Halaman

Minggu, 31 Juli 2011

Hanya Kamu

Hanya Kamu

Sekuat aku berkata “aku sudah biasa tanpamu”
Sekuat itu juga kepiluan dalam hati.
Pura-pura senyum ku pancarkan..
Seperti kepura-puraan dalam getir aku berkata “Aku bahagia”
Ya kasih, kulakukan hanya karna itu adalah inginmu

Kamu bawa hatiku menetap nyaman disana
Karna entah mungkin sebabnya aku masih ingin mencintaimu
Bukan sesuatu yang lain, sesuatu yang sama denganmu
Tapi aku ingin bersamamu, kasih.

Ya, mungkin aku akan bertemu sosok sempurna sepertimu
Sosok yang mendewasakan aku
Membuat ku nyaman
Membuatku merasa yang amat istimewa
Waktu dapat memaksa kami begitu dekat
Hingga suatu ketika aku tersadar
Dia bukan kau.

Maka mungkin ia baik menawarkan hatinya
Lalu bagaimana dengan aku?
Apa yang bisa ku beri?
Bila hatiku berada padamu

Maka tetap seperti ini
Kembali sendiri
Aku yang begini

Maaf kasih jika terasa aku keras kepala,
Sudah ku coba berlari jauh menghindar dari bayangmu
Selelah bagaimana ternyata aku menyadari
Aku hanya berlari berputar  mengelilingimu

Lalu menurutmu, apa yang mungkin terjadi?
Selain mencintaimu dan terus mencintaimu.

00:10
Tangerang,  100/2 hari tanpamu


Minggu, 24 Juli 2011

Dear Anonim

Dear Anonim,
Apa kabarmu, tampan? Aku akhirnya memutuskan untuk menulis surat ini untukmu. Entahlah, aku selalu merasa kau pasti membaca suratku suatu hari nanti saat kamu teringat denganku, meskipun aku tak begitu yakin apakah ada sisa-sisa bayangan yang menjadi kenangan di hidupmu. Ah, sudahlah.. rasanya seperti mengharap, dan itu hal yang kamu tidak mau terjadi padaku, bukan? Tapi apa bila tak boleh mengharap, masih bolehkah aku mencintaimu dalam diam? Ya pasti diam pula lah jawabanmu.
Anonim sayang,
Saat aku menulis surat ini, aku baru saja pulang ngajar. Hmm.. tubuhku terasa letih, semacam mau rontok, dan sedang batuk pula tapi ini tak menyurutkan niatku untuk menulis sepucuk surat cinta untukmu, lelakiku. Masih kudapatkan kebahagiaan disini, ya murid-murid yang lucu plus cerdas, salah satu kebahagian selain darimu. Oh ya, anonim.. kamu tak perlu khawatir, karena sebelum menulis surat ini, aku sudah makan malam dengan capcay, makanan kesukaanmu dan bukan makanan yang pernah ku makan sebelum bertemu denganmu tapi setelah betemu denganmu yang pernah memaksaku untuk makan sayur dan menyuapiku entah aku jadi suka dengan capcay. Aku juga sudah  meminum obat batuk, jadi kau tak perlu merasa tak didengar lagi, seperti yang mungkin kau rasa dulu.
Mbul..
Beberapa hari ini, aku putar kembali rekaman-rekaman suara obrolan kita ditelepon, kebiasaan yang tak pernah aku lakukan pada yang lain selain kamu, entah kamu selalu membuatku merasa rindu setiap detik. Aku ingat, saat kamu menyanyikan lagu lalu aku goda untuk menyanyi lagi, tapi kamu enggan. Aku terus mengulang-ulang, bagian ketika aku bernyanyi keras dengan suaraku yang tak ramah lingkungan dan mirip kaleng rombeng dan cempreng menurutmu, lalu kau pun tertawa, betapa hal yang amat manis bagiku sayang. Dan aku teringat tingkah konyolku salah membuka pintu suatu tempat perbelanjaan saat kita hendak berkaraoke bersama teman-temanmu, namun semua kekonyolanku itu, cukup untuk membuatmu tertawa terpingkal-pingkal. Aku terus membayangkan dengan seksama rekaman ingatan itu, bagaimana lekuk tawamu mengalun, semacam harmoni yang memberikan energi, semua itu sekejap saja membuatku tertegun tanpa sepatah kata, dan tak berapa lama, kusadari mataku sudah berkabut. Aku sungguh merindukanmu, mbul..
Kau tahu, Mbul?  Aku selalu bergelut dengan rindu yang tak berkesudahan. Hal yang selalu tumbuh subur dan bersemi di dalam jiwaku, tapi sejujurnya, aku ternyata cukup bahagia dengan semua itu, Aku hanya bisa memperhatikanmu dari kejauhan, melihat senyumanmu pada lukisan manis kamu dengan teman-temanmu, ku lihat pula beberapa jejak cantik mencoba menggodamu, aku berharap kamu bahagia, karna ini inginmu, jalanmu, menjauh dariku, entah apa yang kamu pikirkan saat itu. Ah sudahlah.. pasti kamu tak akan suka jika ku bahas ini.
Anonimku yang gembul..
Entah mengapa aku selalu berdebar setiap melihat namamu di mana kamu punya akun sosial media, bahkan di surat ini. Belum lagi arsir wajahmu, yang seakan sudah membatu di kepalaku. Terkadang aku benci akan pagi, yang selalu memaksaku untuk membiarkanmu bangun siang. Katamu dulu ingin aku yang pertama kamu dengar saat terbangun dari mimpi-mimpi pengindah malammu. Masihkah kamu terbangun pada siang hari? Hayo sekali-kali untuk bangun pagi dan solat subuh. Jangan lupa untuk beribadah ya sayang, berdoalah agar kamu temukan kembali hati yang nyaman untuk kamu tempati, bila hingga suatu saat nanti entah itu kapan, tidak juga kamu temukan, tenang kasih,  aku masih di sini, menunggumu dengan senyuman dan hati tanpa luka yang sudah ku lupakan.  
Sejujurnya kasih, aku lebih suka malam, saat aku bisa sejenak terpejam, dan kembali menemukanmu disana. Kau muncul seperti jantung cahaya, yang berkilauan di atas samudera tenang tanpa gelombang. Ah, sebenarnya aku tak yakin dimana aku sedang hidup saat ini, yang aku tahu, saat ini aku sedang berada pada satu titik, dimana semua terlihat samar-samar, dan satu-satunya yang terlihat jelas adalah kau.
mbulku sayang,
Sebelum tidur, aku ingin mengecup keningmu lewat surat ini. Seperti saat terakhir kamu kecup keningku sebelum ku tahu itu adalah untuk terakhir kalinya. Ayo, sekarang pejamkan matamu sebentar saja, karena aku akan tiba disana memelukmu erat. Selamat malam sayang, selamat tidur lelakiku, aku akan terus menghitung setiap detik yang berkurang, sampai (mungkin) Tuhan ingin mempertemukan kita kembali.
Mantanmu,
Nae
*happy sixth month, i always love u, anggit pras and always do (if we aren't break)

