganku, tak luput lembaranlembaran doa
Yang hampir seluruhnyanya berisikan tentangmu, kebaikan untukku
Sebab hidup ini tak mudah, dan dua pikiran-mungkin-mampu mengubah menjadi tak sekadar indah.
Ini Tak Hentikanku
Panas terik tak juga hentikan ku melangkah menuju senja pantai nan indah
Sebab aku merindukan oase, itu saja. Namun selalu fatamorgana semata
Angin tak lagi sekadar perlahan, pun pasir tak lagi sekadar menghalangi pandangan
Perih, mataku berair. Kemarau yang tak kunjung berakhir
Batangbatang kesepian saling beradukan, melambai sendu kesakitan.
Sekali lagi ku katakan "ini tak kan hentikan ku melangkah", perjalanan menyedihkan diantara hatihati semu
Demi kamu, seseorang yang berada diujung pantai senja itu; menungguku sedari dulu tanpa ragu.
Sebab aku merindukan oase, itu saja. Namun selalu fatamorgana semata
Angin tak lagi sekadar perlahan, pun pasir tak lagi sekadar menghalangi pandangan
Perih, mataku berair. Kemarau yang tak kunjung berakhir
Batangbatang kesepian saling beradukan, melambai sendu kesakitan.
Sekali lagi ku katakan "ini tak kan hentikan ku melangkah", perjalanan menyedihkan diantara hatihati semu
Demi kamu, seseorang yang berada diujung pantai senja itu; menungguku sedari dulu tanpa ragu.
Senin, 24 Oktober 2011
Malaikat Senja
Dan,
Aku masih saja merindukan sosok kamu pada senja di jembatan penyebrangan itu.
Tawamu menyeruak mengalun bagaikan nada bersama memori, membawa kenangan.
Seharusnya setengah tahun berlalu tanpamu aku sudah terbiasa.
Tapi kamu terlalu manis, pikiranku menolak untuk melakukannya; melupakanmu.
Kamu, sempurna.
Kamu malaikatku.
Membawaku ke sebuah surga kecil,
membuat hati tak lagi sunyi.
Kamu pemilik segala kerinduan hati yang bernyanyi.
Tahun ini kegembiraan dan kesedihan terjadi karenamu.
Ingin ku anggap ini adalah sebuah mimpi panjang tapi pipiku selalu saja sakit saat ku cubiti, terlebih hatiku.
Dan, pada akhirnya aku harus segera tersadar.
Kamu hanyalah milik senja
Entah senja yang di ufuk mana
Keindahanmu selalu abadi
Meski merah langit sendu menghampiri
Ku paksakan logika memahami
Bahwa Malaikat tak akan selamanya berada di bumi(ku).
Aku masih saja merindukan sosok kamu pada senja di jembatan penyebrangan itu.
Tawamu menyeruak mengalun bagaikan nada bersama memori, membawa kenangan.
Seharusnya setengah tahun berlalu tanpamu aku sudah terbiasa.
Tapi kamu terlalu manis, pikiranku menolak untuk melakukannya; melupakanmu.
Kamu, sempurna.
Kamu malaikatku.
Membawaku ke sebuah surga kecil,
membuat hati tak lagi sunyi.
Kamu pemilik segala kerinduan hati yang bernyanyi.
Tahun ini kegembiraan dan kesedihan terjadi karenamu.
Ingin ku anggap ini adalah sebuah mimpi panjang tapi pipiku selalu saja sakit saat ku cubiti, terlebih hatiku.
Dan, pada akhirnya aku harus segera tersadar.
Kamu hanyalah milik senja
Entah senja yang di ufuk mana
Keindahanmu selalu abadi
Meski merah langit sendu menghampiri
Ku paksakan logika memahami
Bahwa Malaikat tak akan selamanya berada di bumi(ku).
Jumat, 02 September 2011
Rabu, 17 Agustus 2011
Saya dan Kamu.
Saya dan kamu dalam satu kota,
layaknya seperti orang asing tak bertegur sapa.
Saya dan kamu berada dibawah langit yang sama.
Menyusuri malam, berbeda arah, bertuan rembulan.
Berharap dipertemukan karna bumi itu bulat.
Saya dan kamu punya hati.
Berharap abadi.
Namun ternyata mati.
Saya dan kamu membiarkan ini terjadi,
melepas diri masing-masing.
Agar tak ada lagi saling menyakiti.
Oleh rindu yang tak pernah berakhir.
Pada akhirnya, saya dan kamu menikmati kesendirian.
Berharap tak ada lagi sakit.
Ternyata rindu makin menjangkit.
00.12
Tangerang. 16 Agustus 2011
layaknya seperti orang asing tak bertegur sapa.
Saya dan kamu berada dibawah langit yang sama.
Menyusuri malam, berbeda arah, bertuan rembulan.
Berharap dipertemukan karna bumi itu bulat.
Saya dan kamu punya hati.
Berharap abadi.
Namun ternyata mati.
Saya dan kamu membiarkan ini terjadi,
melepas diri masing-masing.
Agar tak ada lagi saling menyakiti.
Oleh rindu yang tak pernah berakhir.
Pada akhirnya, saya dan kamu menikmati kesendirian.
Berharap tak ada lagi sakit.
Ternyata rindu makin menjangkit.
00.12
Tangerang. 16 Agustus 2011
Minggu, 31 Juli 2011
Hanya Kamu
Hanya Kamu
Sekuat aku berkata “aku sudah biasa tanpamu”
Sekuat itu juga kepiluan dalam hati.
Pura-pura senyum ku pancarkan..
Seperti kepura-puraan dalam getir aku berkata “Aku bahagia”
Ya kasih, kulakukan hanya karna itu adalah inginmu
Kamu bawa hatiku menetap nyaman disana
Karna entah mungkin sebabnya aku masih ingin mencintaimu
Bukan sesuatu yang lain, sesuatu yang sama denganmu
Tapi aku ingin bersamamu, kasih.
Ya, mungkin aku akan bertemu sosok sempurna sepertimu
Sosok yang mendewasakan aku
Membuat ku nyaman
Membuatku merasa yang amat istimewa
Waktu dapat memaksa kami begitu dekat
Hingga suatu ketika aku tersadar
Dia bukan kau.
Maka mungkin ia baik menawarkan hatinya
Lalu bagaimana dengan aku?
Apa yang bisa ku beri?
Bila hatiku berada padamu
Maka tetap seperti ini
Kembali sendiri
Aku yang begini
Maaf kasih jika terasa aku keras kepala,
Sudah ku coba berlari jauh menghindar dari bayangmu
Selelah bagaimana ternyata aku menyadari
Aku hanya berlari berputar mengelilingimu
Lalu menurutmu, apa yang mungkin terjadi?
Selain mencintaimu dan terus mencintaimu.
00:10
Tangerang, 100/2 hari tanpamu
Sabtu, 23 April 2011
Terlalu Berlalu
Aku mencintaimu dengan terlalu
Namun kamu selalu berlalu
Menatap lalu tersenyum
Berbeda dengan dulu
Menciumku saat termenung
Memeluk dengan kekatamu
Aku mencintaimu dengan terlalu
Pertemuan tak terkira, cinta ku tunggu
Asa menggebu mengapa perlahan berdebu
00.44
23 April 2011
Jumat, 15 April 2011
Selamat Pagi, untuk Kamu
Selamat pagi
Untuk kamu yang tak kan terganti
Menempatkanmu selalu di hati
Mencintaimu hingga nanti
Saat detak jantung terhenti
Saat laut menjadi peraduan matahari
Aku selalu disampingmu, kekasih
Rabu, 06 April 2011
Malam Sulit
Cerita hari sang malam tak tersambut
Tak pernah menyambung
Lupa lalu tak bicara
Bingung ada yang menahan
Takut salah lalu bertengkar
Lebih baik diam
Mengalah
Kamu yang termakan lelah
Yakin suatu saat berubah
Menghapus gundah
Membuat kisah indah
Dalam kecupan lembut
Aku mencintaimu
Selamat tidur, malamku.
Cepatlah kembali bersama bintangmu.
Bukan Dulu
Aku bukan mengingat dahulu
Bukan tak ingin kamu sekarang
Hanya menempatkan visual rasa
Seorang penawar luka sembilu
Aku bukan mencintai dulu
Hanya terpukau saat pertama bertemu
Denganmu ku kenal kata
Kini kamu kemana?
Rabu, 23 Maret 2011
Menanti
Menyalahkan diri
Memandang fatamorgana
Jangan terlalu tergesa, hati.
Selalu menganggap semua berarti
Padahal tak juga kamu mengerti.
Semua butuh adaptasi
Hingga kamu terbiasa menanti
Suatu hal indah yang disebut cinta sejati.
Memandang fatamorgana
Jangan terlalu tergesa, hati.
Selalu menganggap semua berarti
Padahal tak juga kamu mengerti.
Semua butuh adaptasi
Hingga kamu terbiasa menanti
Suatu hal indah yang disebut cinta sejati.
Rabu, 05 Januari 2011
Kita Kata Cinta
Semacam pemupuk senyum di pagi hari
Menyerap setiap siraman kata dalam mata
Lalu mengakar menuju hati
Menyerap setiap siraman kata dalam mata
Lalu mengakar menuju hati
Bersembunyi cinta dalam kata
Tak ingin mengingkar disini ada rasa
Seakan tak pernah ada kesedihan di dapat
Tak ingin mengingkar disini ada rasa
Seakan tak pernah ada kesedihan di dapat
Tak pernah tahu akan kebenaran
Selalu menikmati tiap desiran cinta dengan kehati-hatian
Takut terhanyut katanya lalu ditinggalkan
Selalu menikmati tiap desiran cinta dengan kehati-hatian
Takut terhanyut katanya lalu ditinggalkan
Senang
Nyaman
Tak ingin menghilang
Biarlah begini kita dengan kata.
Nyaman
Tak ingin menghilang
Biarlah begini kita dengan kata.
Kata tercipta dari cinta
Kita terlahir dari cinta
Kita bertemu dalam kata cinta
Kamu (mungkin) cinta
Dan aku cinta kamu
Kita terlahir dari cinta
Kita bertemu dalam kata cinta
Kamu (mungkin) cinta
Dan aku cinta kamu
Minggu, 02 Januari 2011
-KOsOng-
Sesak mendesak
Ada yang terisak
Ada rindu menyiksa
Terasa kosong
Panas hati melonglong
Entah apa yang harus disongsong
Tatapan tak berisi
sejenak termenung tak terkondisi
Tak bertujuan hanya menyisir
Ruang hampa tak terisi hati
----------
2 januari 2011
Suatu sore di sudut kamar
Ada yang terisak
Ada rindu menyiksa
Terasa kosong
Panas hati melonglong
Entah apa yang harus disongsong
Tatapan tak berisi
sejenak termenung tak terkondisi
Tak bertujuan hanya menyisir
Ruang hampa tak terisi hati
----------
2 januari 2011
Suatu sore di sudut kamar
Jumat, 10 Desember 2010
Nilai Gambar ku 75
Liburan di bandung kemarin kurang asik, kurang ada cerita dan gambar yg bs di share :(
Mungkin salah satu cerita ini bisa di share :)

Kiki : mah, nilai gambar kiki dapet 75
ibunya : kenapa ko bisa? bukannya kemarin kamu dapet 80. ko sekarang malah turun?
kiki : iya mah, ga tau. malah temen kiki ada yang dapet nilai 100
ibunya : itu temen kamu bisa dapet nilai 100 ko kamu ga? emangnya kamu gambar apa?
kiki : kiki cuma gambar monyet mah. teruuuu...ssss di bawah gambar monyetnya kiki kasih nama Bu Tuti (nama gurunya)
*pantes dikasih nilai kecil
Mungkin salah satu cerita ini bisa di share :)
Mendengar suatu pengaduan lucu antara sepupu kecil ku Kiki (kelas 2 SD) kepada ibunya (Tante ku) dengan bahasa sunda, tapi akan ku tulis disini memakai bahasa umum, yaitu bahasa alay *eeaa garing
Kiki : mah, nilai gambar kiki dapet 75
ibunya : kenapa ko bisa? bukannya kemarin kamu dapet 80. ko sekarang malah turun?
kiki : iya mah, ga tau. malah temen kiki ada yang dapet nilai 100
ibunya : itu temen kamu bisa dapet nilai 100 ko kamu ga? emangnya kamu gambar apa?
kiki : kiki cuma gambar monyet mah. teruuuu...ssss di bawah gambar monyetnya kiki kasih nama Bu Tuti (nama gurunya)
*pantes dikasih nilai kecil
Minggu, 21 November 2010
Percakapan Sang HP
Di suatu senja, langit masih memakai gaun biru bercorak putih dan kehitaman. Aku yang bersantai mencoba membuat mood ku membaik untuk menyelesaikan segala kewajiban ku tiba-tiba sms masuk dari seorang teman, yang bertanya sedang apa. Ku balas dengan keisengan ku dan kabar baiknya temanku menanggapinya, jadilah suatu percakapan sang HandPhone
“Hey teteh lagi apa?” sapa temanku
“lagi tidur, ini Hpnya yang bales.” Balas ku iseng
“oh bilangin ya ke yang pny kamu jangan tidur mulu.”
Dan sang HP (ku) menjawab,
“Siapa? Aku? Aku ga ada yg memiliki, si cewek ini mah kalau ada perlu aja megang2 aku, klo lagi seneng si sering banget tuh nungguin sms orang, aku dipegang2 di elus2. Ikh emangnya aku HP apaan, di jamah tanpa ikatan pernikahan fufufu.... ko aku jadi curcol gini sih ke kamu? BTW kamu siapa sih sms ke aku?”
Dan temanku mulai menanggapi kegilaanku.. (hihihi...)
“aku juga HP.. tapi yg punya aku mah orangnya baik, tapi aku lagi rusak, dia gak mau benerin aku (a.k.a service) ni, aku kan tersiksa kalo kaya gini terus... sampai kapan aku sakit gini? Sampai kapan coba? Hayo sampai kapan?????”
Hahaha ternyata temanku bisa gila juga lalu lanjut ku balas,
“iah sama layar ku maembelah diri gitu, jadi ada garis putih di tampilan aku. Gara2 si cewek ini ni kalo tidur lincah bgt, masa aku ditiban sama dia, mending badannya langsing, ini mah dah kaya buntelan babi yang sedang berguling-guling. Coba bayangkan... bayangkan... bayangkan sekarang juga... trus dia juga ga setia gt ma aku. Masa denger2 dia mau beli HP baru, denger2 juga aku mau dijual klo uangnya kurang.”
“wah jangan mau, kamu pasti sakit hati banget, dah dikhianati sekarang mau dijual pula... kalo aku jadi kamu mending aku membanting diri aja dari pada sakit hati gitu...”
“ikh kamu ko gt... kita kan baru kenal ko tega nyuruh aku mati?? Lagian kan tu baru denger2 doang, siapa tau si cewek ini mau beli HP baru untuk nemenin aku. Mudah2an HP barunya Ganteng, gagah, n macho... kaya saipul jamil gitu... ikh sumpah dia tuh macho bgt. Tapi ko depe malah minta cerai ya ke dia?” balas (HP) ku yang mulai random (-_-“)
“Bukan’a gitu abis aku ga tega aja liat kamu tersakiti. Dari pada kamu sakit2an terus kan lebih baik kamu istirahat aja untuk selamanya gitu.. hmm aku gak suka saipul jamil, sukanya Gaston aja, dia kan pemain bola pasti lebih macho n jago masukin bola ke kandang pastinya hehe... Lha ko jd ngomongin DEPE yak? Mending juga ngomongin JUPE hahahaha...”
“yee kamu juga sakit2an n kaya’a lebih parah dari aku, knp kamu juga gak istirahat untuk selamanya aja? Hmm aku ga suka JUPE, jupe kasar.. masa mukanya depe di cakar. Aku sebel ma dia, cowok2 pada suka sama dia, apa lagi tuh yang ada di dadanya. Aku yakin tuh yang di dadanya tuh sumpelan buah pepaya hehehe...” (balasan apa ini?)
“Akh aku sich masih bisa bertahan klo kamu kan mau di ganti yang baru jadi aku kasian ma kamu... Ha? Buah pepaya?? Klo aku pikir sich bukan pepaya tapi melon, habis bundar banget gitu sich..”
“apa sich ko jadi ngomongin dadanya Jupe?? Tapi menurut aku melon kurang gede. Masih gedean semangka hehe... eh eh... si cewek ndut baru bangun ni... udahan dulu y.. nanti dia kaget lagi ada sms2 n pulsa ngurangin tapi perasaan dia ga sms ke siapa2. Tapi nanti kita lanjut gosip2an lagi ya cyyyynnnnn.... XOXO”
Dan smsn kerandoman pun berakhir... (-_-“)
Nb: tulisan ini langsung ditulis saat kejadian :p
Langganan:
Postingan (Atom)