Di
suatu bimbingan belajar, kelas intensif menghadapi UN SMP yang seminggu lagi
namun kelas sudah mulai tak kondusif dan bersemangat belajar. Isna, guru bidang
studi Matematika di salah satu bimbingan belajar.
“Oke,
assalamu‘alaikum, selamat malam.” Sapa Kak Isna yang baru memasuki ruangan yang
berisikan 12 siswa.
“wa‘alaikumsalam.
malam.” Jawab siswa serentak. Beberapa langsung memperbaiki posisi duduknya,
sebagian yang lain masih asik mengobrol dan Tentor—panggilan untuk guru
les—melihat sekeliling dan tersenyum.
“oke,
yuk kita mulai belajarnya. Ini pertemuan terakhir kita, jadi kakak hanya akan
membahas sesuatu yang kalian belum paham. Hingga saat ini di Matematika materi
apa yang belum kalian mengerti?”
“kak,
saya bingung yang ada modal awal, modal akhir terus ditanya bunga dalam berapa
bulan gitu. Itu gimana ya caranya?” tanya Bima
“Oh
itu aritmatika sosial ya? Oke jadi contohnya kalau.....” kak Isna menjelaskan
dengan santai lalu sambil melihat sekeliling yang mulai ribut.
“Ini
masa kakaknya ngejelasin masih aja rame, ayo dong perhatikan. Coba itu kamu
yang dipojokan udah jangan mainan hape aja.”
“Syifa
lagi galau kak, baru putus dia.” Celetuk Adit sambil tertawa dan diikuti oleh
teman-temannya.
“Ah
diem lu, dit” sergah Syifa sambil memasukan hape-nya
“Kak,
saya suka bingung belajar Matematika.” Lanjut Syifa
“Bingung kenapa?” tanya tentor Isna dan mengernyitkan dahinya.
“Kita
belajar matematika tapi kok tidak ada penerapan dalam kehidupan sehari-hari,
terlebih dalam suatu hubungan.” Jawab Syifa dengan memasang wajah polos dan
sepertinya patut dikasihani.
“Ada
kok.” Kak Isna menanggapi.
“Masa
kak? Buktinya saya belum pernah menemukan contoh soal bagaimana menyelesaikan
permasalahan jika modal awalnya adalah cinta dan mendapat bunga-bunga kehidupan
yang indah tapi modal akhirnya yang saya terima selalu menerima kepahitan.”
Syifa yang memasang ekspresi datar itu membuat satu kelas pun tertawa.
“Jrit,
Syifa galau klimaks.” Sambar Ghozi.
“Eh
tapi bener ya kak, kita belajar Matematika penerapan pada kehidupan sosialnya
terlebih pada kehidupan asmara itu tidak ada.” Fitri pun ternyata ikut-ikutan.
“Contohnya
kita belajar Peluang. Tapi kita tidak diajarkan mendapatkan Peluang yang kita
hitung atau kita cinta. Mentok-mentok di Peluang Harapan.” Lanjut Fitri sambil
cengengesan.
“Eh
eh eh, kok jadi galau semua gini?” Kak Isna memukul-mukul papan tulis untuk
menghentikan keributan di dalam kelas.
“Udah
yuk kak kita ngobrol aja, bosen belajar melulu.” Keluh Syifa
“Kok
gitu? Udah jadi mana lagi yang ingin ditanyakan lagi?”
Eka
yang duduk di depan langsung membuka kertas dihadapan Tentor Isna dan
membacakan soal matematika yang menurutnya membingungkan. “Ini kak, kalau ada
soal seperti, suatu pekerjaan direncanakan 30 hari dengan 15 pekerja tapi baru
dikerjakan 6 hari dan terhenti selama 4 hari. Jika pekerjaan itu diteruskan,
berapa pekerja yang harus ditambahkan?”
Hening
sesaat, terlihat kak Isna sedang berpikir. “Oh ini namanya perbandingan
berbalik nilai, Ka. Jadi kamu tinggal mengalikan ini dan ini lalu hasilnya
dikurangi sama pekerja awalnya.” Kak Isna menjelaskan di papan tulis dengan
pelan-pelan.
“Kak,
kalau soalnya gini kak. Jadi jika ada pacar yang selalu membandingkan pacarnya
yang sekarang dengan mantannya itu masuk ke perbandingan apa kak?” Adit kembali
cengengesan sambil melirik Syifa.
Kak
Isna hanya menghela nafas dan melanjutkan mengajarnya mengenai Fungsi dan
Pemetaan namun tiba-tiba Adit celetuk.
“Kak, kita belajar Fungsi dan Pemetaan tapi kok saya sudah nyoba memetakan hati
saya ke dia kenapa tidak berfungsi mengubah pemikirannya?” Adit pun memberi cengirannya.
Kak
Isna hanya mengusap-ngusap dahinya. “Aduh ini kalian menjelang UN jadi pada
galau semua ya?”
“Kak,
punya pacar?” Tanya Syifa
“Kenapa?”
Kak Isna mulai curiga
“Umur
kakak berapa?” Lanjut Syifa
“Ih
kamu mauan deh, mau banget atau mau aja? 25 kenapa? Kamu punya kakak”
“yeay
kakak. Cuma mau ingetin umur kakak aja sih kak. Kok aneh belum nikah kak?”
Hening sesaat lalu siswa pun tertawa memecahkan keheningan. Kak Isna hanya bisa menghela napas.