Halaman

Minggu, 30 Oktober 2011

Hari Bersama Aninditya

Hari ini akan ku pastikan menjadi hari yang teramat manis untuk pacarku yang manis, Aninditya. Hari ini dia mengajakku ke wahana bermain Dufan. Ku pandangi diriku dalam cermin itu, kaos putih bertuliskan “I love her” berwarna merah, rambut yang semi mowhawk membuatku semakin keren, ah jadi geli sendiri.

Ku lihat jam di dinding sudah pukul 8 pagi, sudah waktunya aku berangkat. Ku semprotkan parfum Acqua Di Gio for Men, ku tarik jaket coklat yang menggantung di balik pintu, ku panaskan sebentar motor matic putihku. Tak sabar ingin ku temui Anin.

Selama perjalanan ke rumah Anin, tidak henti-hentinya ku bernyanyi mengalunkan lagu-lagu cinta. Teringat saat pertama kali kunyatakan cinta padanya, sebait puisi untuknya, segenggam tangan menghangatkannya, semakin cinta ku padanya.

Lamunanku dan lagu-lagu cinta yang menemaniku membuatku tak merasakan perjalanan selama satu jam ini. Ku hentikan motorku di depan rumah bergaya minimalis bercat abu-abu dengan tanaman merambat yang menggantung dari atas ke bawah.

“Permisi Om.” Ku sapa pria setengah baya yang sedang mengelapi sepedanya.

“Eh, nak Riyan. Silahkan masuk dulu. Anin sedang siap-siap.” Jawabnya ramah.

“Iya om, saya masuk ya.”

Anin pun muncul dengan senyum tipisnya. Anin memakai cardigan ungu yang dia biarkan tak terkancing hingga kaos putih dengan tulisan “I love him” berwarna merah terlihat jelas. Rambut pendek dengan poni yang ia biarkan sedikit menutupi matanya membuat dia semakin lucu.

“kita langsung berangkat aja yuk.” Ajaknya.

Dalam perjalanan dengan motor maticku, ku rasakan pelukan Anin. Ku sesapi wanginya yang tertiup angin. Perjalanan menuju utara Jakarta butuh waktu satu setengah jam. Tapi ku nikmati dengan Anin yang terus bercerita tentang rencananya kuliah lagi di Aussie. Sedih pasti, tapi kita akan saling percaya.

Sekitar jam 11 kami sampai di wahana bermain tersebut. Tidak begitu ramai karena kita datang lebih awal namun satu jam kemudian wahana ini memang tak pernah sepi pengunjung. Aku dan Anin menikmati wahana bermain satu persatu. Ku lihat senyum dan tawanya sangat ceria. Hingga tak terasa matahari pun menunjukan kepada kami waktu untuk pulang.

Kita tidak langsung pulang, melainkan mampir dahulu ke pantai Ancol sekedar menikmati langit senja.

“Apakah kamu senang sayang?” tanyaku sambil memeluknya di tepi pantai itu dan Anin hanya mengangguk. Ku tatapi matanya yang kini berkaca-kaca.

“Aku sayang kamu, Nin. Kamu tahu itu dan perpisahan jarak tak akan menghalangi cinta kita, kamu tahu itu.” Ku yakinkan Anin dan semakin erat pelukanku padanya.

“Kita pulang yuk, yang. Udah malam.” Pintanya dan aku hanya mampu menurutinya, lagi pula angin malam tak baik untuknya.

Tepat pukul 8 aku mengantarkan Anin. Lelah membalut kami, hingga ku biarkan Anin untuk langsung beristirahat. Ku peluk kembali Anin dan ku ciumi keningnya.

“I love you, Aninditya.”

Aku pun langsung menuju rumahku. Sungguh lelah melekat padaku tapi kegembiraanku bersama Anin membuat semua itu tak kurasa. Saat ku buka jaket coklatku, kurasakan ada sesuatu di balik saku jaketku. Secarik kertas yang ku kenali tulisannya lalu ku baca,

Dear Riyan, kekasihku.

Terimakasih kamu selalu ada di sampingku. Menemani hariku di setiap waktu. Aku mengajakmu ke tempat bermain itu bukanlah suatu hal tanpa alasan, tempat dimana kamu pernah ucapkan cinta di sana. Di mana aku merasakan detakan jantung yang semakin kencang, di mana rasa manis selalu menyeruak dalam ingatanku. Hingga aku tak mau kisah kita berakhir.

Aku suka kata-kata cintamu, aku suka puisimu, aku suka setiap hari denganmu. Namun aku tak mengerti akhir-akhir ini. Dan kau pun tak tahu apa yang ku rasakan. Mendengar kata cinta darimu terasa biasa, bersamamu terasa hambar, memelukmu pun terasa berat. Jika kamu temukan kertas ini, berarti aku telah memilih jalanku, sendiri tanpamu. Ya menurutku itu lebih baik dari pada aku bersamamu namun cintaku telah hilang. Maafkan aku, ku harap kamu temukan seseorang yang bisa menjaga rasa sayangnya padamu, tidak seperti aku. Sekali lagi terimakasih atas semuanya.

Ps: Aku berangkat ke Aussie malam ini, pesawatku terbang pukul 10. Jadi tak usah mencariku.


Sekejap, jantungku seakan berhenti sesaat. Tak percaya tentang 2 hal yang terjadi hari ini. Anin, wanita yang sangat ku cintai hingga kini ternyata cintanya telah lama mati.

Manis.. Manis yang ku rasa
Ku tak rela cintaku berakhir
Ku minta kau katakan cinta
Saat ku terjaga
Adakah kau rasa
Tak seperti diriku kini
Cintaku tlah hilang

Lagu : Geisha - Cintaku Hilang

Tidak ada komentar:

Posting Komentar