Mendapat ajakan malam minggu, hari itu tanggal 23 Januari 2011. Seorang pria yang baru ku kenal 2 bulan di dunia per-blog-an, komentator setia pada postingan blogku. Kaos berkerah biru tertutup jaket tebal dengan motor matic putihnya tiba di rumahku. Ada wangi yang sampai sekarang ku rindukan. Ada senyum manis di balik helm putihnya.
"Masuk dulu yuk, minum aja, aku mau siap-siap dulu. Bentar ya" ucapku. Dia hanya tersenyum. Ah senyum yang hingga sekarang gak bisa aku lupakan.
Malam minggu ini kita pergi nonton di daeerah Serpong. Tentang pendakian dan pembunuhan. Ya aku pikir dia pasti suka, karna dia suka mendaki. Tapi filmnya malah membuatku takut hingga entah sengaja tidak sengaja--karna dorongan hati memegang pergelangan tangannya.
"Maaf." Ujarku, karna takut dia berpikir macam-macam.
Namun kenyataannya aku melalukan itu lagi, tapi dia malah menurunkan pegangan tanganku menuju genggamannya. Jantung bedebar semakin kencang, mungkin dia merasa, tangan ini berkeringat. Entah dengannya, dia mengusap tanganku dengan ibu jarinya. Ah malam yang tak pernah terduga.
Selesai nonton aku dan dia jalan-jalan dulu, bertukar cerita. Pada waktu itu sedang ada acara imlek. Ya aku diajak untuk melihatnya, tapi jalan dia itu ngebingungin, sesekali seperti ingin ke kanan kadang ke kiri, aku yang disampingnya narikin baju dia kebingungan.
"Iiihh kamu tuh mau kemana?" Tanyaku
"Makanya klo bingung jangan tarikin baju mulu, sini pegang tangan aku." Ucapnya santai dengan tersenyum.
Ya tuhan, mungkin aku seperti anak kecil yang baru seperti itu saja rasanya ingin loncat-loncat kegirangan. Aku yang memegang pergelangan tangannya lalu ia turunkan hingga pada satu genggaman tangan kirinya. Muka memanas, dia hanya tersenyum. Aku dan dia akhirnya memilih tempat duduk, malam yang indah. Aku dan dia berbagi cerita tentang kehidupan dan tangan kita pun masih saja berpautan.
Tidak ingin malam ini berakhir, ku peluk dia dari belakang saat menaiki skuter matic-nya.
"Yah, bentar lagi sampai rumah." Keluhku
"Iya, sabar ya nanti kita ketemu lagi. Aku janji." Hiburnya sambil menggenggam tanganku.
Akhirnya tiba di depan rumah, dia tersenyum berlalu. Perpisahan terjadi dengan rasa penasaran. Aku ini siapa dia ya sekarang?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar