2 minggu sebelum hari pernikahan, aku dan Damar pergi ke Bridal untuk fitting baju terakhir kalinya. Gaun yang akan aku kenakan adalah gaun putih sederhana,
"Model gaun Kate Middleton ini memang sedang menjadi trend." Ungkap pemilik bridal
"Kamu cantik sekali sayang." Ternyata Damar sudah ada di depan pintu memperhatikan ku yang berputar-putar di depan cermin besar dengan sumringah.
Hari pernikahan
Iringan pengantin menuju tempat pemberkatan. Entahlah, sepertinya hitam menjadi dresscode para tamu padahal tidak ada dalam undangan. Aku hampiri Damar, aku melihatnya menangis, pikirku mungkin terharu. Namun, ada yang membuatku berhenti bernapas. Tatapan Damar tertuju pada peti yang mana seseorang wanita dengan gaun pengantinnya terbujur kaku di dalamnya, dan itu Aku.
Minggu, 30 Oktober 2011
Hari Bersama Aninditya
Hari ini akan ku pastikan menjadi hari yang teramat manis untuk pacarku yang manis, Aninditya. Hari ini dia mengajakku ke wahana bermain Dufan. Ku pandangi diriku dalam cermin itu, kaos putih bertuliskan “I love her” berwarna merah, rambut yang semi mowhawk membuatku semakin keren, ah jadi geli sendiri.
Ku lihat jam di dinding sudah pukul 8 pagi, sudah waktunya aku berangkat. Ku semprotkan parfum Acqua Di Gio for Men, ku tarik jaket coklat yang menggantung di balik pintu, ku panaskan sebentar motor matic putihku. Tak sabar ingin ku temui Anin.
Selama perjalanan ke rumah Anin, tidak henti-hentinya ku bernyanyi mengalunkan lagu-lagu cinta. Teringat saat pertama kali kunyatakan cinta padanya, sebait puisi untuknya, segenggam tangan menghangatkannya, semakin cinta ku padanya.
Lamunanku dan lagu-lagu cinta yang menemaniku membuatku tak merasakan perjalanan selama satu jam ini. Ku hentikan motorku di depan rumah bergaya minimalis bercat abu-abu dengan tanaman merambat yang menggantung dari atas ke bawah.
“Permisi Om.” Ku sapa pria setengah baya yang sedang mengelapi sepedanya.
“Eh, nak Riyan. Silahkan masuk dulu. Anin sedang siap-siap.” Jawabnya ramah.
“Iya om, saya masuk ya.”
Anin pun muncul dengan senyum tipisnya. Anin memakai cardigan ungu yang dia biarkan tak terkancing hingga kaos putih dengan tulisan “I love him” berwarna merah terlihat jelas. Rambut pendek dengan poni yang ia biarkan sedikit menutupi matanya membuat dia semakin lucu.
“kita langsung berangkat aja yuk.” Ajaknya.
Dalam perjalanan dengan motor maticku, ku rasakan pelukan Anin. Ku sesapi wanginya yang tertiup angin. Perjalanan menuju utara Jakarta butuh waktu satu setengah jam. Tapi ku nikmati dengan Anin yang terus bercerita tentang rencananya kuliah lagi di Aussie. Sedih pasti, tapi kita akan saling percaya.
Sekitar jam 11 kami sampai di wahana bermain tersebut. Tidak begitu ramai karena kita datang lebih awal namun satu jam kemudian wahana ini memang tak pernah sepi pengunjung. Aku dan Anin menikmati wahana bermain satu persatu. Ku lihat senyum dan tawanya sangat ceria. Hingga tak terasa matahari pun menunjukan kepada kami waktu untuk pulang.
Kita tidak langsung pulang, melainkan mampir dahulu ke pantai Ancol sekedar menikmati langit senja.
“Apakah kamu senang sayang?” tanyaku sambil memeluknya di tepi pantai itu dan Anin hanya mengangguk. Ku tatapi matanya yang kini berkaca-kaca.
“Aku sayang kamu, Nin. Kamu tahu itu dan perpisahan jarak tak akan menghalangi cinta kita, kamu tahu itu.” Ku yakinkan Anin dan semakin erat pelukanku padanya.
“Kita pulang yuk, yang. Udah malam.” Pintanya dan aku hanya mampu menurutinya, lagi pula angin malam tak baik untuknya.
Tepat pukul 8 aku mengantarkan Anin. Lelah membalut kami, hingga ku biarkan Anin untuk langsung beristirahat. Ku peluk kembali Anin dan ku ciumi keningnya.
“I love you, Aninditya.”
Aku pun langsung menuju rumahku. Sungguh lelah melekat padaku tapi kegembiraanku bersama Anin membuat semua itu tak kurasa. Saat ku buka jaket coklatku, kurasakan ada sesuatu di balik saku jaketku. Secarik kertas yang ku kenali tulisannya lalu ku baca,
Dear Riyan, kekasihku.
Terimakasih kamu selalu ada di sampingku. Menemani hariku di setiap waktu. Aku mengajakmu ke tempat bermain itu bukanlah suatu hal tanpa alasan, tempat dimana kamu pernah ucapkan cinta di sana. Di mana aku merasakan detakan jantung yang semakin kencang, di mana rasa manis selalu menyeruak dalam ingatanku. Hingga aku tak mau kisah kita berakhir.
Aku suka kata-kata cintamu, aku suka puisimu, aku suka setiap hari denganmu. Namun aku tak mengerti akhir-akhir ini. Dan kau pun tak tahu apa yang ku rasakan. Mendengar kata cinta darimu terasa biasa, bersamamu terasa hambar, memelukmu pun terasa berat. Jika kamu temukan kertas ini, berarti aku telah memilih jalanku, sendiri tanpamu. Ya menurutku itu lebih baik dari pada aku bersamamu namun cintaku telah hilang. Maafkan aku, ku harap kamu temukan seseorang yang bisa menjaga rasa sayangnya padamu, tidak seperti aku. Sekali lagi terimakasih atas semuanya.
Ps: Aku berangkat ke Aussie malam ini, pesawatku terbang pukul 10. Jadi tak usah mencariku.
Sekejap, jantungku seakan berhenti sesaat. Tak percaya tentang 2 hal yang terjadi hari ini. Anin, wanita yang sangat ku cintai hingga kini ternyata cintanya telah lama mati.
Lagu : Geisha - Cintaku Hilang
Ku lihat jam di dinding sudah pukul 8 pagi, sudah waktunya aku berangkat. Ku semprotkan parfum Acqua Di Gio for Men, ku tarik jaket coklat yang menggantung di balik pintu, ku panaskan sebentar motor matic putihku. Tak sabar ingin ku temui Anin.
Selama perjalanan ke rumah Anin, tidak henti-hentinya ku bernyanyi mengalunkan lagu-lagu cinta. Teringat saat pertama kali kunyatakan cinta padanya, sebait puisi untuknya, segenggam tangan menghangatkannya, semakin cinta ku padanya.
Lamunanku dan lagu-lagu cinta yang menemaniku membuatku tak merasakan perjalanan selama satu jam ini. Ku hentikan motorku di depan rumah bergaya minimalis bercat abu-abu dengan tanaman merambat yang menggantung dari atas ke bawah.
“Permisi Om.” Ku sapa pria setengah baya yang sedang mengelapi sepedanya.
“Eh, nak Riyan. Silahkan masuk dulu. Anin sedang siap-siap.” Jawabnya ramah.
“Iya om, saya masuk ya.”
Anin pun muncul dengan senyum tipisnya. Anin memakai cardigan ungu yang dia biarkan tak terkancing hingga kaos putih dengan tulisan “I love him” berwarna merah terlihat jelas. Rambut pendek dengan poni yang ia biarkan sedikit menutupi matanya membuat dia semakin lucu.
“kita langsung berangkat aja yuk.” Ajaknya.
Dalam perjalanan dengan motor maticku, ku rasakan pelukan Anin. Ku sesapi wanginya yang tertiup angin. Perjalanan menuju utara Jakarta butuh waktu satu setengah jam. Tapi ku nikmati dengan Anin yang terus bercerita tentang rencananya kuliah lagi di Aussie. Sedih pasti, tapi kita akan saling percaya.
Sekitar jam 11 kami sampai di wahana bermain tersebut. Tidak begitu ramai karena kita datang lebih awal namun satu jam kemudian wahana ini memang tak pernah sepi pengunjung. Aku dan Anin menikmati wahana bermain satu persatu. Ku lihat senyum dan tawanya sangat ceria. Hingga tak terasa matahari pun menunjukan kepada kami waktu untuk pulang.
Kita tidak langsung pulang, melainkan mampir dahulu ke pantai Ancol sekedar menikmati langit senja.
“Apakah kamu senang sayang?” tanyaku sambil memeluknya di tepi pantai itu dan Anin hanya mengangguk. Ku tatapi matanya yang kini berkaca-kaca.
“Aku sayang kamu, Nin. Kamu tahu itu dan perpisahan jarak tak akan menghalangi cinta kita, kamu tahu itu.” Ku yakinkan Anin dan semakin erat pelukanku padanya.
“Kita pulang yuk, yang. Udah malam.” Pintanya dan aku hanya mampu menurutinya, lagi pula angin malam tak baik untuknya.
Tepat pukul 8 aku mengantarkan Anin. Lelah membalut kami, hingga ku biarkan Anin untuk langsung beristirahat. Ku peluk kembali Anin dan ku ciumi keningnya.
“I love you, Aninditya.”
Aku pun langsung menuju rumahku. Sungguh lelah melekat padaku tapi kegembiraanku bersama Anin membuat semua itu tak kurasa. Saat ku buka jaket coklatku, kurasakan ada sesuatu di balik saku jaketku. Secarik kertas yang ku kenali tulisannya lalu ku baca,
Dear Riyan, kekasihku.
Terimakasih kamu selalu ada di sampingku. Menemani hariku di setiap waktu. Aku mengajakmu ke tempat bermain itu bukanlah suatu hal tanpa alasan, tempat dimana kamu pernah ucapkan cinta di sana. Di mana aku merasakan detakan jantung yang semakin kencang, di mana rasa manis selalu menyeruak dalam ingatanku. Hingga aku tak mau kisah kita berakhir.
Aku suka kata-kata cintamu, aku suka puisimu, aku suka setiap hari denganmu. Namun aku tak mengerti akhir-akhir ini. Dan kau pun tak tahu apa yang ku rasakan. Mendengar kata cinta darimu terasa biasa, bersamamu terasa hambar, memelukmu pun terasa berat. Jika kamu temukan kertas ini, berarti aku telah memilih jalanku, sendiri tanpamu. Ya menurutku itu lebih baik dari pada aku bersamamu namun cintaku telah hilang. Maafkan aku, ku harap kamu temukan seseorang yang bisa menjaga rasa sayangnya padamu, tidak seperti aku. Sekali lagi terimakasih atas semuanya.
Ps: Aku berangkat ke Aussie malam ini, pesawatku terbang pukul 10. Jadi tak usah mencariku.
Sekejap, jantungku seakan berhenti sesaat. Tak percaya tentang 2 hal yang terjadi hari ini. Anin, wanita yang sangat ku cintai hingga kini ternyata cintanya telah lama mati.
Manis.. Manis yang ku rasa
Ku tak rela cintaku berakhir
Ku minta kau katakan cinta
Saat ku terjaga
Adakah kau rasa
Tak seperti diriku kini
Cintaku tlah hilang
Lagu : Geisha - Cintaku Hilang
Senin, 24 Oktober 2011
Aku Ingat
Awalnya aku memang benar-benar tidak mengenalmu. Setiap hari bertemu dari pagi hingga malam itu memang mengundang cupid bekerja. Alih-alih berusaha jaga jarak, tapi rasa itu semakin dalam.
Aku ingat kita pernah berpas-pasan berjalan di dalam koridor kantor, kita hanya saling menunduk. Tapi dalam seperkian detik aku sudah dalam pelukmu.
“Aku tak mau berakhir.” Harapmu sambil mengecup keningku
Aku ingat dengan jelas makan malam romantis di suatu kafe ditemani lampu kuning redup dan lilin, romantis.
“masa nasi goreng dan teh manis lagi?” tanyamu saat tahu pesananku
Diakhir obrolan ada yang membuat kita canggung. Aku ingat sekali kamu memanggilku Myra padahal aku masih ingat namaku Mirna. Sedangkan Myra adalah pacar resmimu, bukan aku.
Ps: Ini Fiksi, bukan keluhan atau curhat :)
Malaikat Senja
Dan,
Aku masih saja merindukan sosok kamu pada senja di jembatan penyebrangan itu.
Tawamu menyeruak mengalun bagaikan nada bersama memori, membawa kenangan.
Seharusnya setengah tahun berlalu tanpamu aku sudah terbiasa.
Tapi kamu terlalu manis, pikiranku menolak untuk melakukannya; melupakanmu.
Kamu, sempurna.
Kamu malaikatku.
Membawaku ke sebuah surga kecil,
membuat hati tak lagi sunyi.
Kamu pemilik segala kerinduan hati yang bernyanyi.
Tahun ini kegembiraan dan kesedihan terjadi karenamu.
Ingin ku anggap ini adalah sebuah mimpi panjang tapi pipiku selalu saja sakit saat ku cubiti, terlebih hatiku.
Dan, pada akhirnya aku harus segera tersadar.
Kamu hanyalah milik senja
Entah senja yang di ufuk mana
Keindahanmu selalu abadi
Meski merah langit sendu menghampiri
Ku paksakan logika memahami
Bahwa Malaikat tak akan selamanya berada di bumi(ku).
Aku masih saja merindukan sosok kamu pada senja di jembatan penyebrangan itu.
Tawamu menyeruak mengalun bagaikan nada bersama memori, membawa kenangan.
Seharusnya setengah tahun berlalu tanpamu aku sudah terbiasa.
Tapi kamu terlalu manis, pikiranku menolak untuk melakukannya; melupakanmu.
Kamu, sempurna.
Kamu malaikatku.
Membawaku ke sebuah surga kecil,
membuat hati tak lagi sunyi.
Kamu pemilik segala kerinduan hati yang bernyanyi.
Tahun ini kegembiraan dan kesedihan terjadi karenamu.
Ingin ku anggap ini adalah sebuah mimpi panjang tapi pipiku selalu saja sakit saat ku cubiti, terlebih hatiku.
Dan, pada akhirnya aku harus segera tersadar.
Kamu hanyalah milik senja
Entah senja yang di ufuk mana
Keindahanmu selalu abadi
Meski merah langit sendu menghampiri
Ku paksakan logika memahami
Bahwa Malaikat tak akan selamanya berada di bumi(ku).
Tak Sebaik yang Kamu Pikir
“Jadi dia pacar kamu, ya? Pantes akhir-akhir ini kamu ilang-ilangan.” tanya ku kepada Arya yang diam saja setelah ada suara perempuan yang mengangkat telepon dan mengaku sebagai pacarnya.
“Iya gue pacarnya. Lo siapanya Arya sih? Nanya-nanyain Arya mulu” sambar perempuan yang suaranya ku kenal di awal telepon.
“Oh, kebetulan gue pacarnya Arya juga,” jawabku dengan nada santai namun memberi kesan menjengkelkan.
“hah? Sejak kapan? Arya itu pacar gue. Gue udah 3 bulan pacaran sama dia. Tau gak lo? Hah?” jawab perempuan disebrang telepon yang tersulut emosinya.
“Sis, gue udah setahun setengah pacaran sama dia. Dan yang pasti lo Cuma jadi selingkuhannya. Mana Arya? Lo gak sopan, gue butuh ngomong sama Arya. Kasih cepetan Hp-nya ke Arya.”
“OGAH, tut...tut... tut..” Jawab perempuan itu singkat lalu mematikan teleponnya. Oke, yang aku tahu sekarang adalah Arya selingkuh.
***
Dua hari setelah kejadian itu, Arya tidak ada kabarnya. Namun hari ini tiba-tiba ia menelpon.
“Hallo Rani, maafin aku. Gak ada maksudku untuk selingkuh. Aku hilaf maafkan aku Rani. Aku janji akan segera memutuskannya. Kamu mau kan maafin aku?” dengan nada yang terburu-buru dan menyesal Arya melanjutkan omongannya. “Kemarin aku berpikir untuk memutuskan memilihmu, kamu yang terbaik. Kamu yang tahu aku dari dulu, sangat amat mengerti aku, dan Manda tidak sepertimu.”
“Arya, sudahlah. Dengan kamu memilih untuk selingkuh sudah mengartikan kalau aku banyak kekurangannya, maka kamu mencari pelengkap ke.. maaf siapa nama perempuanmu itu?"
“Manda.” Sambar Arya
“Iya, itu. Jadi aku bukanlah yang terbaik untukmu, ya.” Jawabku menenangkan Arya
“Maaf membuatmu sakit, Ran. Aku janji dalam beberapa waktu dekat ini akan ku putuskan Manda.” Ucap Arya yang meyakinkanku.
“Ya sudahlah terserah dirimu. Aku lagi ada janji nih sama temen-temen butuh hiburan. Nanti saja lah telepon lagi.” Lalu ku matikan saja telepon genggamku dan langsung di non-aktifkan.
“Telepon dari siapa, beb?” tanya lelaki berbaju berwarna hitam yang bertuliskan ‘she is mine’ membawa pesanan makanan aku dan dia.
“Dari temen, beb. Tapi sayang, hape ku lagi lowbat” ucapku santai.
“Oh bagus deh kalau begitu, tidak akan ada yang mengganggu perayaan satu tahun kita, aku mau kamu seharian sama aku.” Ujar Angga yang menggenggam tanganku erat dengan lengkungan senyum teramat manis.
Lagu: Potret - Salah
“Iya gue pacarnya. Lo siapanya Arya sih? Nanya-nanyain Arya mulu” sambar perempuan yang suaranya ku kenal di awal telepon.
“Oh, kebetulan gue pacarnya Arya juga,” jawabku dengan nada santai namun memberi kesan menjengkelkan.
“hah? Sejak kapan? Arya itu pacar gue. Gue udah 3 bulan pacaran sama dia. Tau gak lo? Hah?” jawab perempuan disebrang telepon yang tersulut emosinya.
“Sis, gue udah setahun setengah pacaran sama dia. Dan yang pasti lo Cuma jadi selingkuhannya. Mana Arya? Lo gak sopan, gue butuh ngomong sama Arya. Kasih cepetan Hp-nya ke Arya.”
“OGAH, tut...tut... tut..” Jawab perempuan itu singkat lalu mematikan teleponnya. Oke, yang aku tahu sekarang adalah Arya selingkuh.
***
Dua hari setelah kejadian itu, Arya tidak ada kabarnya. Namun hari ini tiba-tiba ia menelpon.
“Hallo Rani, maafin aku. Gak ada maksudku untuk selingkuh. Aku hilaf maafkan aku Rani. Aku janji akan segera memutuskannya. Kamu mau kan maafin aku?” dengan nada yang terburu-buru dan menyesal Arya melanjutkan omongannya. “Kemarin aku berpikir untuk memutuskan memilihmu, kamu yang terbaik. Kamu yang tahu aku dari dulu, sangat amat mengerti aku, dan Manda tidak sepertimu.”
“Arya, sudahlah. Dengan kamu memilih untuk selingkuh sudah mengartikan kalau aku banyak kekurangannya, maka kamu mencari pelengkap ke.. maaf siapa nama perempuanmu itu?"
“Manda.” Sambar Arya
“Iya, itu. Jadi aku bukanlah yang terbaik untukmu, ya.” Jawabku menenangkan Arya
“Maaf membuatmu sakit, Ran. Aku janji dalam beberapa waktu dekat ini akan ku putuskan Manda.” Ucap Arya yang meyakinkanku.
“Ya sudahlah terserah dirimu. Aku lagi ada janji nih sama temen-temen butuh hiburan. Nanti saja lah telepon lagi.” Lalu ku matikan saja telepon genggamku dan langsung di non-aktifkan.
“Telepon dari siapa, beb?” tanya lelaki berbaju berwarna hitam yang bertuliskan ‘she is mine’ membawa pesanan makanan aku dan dia.
“Dari temen, beb. Tapi sayang, hape ku lagi lowbat” ucapku santai.
“Oh bagus deh kalau begitu, tidak akan ada yang mengganggu perayaan satu tahun kita, aku mau kamu seharian sama aku.” Ujar Angga yang menggenggam tanganku erat dengan lengkungan senyum teramat manis.
Slama ini aku pun mendua
Tapi kau tak tahu sayang
Pikirmu kau yang menyakitiku
Bukan bukan kamu sayang
S'lalu ku bilang
Aku tak sebaik kau pikir
Tak pernah ku nantikan kamu
Ku cinta kamu bukan berarti Ku tak mendua
Sayang kau nilai aku salah
Lagu: Potret - Salah
Menunggu Hal Indah
“Aku menyukai puisimu.”
Komentarku pada sebuah blog yang berisikan puisi puisi indah dan postingan yang bercerita tentang kehidupan. Daniel, sejak berkenalan dengannya melalui blogwalking, aku menjadi kecanduan menulis suatu tulisan yang bisa dikatakan puisi. Terlebih saat kita bisa saling berbalas puisi.
Aku menyukai malam, saat yang tepat menuliskan kegalauan, menumpahkan semua perasaan yang terselimuti oleh ambigunya sebuah puisi, apalagi hanya pada saat malam tiba aku dan Daniel bertukar cerita dengan mengindahkan kata.
“apa aku mulai jatuh cinta padanya?” pikirku
***
Aku membenci malam seperti bagaimana aku membencinya yang tak ada saat ku rindukan. Dinding dinding dan lelangit kamar semakin membutakanku, bagaimana bisa sebuah benda mati mewujudkan bayanganmu dengan seburat senyum manis kepadaku. Kata orang ini adalah rindu, sebuah rasa indah pelengkap dari suatu hubungan.
“Ah ini sungguh menyiksa, aku merindukanmu, Daniel.”
***
Dua, tiga, dan kini empat minggu berlalu tanpa kabar dari Daniel, pun mimpi buruk selalu menghantui. Dan aku hanya mencoba memejamkan mata dan mengatur napas saat semua pikiran negatif muncul setidaknya ada perasaan lega walau sesaat getir menghampiri. Antara memilih untuk menunggu Daniel atau melanjutkan kembali langkahku, masa depanku, tanpa Daniel.
Setahun berlalu
Hari-hari ku lalui, tanpa Daniel tentunya. Menjalani hidup dengan kesendirian pun sudah terbiasa, sebenarnya ada dan tiada cinta bagiku itu bukan satu alasan untuk hidup, hanya ada sesuatu yang hilang dari diriku, entahlah. Aku yang sejak kecil tanpa orang tua, hidup di panti asuhan bersama anak-anak lain yang bernasib sama. Setidaknya aku pernah mempunyai cinta, bersama Daniel
Melalui Daniel aku belajar banyak hal. Seperti sekarang ini, aku memilih untuk menunggunya. Aku yakin suatu hari Daniel akan kembali. Kembali menuliskan puisi untukku.
“Maaf mbak, waktunya terapis”, suara wanita berbaju putih membuyarkan lamunanku
Ku hantarkan Daniel dengan kursi rodanya ke ruang terapis. Ya, Daniel lumpuh total sejak kecelakaaan 11 bulan lalu, dan beruntunglah matanya masih berfungsi walaupun kesemua inderanya butuh beberapa kali terapi kembali. Namun hingga kini kemajuannya sangat lambat, pun fisiknya semakin melemah.
Komentarku pada sebuah blog yang berisikan puisi puisi indah dan postingan yang bercerita tentang kehidupan. Daniel, sejak berkenalan dengannya melalui blogwalking, aku menjadi kecanduan menulis suatu tulisan yang bisa dikatakan puisi. Terlebih saat kita bisa saling berbalas puisi.
Aku menyukai malam, saat yang tepat menuliskan kegalauan, menumpahkan semua perasaan yang terselimuti oleh ambigunya sebuah puisi, apalagi hanya pada saat malam tiba aku dan Daniel bertukar cerita dengan mengindahkan kata.
“apa aku mulai jatuh cinta padanya?” pikirku
***
Aku membenci malam seperti bagaimana aku membencinya yang tak ada saat ku rindukan. Dinding dinding dan lelangit kamar semakin membutakanku, bagaimana bisa sebuah benda mati mewujudkan bayanganmu dengan seburat senyum manis kepadaku. Kata orang ini adalah rindu, sebuah rasa indah pelengkap dari suatu hubungan.
“Ah ini sungguh menyiksa, aku merindukanmu, Daniel.”
***
Dua, tiga, dan kini empat minggu berlalu tanpa kabar dari Daniel, pun mimpi buruk selalu menghantui. Dan aku hanya mencoba memejamkan mata dan mengatur napas saat semua pikiran negatif muncul setidaknya ada perasaan lega walau sesaat getir menghampiri. Antara memilih untuk menunggu Daniel atau melanjutkan kembali langkahku, masa depanku, tanpa Daniel.
Setahun berlalu
Hari-hari ku lalui, tanpa Daniel tentunya. Menjalani hidup dengan kesendirian pun sudah terbiasa, sebenarnya ada dan tiada cinta bagiku itu bukan satu alasan untuk hidup, hanya ada sesuatu yang hilang dari diriku, entahlah. Aku yang sejak kecil tanpa orang tua, hidup di panti asuhan bersama anak-anak lain yang bernasib sama. Setidaknya aku pernah mempunyai cinta, bersama Daniel
Melalui Daniel aku belajar banyak hal. Seperti sekarang ini, aku memilih untuk menunggunya. Aku yakin suatu hari Daniel akan kembali. Kembali menuliskan puisi untukku.