*terinspirasi oleh @muhadkly

Senin, 11 Juli 2011

11 Juni to 11 Juli 2011

Dear anonim,

Apa kabar kamu sayang? Sedang mempersiapkan untuk sidang? Baguslah tetap semangat untukmu, aku yakin kamu selalu begitu, tersenyum menatap kehidupanmu. Walau terkadang kamu tidak bisa menyembunyikan segala rasa yang ada di hati dan benakmu dalam air mukamu.

Mbul ku sayang,

Tahukah kamu tanggal berapa ini? Ya mungkin kamu tak ingat, ini tanggal dimana aku tak kan melupakannya kejadian sebulan lalu, sebuah keputusan di mana hanya kamu dan Tuhan yang tahu alasannya, mengakhiri perasaan kita. Bagaimana kehidupanmu setelah hari itu? Bahagiakah kamu? Aku berharap seperti itu, bagaimana hatimu? Melihat beberapa kali kamu mengganti foto di akun socialmu atau jadi aktif di akun socialmu, seperti ada sepi di sana, seperti ada bimbang di sana. Tapi sepertinya kamu mendapatkan yang baru setelah ku baca kalimatmu untuk temanmu yang sedang mengalami “bad day” lalu kamu bilang “makanya pacaran dong biar good day” aku tersenyum, beruntunglah perempuan itu yang memenangkan hatimu.

Anonim,

Sepertinya kamu memang tak mau melihat aku, seperti kebohongan saat teringat obrolan kita sebulan lalu ketika kamu bilang “aku harap kita bisa berteman.” Ya memang klise ya bila kenyataannya kamu malah mengindar :)
Jadi apa kabar hari ini?
Semoga baik-baik saja ya sayang dengan hati yang kamu simpan di sana. Salam untuknya. Tolong bilang kalau kamu tuh suka hmm.. ah ga jadi deh, lebih baik dia jadi diri sendiri, jangan kaya aku yang berusaha jadi apa yang kamu mau, menebak-nebak lalu bingung karna tak jadi diri sendiri saat mencintaimu, dan segala upaya yg ku coba pun ternyata tak membuatmu bertambah cinta entah kenapa menjadi berkurang. “Hanya kamu dan Tuhan lah yang tau mengapa kita harus berpisah.”

Selamat malam..
Semoga keangkuhanmu tidak menyertaimu

Mantanmu
Nae

Sabtu, 02 Juli 2011

Untitle

Hmm.. udah 2 minggu aku ga posting, sebenernya sih udah nulis buat diposting di blog tapi ga da pulsa buat ngepostinginnya hehe... :p

pengen cerita beberapa hari dalam kegalauan, masih nyesek banget dan ga sengaja baca komen2 tmen si mantan yang katanya mantan lagi sibuk kencan huft... sepertinya dugaan orang-orang yang tak ingin aku dengar itu benar deh. Dia mang punya prinsip ga mau selingkuh tapi bisa aja kan di ga pengen selingkuh, makanya dia putusin aku trus lanjut pedekate ma yang lain. hmm padahal sudah terbentuk keyakinan disini.. *nunjuk dada *yang ada didalem maksudnya hehe..

ah tapi kan ga gitu juga sih, sampe saat ini ko aku masih percaya2 aja ya sama dia, walau temen pada bilang
"udah nae.. jangan ngarep lagi."
hmm ngarep ga ya? iya sih dikit tapi udah ga gitu juga.. "yakin?" *entah suara dari mana*
hehe..
mengenang manisnya dengan dia itu ga da habisnya, walau dibilang pacaran yang paling bentar hehe...
hebatnya bikin berkesan, semoga aku cepat2 move on deh... doakan.. :p

aku ini nanti pagi tuh harus ke nikahan temen eh malah belum tidur...
Bobo dulu ah...
mimpikan aku ya anonim.. hihi...