Dan,
Aku masih saja merindukan sosok kamu pada senja di jembatan penyebrangan itu.
Tawamu menyeruak mengalun bagaikan nada bersama memori, membawa kenangan.
Seharusnya setengah tahun berlalu tanpamu aku sudah terbiasa.
Tapi kamu terlalu manis, pikiranku menolak untuk melakukannya; melupakanmu.
Kamu, sempurna.
Kamu malaikatku.
Membawaku ke sebuah surga kecil,
membuat hati tak lagi sunyi.
Kamu pemilik segala kerinduan hati yang bernyanyi.
Tahun ini kegembiraan dan kesedihan terjadi karenamu.
Ingin ku anggap ini adalah sebuah mimpi panjang tapi pipiku selalu saja sakit saat ku cubiti, terlebih hatiku.
Dan, pada akhirnya aku harus segera tersadar.
Kamu hanyalah milik senja
Entah senja yang di ufuk mana
Keindahanmu selalu abadi
Meski merah langit sendu menghampiri
Ku paksakan logika memahami
Bahwa Malaikat tak akan selamanya berada di bumi(ku).
Tidak ada komentar:
Posting Komentar