“Maaf mbak, waktunya terapis”, suara wanita berbaju putih membuyarkan lamunanku
Ku hantarkan Daniel dengan kursi rodanya ke ruang terapis. Ya, Daniel lumpuh total sejak kecelakaaan 11 bulan lalu, dan beruntunglah matanya masih berfungsi walaupun kesemua inderanya butuh beberapa kali terapi kembali. Namun hingga kini kemajuannya sangat lambat, pun fisiknya semakin melemah.
Jumat, 14 Oktober 2011
#15 Quotes
-@whynae (Mirna "Nae")Kita masih dibiarkan Tuhan untuk samasama bermain petak umpet, bukan aku yang bersembunyi lalu kamu mencari, tetapi kita samasama bersembunyi, samasama ingin mencari lalu Tuhan akan menyudahi permainan kita--aku dan kamu, jodohku--dengan mempertemukan kita di tempat penjagaan yang dinamakan 'tangan Tuhan'.
Harusnya saya dan kamu itu bersyukur, mendapat pekerjaan lalu membuatmu sibuk seharian namun diawal bulan berikutnya dapat imbalannya. Karena di luar sana masih banyak orang membawa map pergi lalu masuk ke beberapa tempat dan keluar tempat itu dengan sebuah harapan.-@whynae (Mirna "Nae")
Setiap orang punya kesempatan kedua. Mungkin kesempatanku padamu tidak untuk waktu dekat ini, melainkan setelah kita saling memperbaiki diri.-@whynae (Mirna "Nae")
#15HariMenulisBlog
#quotes
Rabu, 12 Oktober 2011
#13-Semalam
Lagi-lagi malam ini saya sendirian di rumah. Sudah 2 hari Ayah dan Ibu tak ada kabar setelah pamit pergi ke Sukabumi. Mereka pergi setelah mendapat kabar dari Om Adi bahwa nenek sedang sakit keras. Nenek tinggal bersama Om Adi, satu-satunya adik dari Ibu. Nenek yang dijaga oleh Om Adi tidak mau pindah ke rumah tinggal bersama Ayah, Ibu dan saya. Katanya tidak mau merepotkan Ibu dan Ayah serta banyak kenangan di kampung tersebut yang membuat nenek enggan pindah ke rumah kami.
Sudah 2 hari Ayah dan Ibu tidak ada kabar, saya khawatir. Terakhir saya mendapat telepon bahwa mereka baik-baik saja dan nenek pun sudah membaik. Ayah dan Ibu berhasil membujuk Nenek dan Om Adi untuk tinggal bersama, di rumah ini. Mereka akan kembali 3 hari kemudian, yang berarti besok.
Namun sekarang aku khawatir, ‘mengapa mereka tidak ada kabar?’, ‘Apa karena telepon genggam ini tak lagi berfungsi atau sebaliknya?’,‘apa di sana tak ada sinyal?’, ‘apa karena mau memberi kejutan?’ Semenjak semalam tak ada satu pun sms dan telepon yang masuk.
Semalam saat sebelum saya tertidur pulas semua baik-baik saja. Hanya kini entah kenapa di sini sedikit beraroma gosong. Sialnya malam ini listrik di rumah mati. Saya tidak bisa melihat apa-apa, termasuk badan saya sendiri. Orang-orang di sekitar rumah pun tumben tidak ramai seperti semalam. Sepertinya semalam ada kejadian karena saat tidur saya sayup mendengar mereka berbicara. Entah apa yang mereka bicarakan, “ketabrakan..” atau “kebakaran..” entahlah tidur saya terlalu pulas untuk mendengar itu. Dan saya masih khawatir menunggu hari esok. Semoga besok membaik.
tema#13 Rumah
#15HariMenulisBlog
Sudah 2 hari Ayah dan Ibu tidak ada kabar, saya khawatir. Terakhir saya mendapat telepon bahwa mereka baik-baik saja dan nenek pun sudah membaik. Ayah dan Ibu berhasil membujuk Nenek dan Om Adi untuk tinggal bersama, di rumah ini. Mereka akan kembali 3 hari kemudian, yang berarti besok.
Namun sekarang aku khawatir, ‘mengapa mereka tidak ada kabar?’, ‘Apa karena telepon genggam ini tak lagi berfungsi atau sebaliknya?’,‘apa di sana tak ada sinyal?’, ‘apa karena mau memberi kejutan?’ Semenjak semalam tak ada satu pun sms dan telepon yang masuk.
Semalam saat sebelum saya tertidur pulas semua baik-baik saja. Hanya kini entah kenapa di sini sedikit beraroma gosong. Sialnya malam ini listrik di rumah mati. Saya tidak bisa melihat apa-apa, termasuk badan saya sendiri. Orang-orang di sekitar rumah pun tumben tidak ramai seperti semalam. Sepertinya semalam ada kejadian karena saat tidur saya sayup mendengar mereka berbicara. Entah apa yang mereka bicarakan, “ketabrakan..” atau “kebakaran..” entahlah tidur saya terlalu pulas untuk mendengar itu. Dan saya masih khawatir menunggu hari esok. Semoga besok membaik.
tema#13 Rumah
#15HariMenulisBlog
Rabu, 05 Oktober 2011
#6 Taman Kanak-kanak Saat Itu
Matahari memerah, aku masih melihat sekitar. Berharap ada yang kembali berulang saat itu. Meraih tiap bayanganbayangan yang tersisa pada suatu tempat, tempat yang menjadi kenangan aku dan--pun seharusnya--dia.
Di tempat ini beberapa terlihat banyak perubahan--tentunya--setelah 20 tahun berlalu saat aku pernah bersekolah di sini. Ayunan yang hanya muat untuk satu orang dengan tempat duduknya terbuat dari kayu dan pinggirannya dari rantai besi sebagai pegangangan itu memang sudah tergantikan dengan ayunan yang--mungkin akan--lebih kuat. Lebih kuat saat membiarkan kita berdua bermain-main disini, tidak ada lagi aku yang mendorong, kamu yang naik, tapi kita seiring berada dalam satu ayunan.
Aku dan dia di taman kanak-kanak ini. Mengingat lalu mencoba memunculkan secara visual, dia dengan pedang plastiknya mengusir teman-teman yang lain untuk memberikan aku tempat bermain di papan seluncur (perosotan) itu. "Awas-awas, tuan putri ingin main," Katanya dengan gagah saat itu. Beberapa anak yang lain menyurakinya dan beberapa lainya lagi keheranan. Lalu dia menungguku di bawah.
Aku ingat kejadian saat kamu berlari menghampiriku dengan celana dan kaos kakinya penuh dengan--entah tumbuhan apa itu namanya, mungkin semacam--ilalang, sambil berkata, "ini bunga untuk kamu, aku ambil tadi di belakang sekolah." Dia langsung berlari lagi menuju teman-temannya. Atau kejadian saat dia selalu ingin bermain seperti mama papa, aku jadi mama dan dia menjadi papa hidup bahagia.
Namun semua berubah di hidup aku dan dia dua tahun lalu, tak ada lagi ayunan yang muat untuk dua orang, kembali lagi pada "aku yang dorong, kamu yang naik." Dia lebih memilih untuk mendorongku untuk membuatku melambung lalu jatuh tersungkur.
Dia tidak lagi memegang pedang plastik dan menunggu ku di bawah untuk membiarkan ku meluncur dengan aman. Tapi dia membawa sebuah senjata tajam yang mampu melukai perasaan, dia tidak lagi menungguku di bawah, melainkan di atas untuk mendorongku dan menancamkan luka.
Dia tidak lagi si pemberi bunga, tapi dia si pemberi luka. Dan tak ada lagi permainan mama dan papa, itu memang hanya permainan baginya mempermainkan aku ketika sudah 18 tahun kita menjalin hubungan namun dia lebih memilih menikahi Intan, selingkuhannya yang juga sahabatku, anak baru di Taman kanak-kanak pada pertengahan tahun saat itu.
Di tempat ini beberapa terlihat banyak perubahan--tentunya--setelah 20 tahun berlalu saat aku pernah bersekolah di sini. Ayunan yang hanya muat untuk satu orang dengan tempat duduknya terbuat dari kayu dan pinggirannya dari rantai besi sebagai pegangangan itu memang sudah tergantikan dengan ayunan yang--mungkin akan--lebih kuat. Lebih kuat saat membiarkan kita berdua bermain-main disini, tidak ada lagi aku yang mendorong, kamu yang naik, tapi kita seiring berada dalam satu ayunan.
Aku dan dia di taman kanak-kanak ini. Mengingat lalu mencoba memunculkan secara visual, dia dengan pedang plastiknya mengusir teman-teman yang lain untuk memberikan aku tempat bermain di papan seluncur (perosotan) itu. "Awas-awas, tuan putri ingin main," Katanya dengan gagah saat itu. Beberapa anak yang lain menyurakinya dan beberapa lainya lagi keheranan. Lalu dia menungguku di bawah.
Aku ingat kejadian saat kamu berlari menghampiriku dengan celana dan kaos kakinya penuh dengan--entah tumbuhan apa itu namanya, mungkin semacam--ilalang, sambil berkata, "ini bunga untuk kamu, aku ambil tadi di belakang sekolah." Dia langsung berlari lagi menuju teman-temannya. Atau kejadian saat dia selalu ingin bermain seperti mama papa, aku jadi mama dan dia menjadi papa hidup bahagia.
Namun semua berubah di hidup aku dan dia dua tahun lalu, tak ada lagi ayunan yang muat untuk dua orang, kembali lagi pada "aku yang dorong, kamu yang naik." Dia lebih memilih untuk mendorongku untuk membuatku melambung lalu jatuh tersungkur.
Dia tidak lagi memegang pedang plastik dan menunggu ku di bawah untuk membiarkan ku meluncur dengan aman. Tapi dia membawa sebuah senjata tajam yang mampu melukai perasaan, dia tidak lagi menungguku di bawah, melainkan di atas untuk mendorongku dan menancamkan luka.
Dia tidak lagi si pemberi bunga, tapi dia si pemberi luka. Dan tak ada lagi permainan mama dan papa, itu memang hanya permainan baginya mempermainkan aku ketika sudah 18 tahun kita menjalin hubungan namun dia lebih memilih menikahi Intan, selingkuhannya yang juga sahabatku, anak baru di Taman kanak-kanak pada pertengahan tahun saat itu.
Selasa, 04 Oktober 2011
#5 Seandainya
Sudah satu bulan Elang dan Delfi tidak bertemu, dan 3 minggu tidak juga berkomunikasi. Entahlah cinta dengan cara menggantung telah Elang pilih. Elang tak pernah menghubungi Delfi maupun menerima telepon dari Delfi bahkan sekedar membalas sms dari Delfi pun seperti tak ingin.
Elang dan Delfi sudah menjalin hubungan berpacaran hampir tiga perempat tahun namun kesan yang dirasa cukuplah mendalam. Pasangan ini romantis, jarak bukan lagi penghalang, tak pernah ada perselisihan, saling pengertian, saling percaya bahkan di saat terakhir pertemuan Delfi dan Elang pun semua baik-baik saja tapi entah mengapa akhir-akhir ini Elang sulit sekali dihubungi. Delfi si tipe penyabar dan setia hanya terus saja berusaha mencoba menghubungi Elang, tidak pernah terbesit untuk mencari pelarian.
"Apa aku coba gunakan nomer lain sajalah untuk menghubungi dia ya?" Gumam Delfi dalam hati, sambil menekan tombol genggamnya dengan hati-hati. Nada sambung pun terdengar, tidak lama terdengar suara yang tak asing yang selalu dirindukan
"Hallo..", DEG jantung Delfi terasa cepat berdetak, ada rasa panas di wajah, suara yang dirindukan.
"Elang?"
"Iya, ini siapa ya?"
"Ini aku Delfi." Dengan nada kecewa.
"Oh iya, kamu pakai nomer siapa?"
"Nomer baru, habisnya kamu gak bisa dihubungin terus sih, aku kangen kamu, aku sayang kamu Elang", Delfi mencoba menahan tekanan rasa rindu yang ingin keluar dari tangisan.
"Oh, aku juga." Jawab Elang singkat.
"Juga apa?" Tanya Delfi menggoda manja, mencoba menutupi rasa sedihnya.
"Perlu ya diomongin?" jawabnya dingin,
"Ya aku kan pengen denger dari kamu, kan udah lama gak denger kalimat itu dari kamu."
"Udah ya aku gak enak sama temen-temen ku." Ada rasa sesak di dada yang menyabar Delfi saat mendengar ucapan-ucapan dari Elang. Elang pun langsung menutup teleponnya tanpa pamit terlebih dahulu. Delfi sekali lagi hanya bisa menangis dan memilih tidur cepat.
***
"Ardy, kamu tau gak kenapa Elang kok berubah akhir-akhir ini."
Pesan singkat untuk Ardy, sahabat Elang sejak SMP. Satu jam Delfi menunggu balasan Ardy namun telepon genggamnya tak pernah berbunyi. Dua jam, empat jam, sepuluh jam, dan hingga keesokan harinya pun Delfi belum mendapat balasan dari Ardy.
*Drrr Drrr* telepon genggam Delfi bergetar.
"Gue gak tau Del, kemarin sih kita ngumpul-ngumpul tapi dia gak cerita apa-apa." Balas Ardy. "Oh gitu ya, thanks ya di." Bathin Delfi pun berkecamuk, rasanya ingin sekali terbang ke tempat Elang berada, seandainya jarak Bandung-Jakarta itu bisa di tempuh beberapa menit, seandainya aku tahu rumah Elang, gumam Delfi.
***
Keesokan malamnya, Delfi terus saja mencoba hubungi Elang. Setelah 2 jam berlalu, akhirnya suara di ujung telepon sana menyapa,
"Hallo."
"Akhirnya kamu angkat juga, sayang. Kemarin-kemarin kenapa gak diangkat? Kamu apa kabar?"
"Hmm baik, tapi hubungan kita tidak membaik." Deg, ada perasaan tidak enak menghampiri saat Delfi mendengar kalimat dari Elang, 'oh Tuhan semoga hubungan ini membaik.' Bathinnya.
"Yaudah kita omongin baik-baik aja dulu, selesaikan berdua, cari jalan tengahnya." Jawab Delfi dengan tenang menutupi kegelisahannya.
"Maaf banget, maaf maaf banget. Aku ingin kita selesai aja sampai sini." Seketika Delfi tidak bisa membendung tangisnya namun tetap berusaha tenang.
"Kenapa? Kenapa kita gak bisa omongin baik-baik dulu."
"Gak bisa, aku udah pikirin ini matang-matang, dan jalan tengahnya memang harus seperti ini." Dengan tetap tenang pula Elang menjawab.
"Tapi kenapa kamu gak libatkan aku untuk berpikir di dalamnya." Timpah Delfi.
"Maaf, aku gak bisa ceritakan apa masalah sebenarnya. Sekali lagi maaf ya, ini demi kamu. Dan aku salut dengan kesabaranmu yang telah aku sakiti namun tak pernah kamu marah padaku." Delfi hanya terdiam.
"Kamu baik-baik ya tanpa aku ke depannya. sekali lagi maaf. Selamat malam." Tiba-tiba telepon pun terputus. Dan Delfi berusaha menghubunginya lagi namun nomer telepon Elang sudah tidak aktif.
Setiap hari Delfi mencoba menghubungi Elang, berharap mendengar suara yang selalu dirindukannya. Dan berharap pula ada keajaiban menghampiri hubungan mereka. Tapi sepertinya usahanya sia-sia. Elang sudah hilang, teman-temannya pun menghilang. Dan tak terasa hampir dua tahun sudah Delfi lewati tanpa Elang.
***
Suatu hari di sudut kota Bandung. Elang yang duduk memandangi hujan dari balik jendela sedangkan di tangan kanannya memegang suatu foto,
"Seandainya dulu, orang tua kita tak saling mengenal. Seandainya orang tua kita tidak saling bermusuhan, seandainya orang tuamu tidak mengancam keluargaku, seandainya kios tempat orang tuaku mencari nafkah tidak dirusak oleh orang-orang suruhan orang tuamu, seandainya saja itu tidak pernah terjadi mungkin kita adalah pasangan yang berbahagia sejak dulu. Aku sangat mencintaimu, Delfi." Dan tetesan-tetesan luka dari mata Elang pun jatuh membasahi foto sepasang kekasih dengan senyum sangat bahagia itu.
Elang dan Delfi sudah menjalin hubungan berpacaran hampir tiga perempat tahun namun kesan yang dirasa cukuplah mendalam. Pasangan ini romantis, jarak bukan lagi penghalang, tak pernah ada perselisihan, saling pengertian, saling percaya bahkan di saat terakhir pertemuan Delfi dan Elang pun semua baik-baik saja tapi entah mengapa akhir-akhir ini Elang sulit sekali dihubungi. Delfi si tipe penyabar dan setia hanya terus saja berusaha mencoba menghubungi Elang, tidak pernah terbesit untuk mencari pelarian.
"Apa aku coba gunakan nomer lain sajalah untuk menghubungi dia ya?" Gumam Delfi dalam hati, sambil menekan tombol genggamnya dengan hati-hati. Nada sambung pun terdengar, tidak lama terdengar suara yang tak asing yang selalu dirindukan
"Hallo..", DEG jantung Delfi terasa cepat berdetak, ada rasa panas di wajah, suara yang dirindukan.
"Elang?"
"Iya, ini siapa ya?"
"Ini aku Delfi." Dengan nada kecewa.
"Oh iya, kamu pakai nomer siapa?"
"Nomer baru, habisnya kamu gak bisa dihubungin terus sih, aku kangen kamu, aku sayang kamu Elang", Delfi mencoba menahan tekanan rasa rindu yang ingin keluar dari tangisan.
"Oh, aku juga." Jawab Elang singkat.
"Juga apa?" Tanya Delfi menggoda manja, mencoba menutupi rasa sedihnya.
"Perlu ya diomongin?" jawabnya dingin,
"Ya aku kan pengen denger dari kamu, kan udah lama gak denger kalimat itu dari kamu."
"Udah ya aku gak enak sama temen-temen ku." Ada rasa sesak di dada yang menyabar Delfi saat mendengar ucapan-ucapan dari Elang. Elang pun langsung menutup teleponnya tanpa pamit terlebih dahulu. Delfi sekali lagi hanya bisa menangis dan memilih tidur cepat.
***
"Ardy, kamu tau gak kenapa Elang kok berubah akhir-akhir ini."
Pesan singkat untuk Ardy, sahabat Elang sejak SMP. Satu jam Delfi menunggu balasan Ardy namun telepon genggamnya tak pernah berbunyi. Dua jam, empat jam, sepuluh jam, dan hingga keesokan harinya pun Delfi belum mendapat balasan dari Ardy.
*Drrr Drrr* telepon genggam Delfi bergetar.
"Gue gak tau Del, kemarin sih kita ngumpul-ngumpul tapi dia gak cerita apa-apa." Balas Ardy. "Oh gitu ya, thanks ya di." Bathin Delfi pun berkecamuk, rasanya ingin sekali terbang ke tempat Elang berada, seandainya jarak Bandung-Jakarta itu bisa di tempuh beberapa menit, seandainya aku tahu rumah Elang, gumam Delfi.
***
Keesokan malamnya, Delfi terus saja mencoba hubungi Elang. Setelah 2 jam berlalu, akhirnya suara di ujung telepon sana menyapa,
"Hallo."
"Akhirnya kamu angkat juga, sayang. Kemarin-kemarin kenapa gak diangkat? Kamu apa kabar?"
"Hmm baik, tapi hubungan kita tidak membaik." Deg, ada perasaan tidak enak menghampiri saat Delfi mendengar kalimat dari Elang, 'oh Tuhan semoga hubungan ini membaik.' Bathinnya.
"Yaudah kita omongin baik-baik aja dulu, selesaikan berdua, cari jalan tengahnya." Jawab Delfi dengan tenang menutupi kegelisahannya.
"Maaf banget, maaf maaf banget. Aku ingin kita selesai aja sampai sini." Seketika Delfi tidak bisa membendung tangisnya namun tetap berusaha tenang.
"Kenapa? Kenapa kita gak bisa omongin baik-baik dulu."
"Gak bisa, aku udah pikirin ini matang-matang, dan jalan tengahnya memang harus seperti ini." Dengan tetap tenang pula Elang menjawab.
"Tapi kenapa kamu gak libatkan aku untuk berpikir di dalamnya." Timpah Delfi.
"Maaf, aku gak bisa ceritakan apa masalah sebenarnya. Sekali lagi maaf ya, ini demi kamu. Dan aku salut dengan kesabaranmu yang telah aku sakiti namun tak pernah kamu marah padaku." Delfi hanya terdiam.
"Kamu baik-baik ya tanpa aku ke depannya. sekali lagi maaf. Selamat malam." Tiba-tiba telepon pun terputus. Dan Delfi berusaha menghubunginya lagi namun nomer telepon Elang sudah tidak aktif.
Setiap hari Delfi mencoba menghubungi Elang, berharap mendengar suara yang selalu dirindukannya. Dan berharap pula ada keajaiban menghampiri hubungan mereka. Tapi sepertinya usahanya sia-sia. Elang sudah hilang, teman-temannya pun menghilang. Dan tak terasa hampir dua tahun sudah Delfi lewati tanpa Elang.
***
Suatu hari di sudut kota Bandung. Elang yang duduk memandangi hujan dari balik jendela sedangkan di tangan kanannya memegang suatu foto,
"Seandainya dulu, orang tua kita tak saling mengenal. Seandainya orang tua kita tidak saling bermusuhan, seandainya orang tuamu tidak mengancam keluargaku, seandainya kios tempat orang tuaku mencari nafkah tidak dirusak oleh orang-orang suruhan orang tuamu, seandainya saja itu tidak pernah terjadi mungkin kita adalah pasangan yang berbahagia sejak dulu. Aku sangat mencintaimu, Delfi." Dan tetesan-tetesan luka dari mata Elang pun jatuh membasahi foto sepasang kekasih dengan senyum sangat bahagia itu.
Senin, 03 Oktober 2011
#4 Stalking Timeline
"Ketika status berubah menjadi seorang mantan pacar dari seorang pria/wanita. Maka stalking timeline sang mantan akan menjadi suatu hobi hingga sesuatu hal yang menghentikan kamu".
Saya dan dia adalah pecinta kata, merajut aksara menjadi sesuatu yang bisa dikatakan indah. Memenuhi timeline tiap malam hanya untuk saling berbalas kata. Layaknya seperti Zarry dan Rahne, kita memang selalu berbalas-balas puisi di blog ku atau blognya.
Twitter, dulu dia tak mengenal twitter hingga saya ajak dia untuk bermain-main disana. Awalnya saya yang bermain #kode dengan teman saya dan dia ikut nimbrung. Dan kita pun berbalas kata ya bisa dibilang sajak. Hmm seandainya bisa saya tuliskan beberapa sajaknya dulu.
Saya dan dia sempat merasakan cinta 5 bulan cukup memberi kesan yang mendalam dibanding saya yang pernah menjalin kisah 3 tahun. Entah apa sebabnya ia memilih untuk berjalan sendiri-sendiri, setelah janji dan keyakinan dia ucap.
Satu hari setelah kita putus, ia mengganti password facebook-nya. Dan saya tidak bisa mengetahui dengan siapa ia dekat dan apa balasan untuk wall-wall temannya terutama ada seorang wanita--sepertinya adik kelasnya--yang selalu mengirim kata-kata yang tidak layak disebut teman. Dan hal itu membuat saya tidak bisa berhenti memantaunya di timeline twitternya maupun di facebooknya.
Seminggu setelah putus, dia unfollow akun twitter saya. Saya tanya kenapa, tapi sayang tak ada balasan. Rasanya di-unfollow mantan itu seperti diputuskan 2 kali. Entah kenapa penyakit sesak di dada kembali menghampiri. Lalu beberapa hari setelah itu, ia menghapus semua tweet-nya. Dan sebegitukah buruknya kenangan saya dengan dia?
Sedih rasanya melihat ia bisa becanda, saling membalas tweet teman-temannya di timeline, dan saya hanyalah seorang mantan. Lalu 2 bulan setelah kita berpisah saya putuskan untuk me-unfollow-nya. Tapi hal tersebut belum juga menghilangkan hobi saya untuk stalking di timeline-nya.
Suatu hari setelah kesibukan saya menghentikan saya sesaat untuk memantau timeline-nya. Hingga suatu hari saya mencoba untuk mengetahui kabarnya melalui timeline-nya, tiba-tiba dada kembali sesak saat membaca tulisan,
"Dia memang bukan siapa-siapa sekarang, tapi lihat nanti dia akan jadi ibu dari anak-anak saya. #lol udah malem tidur dulu."
Oke, sepertinya dia sudah cepat move on lalu bertemu seseorang. Dia ingin bahagia bukan ingin dipantau terus menerus. Dan saya seharusnya ada untuk--hanya--berada di suatu tempat yang bernama kenangan. Walaupun janji-janjinya dan keyakinan dia tentang hubungan ini sudah--pernah--terucap, "aku yakin kamu jodohku, dan akan ku buat kamu merasa yakin pula", "aku tidak akan jenuh dengan hubungan ini, tidak akan," dan aku ingat kata-kata terakhirnya setelah putus, "maafkan aku, mungkin 2 atau 4 tahun lagi kita bertemu dengan rasa yang sama seperti dulu, Tuhan yang punya rencana."
Seseorang yang memutuskan itu lebih siap dibanding yang diputuskan, dan terkadang seseorang yang diputuskan masih saja menunggu adanya harapan.
Saya dan dia adalah pecinta kata, merajut aksara menjadi sesuatu yang bisa dikatakan indah. Memenuhi timeline tiap malam hanya untuk saling berbalas kata. Layaknya seperti Zarry dan Rahne, kita memang selalu berbalas-balas puisi di blog ku atau blognya.
Twitter, dulu dia tak mengenal twitter hingga saya ajak dia untuk bermain-main disana. Awalnya saya yang bermain #kode dengan teman saya dan dia ikut nimbrung. Dan kita pun berbalas kata ya bisa dibilang sajak. Hmm seandainya bisa saya tuliskan beberapa sajaknya dulu.
Saya dan dia sempat merasakan cinta 5 bulan cukup memberi kesan yang mendalam dibanding saya yang pernah menjalin kisah 3 tahun. Entah apa sebabnya ia memilih untuk berjalan sendiri-sendiri, setelah janji dan keyakinan dia ucap.
Satu hari setelah kita putus, ia mengganti password facebook-nya. Dan saya tidak bisa mengetahui dengan siapa ia dekat dan apa balasan untuk wall-wall temannya terutama ada seorang wanita--sepertinya adik kelasnya--yang selalu mengirim kata-kata yang tidak layak disebut teman. Dan hal itu membuat saya tidak bisa berhenti memantaunya di timeline twitternya maupun di facebooknya.
Seminggu setelah putus, dia unfollow akun twitter saya. Saya tanya kenapa, tapi sayang tak ada balasan. Rasanya di-unfollow mantan itu seperti diputuskan 2 kali. Entah kenapa penyakit sesak di dada kembali menghampiri. Lalu beberapa hari setelah itu, ia menghapus semua tweet-nya. Dan sebegitukah buruknya kenangan saya dengan dia?
Sedih rasanya melihat ia bisa becanda, saling membalas tweet teman-temannya di timeline, dan saya hanyalah seorang mantan. Lalu 2 bulan setelah kita berpisah saya putuskan untuk me-unfollow-nya. Tapi hal tersebut belum juga menghilangkan hobi saya untuk stalking di timeline-nya.
Suatu hari setelah kesibukan saya menghentikan saya sesaat untuk memantau timeline-nya. Hingga suatu hari saya mencoba untuk mengetahui kabarnya melalui timeline-nya, tiba-tiba dada kembali sesak saat membaca tulisan,
"Dia memang bukan siapa-siapa sekarang, tapi lihat nanti dia akan jadi ibu dari anak-anak saya. #lol udah malem tidur dulu."
Oke, sepertinya dia sudah cepat move on lalu bertemu seseorang. Dia ingin bahagia bukan ingin dipantau terus menerus. Dan saya seharusnya ada untuk--hanya--berada di suatu tempat yang bernama kenangan. Walaupun janji-janjinya dan keyakinan dia tentang hubungan ini sudah--pernah--terucap, "aku yakin kamu jodohku, dan akan ku buat kamu merasa yakin pula", "aku tidak akan jenuh dengan hubungan ini, tidak akan," dan aku ingat kata-kata terakhirnya setelah putus, "maafkan aku, mungkin 2 atau 4 tahun lagi kita bertemu dengan rasa yang sama seperti dulu, Tuhan yang punya rencana."
Seseorang yang memutuskan itu lebih siap dibanding yang diputuskan, dan terkadang seseorang yang diputuskan masih saja menunggu adanya harapan.
Minggu, 02 Oktober 2011
#3 Senja Di Suatu Hari
Di sebuah senja, aku duduk di sebuah bangku taman kayu dengan dikelilingi pohon cemara dan pinus. Melamun atau membaca buku di keheningan adalah kesukaanku sambil menikmati angin berbaukan pinus yang seakan saling berbisik. Namun kenikmatan ku ini terusik oleh sesosok pria misterius di arah jam 2. Siapa dia? Karena selama aku berkunjung di taman ini tak pernah ku temui seseorang lagi selain aku dan burung-burung saling bersautan.
Pria itu memakai kaos berkerah berwarna putih dan bercelana pendek coklat muda sedang asik melihat sekitar nampaknya. Sesekali ia duduk beralaskan rumput-rumput. Rasa penasaranku pun menjadi. Ingin ku hampiri sekedar berkenalan atau berbagi keindahan di sini tapi aku takut mengganggunya.
Dan tiba-tiba ia melihatku lalu tersenyum, entah kenapa pria itu membuat jantungku hendak loncat untuk keluar--untung aku pegang dadaku. Jarak kita berdua itu sekitar 10 meteran dan makin berkurang saat ia mulai mendekat.
"Hai, sudah lama di sini?" tanyanya sambil tersenyum. Dan aku masih terpaku menatapnya. Pria itu dilihat lama-lama makin menarik dengan kacamata berbingkai hitam. Suaranya pun membuat tenang.
"Hallo?" Pria itu menyapaku lagi, membuyarkan lamunanku.
"Eh, iya udah lama", jawabku terbata-bata.
"Perkenalkan namaku Langit", pria itu mengulurkan tangannya sambil tersenyum. Aku langsung menaruh bukuku langsung menjabat tangannya.
"Hmm namaku Luna", jawabku. "Silahkan duduk, kamu dari mana?", lanjutku sambil mempersilahkannya duduk disampingku sambil menyembunyikan jantungku yang berdebar-debar.
"Aku dari tadi", jawabnya singkat dan lagi-lagi senyumnya itu loh.
"Ah kamu bisa saja"
"Aku serius, aku dari tadi bahkan dari dulu menunggumu. Menunggu untuk dipertemukan denganmu, menunggu kamu move on dari masa lalumu", jawabnya dengan nada bicara yang entah mengapa membuatku tenang. Dan aku hanya terdiam bingung.
"Aku yang disiapkan Tuhan untukmu. Aku jodohmu", lanjutnya dan aku merasa menelan ludah pun berat sekarang.
"Hah? Jodohku? Dari mana kamu tahu aku ini jodohmu?", tanyaku heran tapi ada rasa melambung.
"Dari keyakinanku, jadi tidak perlu kamu tanya lagi alasan keyakinan dari mana hingga aku tahu kamu jodohku. Karena seperti kita meyakini adanya Tuhan", aku yang masih diam kebingungan mendengar penjelasan singkatnya.
"Jadi apa kabarmu, dungde?", tanyanya manja sambil mencubit hidungku yang memang agak besar. Dan jantungku yang kembali berdetak kencang.
"Hmm aku baik-baik saja", jawabku terbata-bata sambil memegang hidungku--takut posisinya berubah.
Dia mampu mencairkan suasana yang membuat kita pun cepat sekali akrab, kita membicarakan segala hal, becanda, dan saat ia mencoba menggendongku lalu tiba-tiba *GUBRAK*
Aku terjatuh dan mengusap-usap pantatku yang kesakitan. Namun tak ku dapati pria bernama Langit itu di depanku, hanya seorang perempuan yang wajahnya tidak asing sedang tertawa puas.
"Hahaha.. Luna tidur kamu lincah banget sih, sampai bisa jatuh gitu. Mimpi apa lagi?" tanya Deby teman kost-ku yang tak henti-hentinya menertawai aku.
"Ah sial cuma mimpi, tapi kenapa begitu nyata", gumamku dalam hati.
"Kenapa lagi kamu?", timpahnya lagi sambil menahan ketawa.
"Gak apa-apa, rese ah.. udah jangan ngetawain aku mulu", kulihat jam dinding menunjukan pukul 6 pagi, saatnya ku siap-siap berangkat kuliah--sembari masih linglung antara merasa masih mimpi atau kenyataan.
Ku sambar handukku yang menggantung dekat kasurku, sambil tak henti-hentinya memikirkan arti mimpiku.
"Seandainya itu kenyataan", keluhku lagi dalam hati. Berjalan pelan menuju kamar mandi, membayangkan wajah pria itu lagi.
"Ah tapi bagaimana kalau itu benar? Bagaimana kalau pria itu memang jodohku? Duh kenapa waktu di mimpi itu tidak kutanyakan nomer teleponnya atau alamat rumahnya", pikirku yang masih termangu di depan pintu kamar mandi.
Pria itu memakai kaos berkerah berwarna putih dan bercelana pendek coklat muda sedang asik melihat sekitar nampaknya. Sesekali ia duduk beralaskan rumput-rumput. Rasa penasaranku pun menjadi. Ingin ku hampiri sekedar berkenalan atau berbagi keindahan di sini tapi aku takut mengganggunya.
Dan tiba-tiba ia melihatku lalu tersenyum, entah kenapa pria itu membuat jantungku hendak loncat untuk keluar--untung aku pegang dadaku. Jarak kita berdua itu sekitar 10 meteran dan makin berkurang saat ia mulai mendekat.
"Hai, sudah lama di sini?" tanyanya sambil tersenyum. Dan aku masih terpaku menatapnya. Pria itu dilihat lama-lama makin menarik dengan kacamata berbingkai hitam. Suaranya pun membuat tenang.
"Hallo?" Pria itu menyapaku lagi, membuyarkan lamunanku.
"Eh, iya udah lama", jawabku terbata-bata.
"Perkenalkan namaku Langit", pria itu mengulurkan tangannya sambil tersenyum. Aku langsung menaruh bukuku langsung menjabat tangannya.
"Hmm namaku Luna", jawabku. "Silahkan duduk, kamu dari mana?", lanjutku sambil mempersilahkannya duduk disampingku sambil menyembunyikan jantungku yang berdebar-debar.
"Aku dari tadi", jawabnya singkat dan lagi-lagi senyumnya itu loh.
"Ah kamu bisa saja"
"Aku serius, aku dari tadi bahkan dari dulu menunggumu. Menunggu untuk dipertemukan denganmu, menunggu kamu move on dari masa lalumu", jawabnya dengan nada bicara yang entah mengapa membuatku tenang. Dan aku hanya terdiam bingung.
"Aku yang disiapkan Tuhan untukmu. Aku jodohmu", lanjutnya dan aku merasa menelan ludah pun berat sekarang.
"Hah? Jodohku? Dari mana kamu tahu aku ini jodohmu?", tanyaku heran tapi ada rasa melambung.
"Dari keyakinanku, jadi tidak perlu kamu tanya lagi alasan keyakinan dari mana hingga aku tahu kamu jodohku. Karena seperti kita meyakini adanya Tuhan", aku yang masih diam kebingungan mendengar penjelasan singkatnya.
"Jadi apa kabarmu, dungde?", tanyanya manja sambil mencubit hidungku yang memang agak besar. Dan jantungku yang kembali berdetak kencang.
"Hmm aku baik-baik saja", jawabku terbata-bata sambil memegang hidungku--takut posisinya berubah.
Dia mampu mencairkan suasana yang membuat kita pun cepat sekali akrab, kita membicarakan segala hal, becanda, dan saat ia mencoba menggendongku lalu tiba-tiba *GUBRAK*
Aku terjatuh dan mengusap-usap pantatku yang kesakitan. Namun tak ku dapati pria bernama Langit itu di depanku, hanya seorang perempuan yang wajahnya tidak asing sedang tertawa puas.
"Hahaha.. Luna tidur kamu lincah banget sih, sampai bisa jatuh gitu. Mimpi apa lagi?" tanya Deby teman kost-ku yang tak henti-hentinya menertawai aku.
"Ah sial cuma mimpi, tapi kenapa begitu nyata", gumamku dalam hati.
"Kenapa lagi kamu?", timpahnya lagi sambil menahan ketawa.
"Gak apa-apa, rese ah.. udah jangan ngetawain aku mulu", kulihat jam dinding menunjukan pukul 6 pagi, saatnya ku siap-siap berangkat kuliah--sembari masih linglung antara merasa masih mimpi atau kenyataan.
Ku sambar handukku yang menggantung dekat kasurku, sambil tak henti-hentinya memikirkan arti mimpiku.
"Seandainya itu kenyataan", keluhku lagi dalam hati. Berjalan pelan menuju kamar mandi, membayangkan wajah pria itu lagi.
"Ah tapi bagaimana kalau itu benar? Bagaimana kalau pria itu memang jodohku? Duh kenapa waktu di mimpi itu tidak kutanyakan nomer teleponnya atau alamat rumahnya", pikirku yang masih termangu di depan pintu kamar mandi.
Sabtu, 01 Oktober 2011
#2 - Aku Ini Siapanya Dia?
Mendapat ajakan malam minggu, hari itu tanggal 23 Januari 2011. Seorang pria yang baru ku kenal 2 bulan di dunia per-blog-an, komentator setia pada postingan blogku. Kaos berkerah biru tertutup jaket tebal dengan motor matic putihnya tiba di rumahku. Ada wangi yang sampai sekarang ku rindukan. Ada senyum manis di balik helm putihnya.
"Masuk dulu yuk, minum aja, aku mau siap-siap dulu. Bentar ya" ucapku. Dia hanya tersenyum. Ah senyum yang hingga sekarang gak bisa aku lupakan.
Malam minggu ini kita pergi nonton di daeerah Serpong. Tentang pendakian dan pembunuhan. Ya aku pikir dia pasti suka, karna dia suka mendaki. Tapi filmnya malah membuatku takut hingga entah sengaja tidak sengaja--karna dorongan hati memegang pergelangan tangannya.
"Maaf." Ujarku, karna takut dia berpikir macam-macam.
Namun kenyataannya aku melalukan itu lagi, tapi dia malah menurunkan pegangan tanganku menuju genggamannya. Jantung bedebar semakin kencang, mungkin dia merasa, tangan ini berkeringat. Entah dengannya, dia mengusap tanganku dengan ibu jarinya. Ah malam yang tak pernah terduga.
Selesai nonton aku dan dia jalan-jalan dulu, bertukar cerita. Pada waktu itu sedang ada acara imlek. Ya aku diajak untuk melihatnya, tapi jalan dia itu ngebingungin, sesekali seperti ingin ke kanan kadang ke kiri, aku yang disampingnya narikin baju dia kebingungan.
"Iiihh kamu tuh mau kemana?" Tanyaku
"Makanya klo bingung jangan tarikin baju mulu, sini pegang tangan aku." Ucapnya santai dengan tersenyum.
Ya tuhan, mungkin aku seperti anak kecil yang baru seperti itu saja rasanya ingin loncat-loncat kegirangan. Aku yang memegang pergelangan tangannya lalu ia turunkan hingga pada satu genggaman tangan kirinya. Muka memanas, dia hanya tersenyum. Aku dan dia akhirnya memilih tempat duduk, malam yang indah. Aku dan dia berbagi cerita tentang kehidupan dan tangan kita pun masih saja berpautan.
Tidak ingin malam ini berakhir, ku peluk dia dari belakang saat menaiki skuter matic-nya.
"Yah, bentar lagi sampai rumah." Keluhku
"Iya, sabar ya nanti kita ketemu lagi. Aku janji." Hiburnya sambil menggenggam tanganku.
Akhirnya tiba di depan rumah, dia tersenyum berlalu. Perpisahan terjadi dengan rasa penasaran. Aku ini siapa dia ya sekarang?
"Masuk dulu yuk, minum aja, aku mau siap-siap dulu. Bentar ya" ucapku. Dia hanya tersenyum. Ah senyum yang hingga sekarang gak bisa aku lupakan.
Malam minggu ini kita pergi nonton di daeerah Serpong. Tentang pendakian dan pembunuhan. Ya aku pikir dia pasti suka, karna dia suka mendaki. Tapi filmnya malah membuatku takut hingga entah sengaja tidak sengaja--karna dorongan hati memegang pergelangan tangannya.
"Maaf." Ujarku, karna takut dia berpikir macam-macam.
Namun kenyataannya aku melalukan itu lagi, tapi dia malah menurunkan pegangan tanganku menuju genggamannya. Jantung bedebar semakin kencang, mungkin dia merasa, tangan ini berkeringat. Entah dengannya, dia mengusap tanganku dengan ibu jarinya. Ah malam yang tak pernah terduga.
Selesai nonton aku dan dia jalan-jalan dulu, bertukar cerita. Pada waktu itu sedang ada acara imlek. Ya aku diajak untuk melihatnya, tapi jalan dia itu ngebingungin, sesekali seperti ingin ke kanan kadang ke kiri, aku yang disampingnya narikin baju dia kebingungan.
"Iiihh kamu tuh mau kemana?" Tanyaku
"Makanya klo bingung jangan tarikin baju mulu, sini pegang tangan aku." Ucapnya santai dengan tersenyum.
Ya tuhan, mungkin aku seperti anak kecil yang baru seperti itu saja rasanya ingin loncat-loncat kegirangan. Aku yang memegang pergelangan tangannya lalu ia turunkan hingga pada satu genggaman tangan kirinya. Muka memanas, dia hanya tersenyum. Aku dan dia akhirnya memilih tempat duduk, malam yang indah. Aku dan dia berbagi cerita tentang kehidupan dan tangan kita pun masih saja berpautan.
Tidak ingin malam ini berakhir, ku peluk dia dari belakang saat menaiki skuter matic-nya.
"Yah, bentar lagi sampai rumah." Keluhku
"Iya, sabar ya nanti kita ketemu lagi. Aku janji." Hiburnya sambil menggenggam tanganku.
Akhirnya tiba di depan rumah, dia tersenyum berlalu. Perpisahan terjadi dengan rasa penasaran. Aku ini siapa dia ya sekarang?
Langganan:
Postingan (Atom)