Matahari memerah, aku masih melihat sekitar. Berharap ada yang kembali berulang saat itu. Meraih tiap bayanganbayangan yang tersisa pada suatu tempat, tempat yang menjadi kenangan aku dan--pun seharusnya--dia.
Di tempat ini beberapa terlihat banyak perubahan--tentunya--setelah 20 tahun berlalu saat aku pernah bersekolah di sini. Ayunan yang hanya muat untuk satu orang dengan tempat duduknya terbuat dari kayu dan pinggirannya dari rantai besi sebagai pegangangan itu memang sudah tergantikan dengan ayunan yang--mungkin akan--lebih kuat. Lebih kuat saat membiarkan kita berdua bermain-main disini, tidak ada lagi aku yang mendorong, kamu yang naik, tapi kita seiring berada dalam satu ayunan.
Aku dan dia di taman kanak-kanak ini. Mengingat lalu mencoba memunculkan secara visual, dia dengan pedang plastiknya mengusir teman-teman yang lain untuk memberikan aku tempat bermain di papan seluncur (perosotan) itu. "Awas-awas, tuan putri ingin main," Katanya dengan gagah saat itu. Beberapa anak yang lain menyurakinya dan beberapa lainya lagi keheranan. Lalu dia menungguku di bawah.
Aku ingat kejadian saat kamu berlari menghampiriku dengan celana dan kaos kakinya penuh dengan--entah tumbuhan apa itu namanya, mungkin semacam--ilalang, sambil berkata, "ini bunga untuk kamu, aku ambil tadi di belakang sekolah." Dia langsung berlari lagi menuju teman-temannya. Atau kejadian saat dia selalu ingin bermain seperti mama papa, aku jadi mama dan dia menjadi papa hidup bahagia.
Namun semua berubah di hidup aku dan dia dua tahun lalu, tak ada lagi ayunan yang muat untuk dua orang, kembali lagi pada "aku yang dorong, kamu yang naik." Dia lebih memilih untuk mendorongku untuk membuatku melambung lalu jatuh tersungkur.
Dia tidak lagi memegang pedang plastik dan menunggu ku di bawah untuk membiarkan ku meluncur dengan aman. Tapi dia membawa sebuah senjata tajam yang mampu melukai perasaan, dia tidak lagi menungguku di bawah, melainkan di atas untuk mendorongku dan menancamkan luka.
Dia tidak lagi si pemberi bunga, tapi dia si pemberi luka. Dan tak ada lagi permainan mama dan papa, itu memang hanya permainan baginya mempermainkan aku ketika sudah 18 tahun kita menjalin hubungan namun dia lebih memilih menikahi Intan, selingkuhannya yang juga sahabatku, anak baru di Taman kanak-kanak pada pertengahan tahun saat itu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar