Halaman

Senin, 29 Agustus 2011

Surat Untuk Tuhan

Dear Tuhanku
Aku menulis surat ini sebagai tambahan dari doa-doaku yang tidak pernah Engkau bosan untuk mendengarkannya. Tuhan, adalah aku yang terkadang tak menuruti perintahmu, namun selalu menuntut dikabulkannya doa-doaku. Adalah aku yang masih bersedih dan merasa tak adil saat semua cobaan ini adalah untuk kedewasaanku. Maafkan aku Tuhan.
Tuhan, Engkau maha tahu segalanya. Sesungguhnya pasti tahu apa dan mengapa aku ingin bercerita. Aku ingin bercerita tentang sosok malaikat yang Engkau berikan beberapa waktu lalu namun tak begitu lama ada disamping ku. Sosok pria yang selalu membuatku menangis karna bahagia. Tuhan, aku belum pernah bertemu dengan pria yang memperlakukanku selayaknya di dongeng-dongeng romantis, dan aku takut benar-benar takut saat itu, takut tak bisa membalas cintanya dengan sebanding, takut kehilangan cintanya.
Tuhan, masih ingat saat aku selalu menangis di setiap doaku tentang dia sesaat setelah ku bertemu dengan dia, aku takut dia tidak merasakan betapa aku menyayanginya, aku takut mencintai dia dengan cara yang salah. Aku yang terlanjur cuek karna orang-orang di masa laluku yang katanya cinta namun berhari-hari hilang entah kemana, seperti mau tak mau mencintaiku. Tapi dengan dia, matanya, suaranya, aku merasa, cinta. Hingga pada akhirnya dia pergi meninggalkanku, seperti terplanting jauh saat ku terbang dan sangat mencintainya lalu jatuh tersungkur dengan terbentur pada batu beberapa kali. Ya sepertinya perumpaan tersebut terasa berlebihan, tapi memang begitu sakitnya, Tuhan.
Tuhan, aku ingin dia. Oh bukan, aku ingin cintanya, sikapnya, aku mencintainya tanpa alasan dan tak memiliki alasan pula untuk meninggalkannya walaupun aku telah ditinggalkan terlebih dahulu. Ya, cinta membutakan pikiranku. Tuhan, aku tak meminta untuk dia kembali, karna pada akhirnya ini memang takdir yang harus aku lalui, mungkin aku akan bertemu lagi dengannya jika memang dia jodohku, dan mungkin (boleh aku berharap) orang seperti dia atau lebih menjadi orang yang akan ku lengkapi hatinya dan sebaliknya hingga senja nanti.
Tuhan, aku tau semua ini menunjukkan alur hidupku, di mana aku mulai menyukai blog, menyukai puisi lalu bertemu dia. Seperti aku diterima kerja di suatu lembaga bimbingan belajar lalu menemukan seseorang yang mengajakku bekerja di lembaga pendidikan islam yang memakai pendidikan multiple intelligence, sesuai skripsiku. Ya, seperti tersusun rapi Engkau buat. Bertemu anak-anak luar biasa membuatku ingin melanjutkan kuliah tentang psikologi, ya keinginan semenjak SMA namun Engkau ganti dengan mempertemukan ku dengan dia, seorang sarjana psikologi, dia memang malaikat yang Engkau berikan. Seseorang yang mampu berbagi rasa dan pikiran. Terimakasih telah memberikan kebahagiaanku hingga kini Anonim, lukaku adalah bekas kebahagiaan yang tak terkira. Terimakasih Tuhan untuk semua alur hidupku yang indah.

Hambamu.

Sabtu, 27 Agustus 2011

Patah Hati

Siapa yang Pernah Patah Hati? 

hayo hayo ngacung....

Kalo semua orang ditanya seperti ini, pasti pada nunjuk (hehe..) ya mereka pasti pernah mengalami, baik yang pernah pacaran atau belum pernah pacaran. Baik perempuan maupun laki-laki. Sakit, jelas. Yang berbeda hanyalah bagaimana waktu menyembuhkannya.

Mungkin ada perempuan berpikir, "ah cowo mah biasa aja klo patah hati. Beberapa hari kemudian kok bisa ya punya pacar lagi". Anggapan ini salah, mereka sakit, malah ada yang menangis dibawah shower (oke lebay hehe) cuma logika mereka lebih berjalan (semua cewe juga tau kale naa...).  Iya alasan saya disini klise, tapi ada juga loh laki-laki yang bener-bener kalo patah hati ya sakit banget (menurut pengamatan di jesos). Ada yang meluapkan rasa sakitnya di twitter dan fb (tipe extrovert) ada yang hanya dipendam (introvert) dan dilampiaskan dengan cara berbeda, baik positif (ngumpul-ngumpul sama temannya) maupun negatif (bikin strategi ngedukunin). Hehe yang terakhir becanda (eh tapi ada loh kan di berita-berita cewe dibunuh mantan pacarnya).

