Dear Anonim,
Apa kabarmu, tampan? Aku akhirnya memutuskan untuk menulis surat ini untukmu. Entahlah, aku selalu merasa kau pasti membaca suratku suatu hari nanti saat kamu teringat denganku, meskipun aku tak begitu yakin apakah ada sisa-sisa bayangan yang menjadi kenangan di hidupmu. Ah, sudahlah.. rasanya seperti mengharap, dan itu hal yang kamu tidak mau terjadi padaku, bukan? Tapi apa bila tak boleh mengharap, masih bolehkah aku mencintaimu dalam diam? Ya pasti diam pula lah jawabanmu.
Anonim sayang,
Saat aku menulis surat ini, aku baru saja pulang ngajar. Hmm.. tubuhku terasa letih, semacam mau rontok, dan sedang batuk pula tapi ini tak menyurutkan niatku untuk menulis sepucuk surat cinta untukmu, lelakiku. Masih kudapatkan kebahagiaan disini, ya murid-murid yang lucu plus cerdas, salah satu kebahagian selain darimu. Oh ya, anonim.. kamu tak perlu khawatir, karena sebelum menulis surat ini, aku sudah makan malam dengan capcay, makanan kesukaanmu dan bukan makanan yang pernah ku makan sebelum bertemu denganmu tapi setelah betemu denganmu yang pernah memaksaku untuk makan sayur dan menyuapiku entah aku jadi suka dengan capcay. Aku juga sudah meminum obat batuk, jadi kau tak perlu merasa tak didengar lagi, seperti yang mungkin kau rasa dulu.
Mbul..
Beberapa hari ini, aku putar kembali rekaman-rekaman suara obrolan kita ditelepon, kebiasaan yang tak pernah aku lakukan pada yang lain selain kamu, entah kamu selalu membuatku merasa rindu setiap detik. Aku ingat, saat kamu menyanyikan lagu lalu aku goda untuk menyanyi lagi, tapi kamu enggan. Aku terus mengulang-ulang, bagian ketika aku bernyanyi keras dengan suaraku yang tak ramah lingkungan dan mirip kaleng rombeng dan cempreng menurutmu, lalu kau pun tertawa, betapa hal yang amat manis bagiku sayang. Dan aku teringat tingkah konyolku salah membuka pintu suatu tempat perbelanjaan saat kita hendak berkaraoke bersama teman-temanmu, namun semua kekonyolanku itu, cukup untuk membuatmu tertawa terpingkal-pingkal. Aku terus membayangkan dengan seksama rekaman ingatan itu, bagaimana lekuk tawamu mengalun, semacam harmoni yang memberikan energi, semua itu sekejap saja membuatku tertegun tanpa sepatah kata, dan tak berapa lama, kusadari mataku sudah berkabut. Aku sungguh merindukanmu, mbul..
Kau tahu, Mbul? Aku selalu bergelut dengan rindu yang tak berkesudahan. Hal yang selalu tumbuh subur dan bersemi di dalam jiwaku, tapi sejujurnya, aku ternyata cukup bahagia dengan semua itu, Aku hanya bisa memperhatikanmu dari kejauhan, melihat senyumanmu pada lukisan manis kamu dengan teman-temanmu, ku lihat pula beberapa jejak cantik mencoba menggodamu, aku berharap kamu bahagia, karna ini inginmu, jalanmu, menjauh dariku, entah apa yang kamu pikirkan saat itu. Ah sudahlah.. pasti kamu tak akan suka jika ku bahas ini.
Anonimku yang gembul..
Entah mengapa aku selalu berdebar setiap melihat namamu di mana kamu punya akun sosial media, bahkan di surat ini. Belum lagi arsir wajahmu, yang seakan sudah membatu di kepalaku. Terkadang aku benci akan pagi, yang selalu memaksaku untuk membiarkanmu bangun siang. Katamu dulu ingin aku yang pertama kamu dengar saat terbangun dari mimpi-mimpi pengindah malammu. Masihkah kamu terbangun pada siang hari? Hayo sekali-kali untuk bangun pagi dan solat subuh. Jangan lupa untuk beribadah ya sayang, berdoalah agar kamu temukan kembali hati yang nyaman untuk kamu tempati, bila hingga suatu saat nanti entah itu kapan, tidak juga kamu temukan, tenang kasih, aku masih di sini, menunggumu dengan senyuman dan hati tanpa luka yang sudah ku lupakan.
Sejujurnya kasih, aku lebih suka malam, saat aku bisa sejenak terpejam, dan kembali menemukanmu disana. Kau muncul seperti jantung cahaya, yang berkilauan di atas samudera tenang tanpa gelombang. Ah, sebenarnya aku tak yakin dimana aku sedang hidup saat ini, yang aku tahu, saat ini aku sedang berada pada satu titik, dimana semua terlihat samar-samar, dan satu-satunya yang terlihat jelas adalah kau.
mbulku sayang,
Sebelum tidur, aku ingin mengecup keningmu lewat surat ini. Seperti saat terakhir kamu kecup keningku sebelum ku tahu itu adalah untuk terakhir kalinya. Ayo, sekarang pejamkan matamu sebentar saja, karena aku akan tiba disana memelukmu erat. Selamat malam sayang, selamat tidur lelakiku, aku akan terus menghitung setiap detik yang berkurang, sampai (mungkin) Tuhan ingin mempertemukan kita kembali.
Mantanmu,
Nae
*happy sixth month, i always love u, anggit pras and always do (if we aren't break)
*terinspirasi oleh @muhadkly