Kalo cewe yah pada tahu kan.. agak mendramatisir (oke termasuk saya) tapi tenang, gak semua seperti itu (takut dikeroyok oleh kaum sendiri). Ada yang ngeluh-ngeluh n marah-marah di jesos, jadi pengen *puk puk-in satu-satu klo liat status orang-orang di jesos (terlebih fb hehe), ada yang nangis berhari-hari sampe matanya bengkak ngalahin kantung matanya SBY (hehe..), ada yang curhat ke tiap temennya satu-satu yang  ketemu di jalan, dan ada yang bunuh diri (Oke kayanya negatif semua). Ya gak lah.. sama kaya cowo, cewe juga suka mengalihkan rasa sakit karna hatinya yang patah itu dengan jalan-jalan sama temen-temennya, ada yang shoping, sampai nyalon.

Sakit karena hatinya patah itu wajar. Yang namanya patah emang sakit, patah kaki, patah tulang, sampai vas bunga kesayangan nyokap patah juga bikin sakit, sakit hati di nyokap-nya karna barang kesayangannya dibikin patah juga si yang matahinnya, diomel-omel sama sang nyokap, but i feel something wrong sound words in here (masa vas bunga patah?). Hehe oke itu cuma perumpamaannya aja.

Cara mengatasi rasa sakit bisa berbagai cara, menulis dan membaca salah satunya (anak SD juga bisa kali na..). Beda loh, saat membaca, terlebih buku-buku positif ya jangan baca buku cara-cara menyantet mantan atau gebetan yang nolak kalian. Dalam membaca ada rasa tersupport, merasa "gue gak boleh gini terus" atau malah jadi terinspirasi untuk menulis. Bikin cerpen, puisi, sajak bagus-bagus bisa bikin buku terus diterbitin maka patah hati kita menguntungkan (Boleh lah berhayal positif seperti itu, dengan motivasi yang kuat pasti tercapai). Intinya sih sibukin diri aja, sampai gak da waktu buat mengenang masa lalu. Times will heal you!

"Kalo gak lupa-lupa gimana? Wajar gak sih?", kalo kata psikolog (bentar saya lupa namanya) hmm.. Ratih Ibrahim "wajar seseorang susah melupakan mantan, tinggal kontrol pikiran diri aja, doakan aja si dia (mantan pacar/mantan gebetan) dengan kebaikan, doain juga diri kamu semoga cepat sembuh dari patah hati kamu". Jadi intinya setiap manusia diberikan kekuatan untuk lupa kok, buktinya orang puasa aja kadang suka lupa malah minum (hehe..) atau lebih sering kita sering dilupakan menaruh sesuatu benda hingga kelagapan nyarinya (pas dibutuhin). Jadi kita bisa saja lupa sama kenangan, apa yang perlu diingat? Kan ga dibutuhin, kalopun masih mengingat berarti itu keinginan. Ya kaya si mantan yang udah mutusin, mereka lebih siap mengambil ancang-ancang untuk kehilangan, lebih siap nerima resikonya dibanding yang diputuskan. Mereka (yang diputuskan) merasa "kok bisa?", "Aku gak mau pisah", "Salah aku dimana?" dan lain sebagainya (kalo disebutin satu-satu nanti terasa curcol). Perkara putus sih gampang, toh tinggal bilang "KITA PUTUS", yang jadi masalahnya itu hari-hari setelah itu. (Aw aw aw, terasa sekali curcolnya)

Tuhan mempertemukan kamu dan dia itu udah termasuk jodoh dan sudah direncanakan, berapa lamanya hingga pisah itu namanya takdir. Itu semua memang sudah ada jalannya dari Tuhan, dan rencana Tuhan yang lebih indah sedang menunggumu di depan atau bahkan sedang disekitar kamu, saya percaya itu (kamu juga harus). Intinya Tuhan sedang dan selalu mengajarkan manusia tentang ilmu kedewasaan, ikhlas, dan sebagainya demi menaikan satu tingkat menuju kebaikan. Dan juga mengingatkan semua itu milik Tuhan, manusia berusaha Tuhan yang berkehendak. Hanya Tuhan yang mampu memutar balikan perasaan manusia. Kamu mencintai dia (mantan pacar/mantan gebetan) itu kan karna kuasa Tuhan. Manusia meminta, Tuhan yang memberi sesuai kebutuhan, malah suka dilebihkan maka bersyukurlah. :D 



pindahan dari blog ini

Rabu, 17 Agustus 2011

Saya dan Kamu.

Saya dan kamu dalam satu kota,
layaknya seperti orang asing tak bertegur sapa.

Saya dan kamu berada dibawah langit yang sama.
Menyusuri malam, berbeda arah, bertuan rembulan.
Berharap dipertemukan karna bumi itu bulat.

Saya dan kamu punya hati.
Berharap abadi.
Namun ternyata mati.

Saya dan kamu membiarkan ini terjadi,
melepas diri masing-masing.
Agar tak ada lagi saling menyakiti.
Oleh rindu yang tak pernah berakhir.

Pada akhirnya, saya dan kamu menikmati kesendirian.
Berharap tak ada lagi sakit.
Ternyata rindu makin menjangkit.

00.12
Tangerang. 16 Agustus 2011

Senin, 15 Agustus 2011

Untitle