Halaman

Rabu, 16 November 2011

Untukmu yang Bersembunyi

:.... (yang menjadi rahasia dalam genggaman Tuhan)

Aku telah berjalan jauh untuk menemuimu
Mendekati jemari Tuhan
Mendekatkan diri pada Tuhan

Dalam tanganku, tak luput lembaranlembaran doa
Yang hampir seluruhnyanya berisikan tentangmu, kebaikan untukku
Sebab hidup ini tak mudah, dan dua pikiran-mungkin-mampu mengubah menjadi tak sekadar indah.

Ini Tak Hentikanku

Panas terik tak juga hentikan ku melangkah menuju senja pantai nan indah
Sebab aku merindukan oase, itu saja. Namun selalu fatamorgana semata

Angin tak lagi sekadar perlahan, pun pasir tak lagi sekadar menghalangi pandangan
Perih, mataku berair. Kemarau yang tak kunjung berakhir

Batangbatang kesepian saling beradukan, melambai sendu kesakitan.
Sekali lagi ku katakan "ini tak kan hentikan ku melangkah", perjalanan menyedihkan diantara hatihati semu

Demi kamu, seseorang yang berada diujung pantai senja itu; menungguku sedari dulu tanpa ragu.

Selasa, 15 November 2011

Waktu bukanlah jarak kita.

Kita sudah lama bersama. Kamu dan saya mempunyai ikatan yang kuat--ya memang seharusnya begitu. Namun, kesukaanmu dan saya, hobimu dan saya, kesibukanmu dan saya, menjauhkanmu dengan saya--saat itu.

Malam itu, saya pandangi wajah lelahmu saat terlelap. Mengingatkan segala hal tentang kamu. Saya ingat jarak kita dulu jauh, namun tidak menyurutkan cintamu. Jakarta - Bandung bukan masalah. Kamu mendatangi saya sekali atau dua kali dalam sebulan.

Saya ingat saat kamu datang dari jakarta setelah mungkin satu bulan tak bersua, kamu dengan boneka teddy bear hitam lucu yang hingga kini masih ada untuk saya jaga. Saya juga ingat saat jarak tak lagi menjadi masalah karena kita satu tempat tidak melunturkan cintamu dengan kejenuhan namun selalu memberi saya ice cream setiap hari.

Waktu berlalu, sayang saya ke kamu selalu sama begitu pula denganmu. Saya ingat caramu menyiapkan bekal untukku yang terlalu sibuk dan hingga melupakan makan.

"Ini buat kamu, dimakan ya." Ujarmu menyodorkan roti bakar tanpa isi, sengaja katamu agar badan saya tidak melebar.

"Saya mencintaimu" bathin saya.

Dan saya takut kehilanganmu, terlebih pada kejadian sebulan lalu. Kamu pulang dengan wajah memar dan luka juga darah yang terus menetes di dagumu.

"Tadi ditabrak dari kiri. Kata orang-orang sih langsung pingsan di tengah jalan. Lalu dibawa ke pinggir. Si penabrak kabur" Ujarmu yang masih menahan sakit

Ya Tuhan, saya peluk kamu, menangis dalam pelukmu.

"Tuhan, terimakasih masih menyelamatkannya."

Sayang saya ke kamu memang tak sebanding dengan apa yang telah kamu korbankan untuk saya. Kamu cape saya tahu, namun kamu selalu merasa ini adalah tanggung jawabmu. Walau tidak ada waktu lagi kita untuk sering bersama, seperti saat dahulu kamu menyempatkan waktu untuk menemani saya mengikuti lomba mewarnai dan hanya menggeleng-geleng kepala saat melihat warna awan saya yang hitam.

"Awannya kan sedang mendung. " Jawab saya enteng, kamu pun tertawa kecil.

Namun kejadian kecil seperti tawa yang tergelak saat kamu membonceng saya dan kita hampir saja terjatuh karena jok motor yang licin lalu tak henti-hentinya tertawa sepanjang perjalanan, itu sangat amat luar biasa indahnya.

Untukmu yang kini menghitam terbakar matahari, garis kulitmu menunjukan usiamu, untukmu yang selalu berkorban, untukmu. Ya untukmu yang mencintai keluarga kecilnya. Saya menyayangimu dengan sangat, Ayah.

Anakmu, Mirna.

Jumat, 11 November 2011

11.11.11

Suatu hari dalam satu tahun pasti saja ada angka-angka cantik. Tahun ini angka satu jadi dominan, 01.01.11 atau 11.11.11. Ada yang memilih untuk menjadikannya hari pernikahan, jadian, melahirkan, melamar, dan saya tidak dapat mendapatkan hal-hal itu.

Melahirkan? Suami saja belum punya. Dilamar? Menikah? Sama siapa? Jodoh saya masih senang bersembunyi dengan waktu. Jadian? Sama siapa pula? Tidak ada yang sedang dekat, jika ada pula pun itu memang ada tapi saya menghindari, tidak mau dengan pria yang sudah punya pasangan, ya walau bukan pasangan hidup dan janur kuning belum melengkung, sedapat mungkin saya tidak akan--jatuh--cinta. Pun Tuhan masih melindungi saya dari cap yang buruk.

Tapi sesuatu yang indah bukan hanya pada tanggal segitu, bukan? Saya setiap hari selalu mendapatkan kehangatan dan perhatian, dari anak-anak dibawah 11 tahun. Pekerjaan saya, walau hanya sebagai guru tapi selalu mendapat perhatian, pelukan, walau kadang saya memang harus tegas terhadap anak yang malas. Setidaknya ini semua buat saya belajar menghadapi keluarga kecil nantinya.

Menikah? Siapa sih yang tidak ingin menikah, tapi saya belum ingin sekarang. Masih banyak yang harus saya tuntaskan, saya persiapkan. Jikapun saya pernah berucap pada (mantan) pacar saya, "aku tidak sabar ingin segera menikah denganmu." Lalu mulai membicarakan hal-hal indah setelah itu, abaikan saja, jangan dianggap serius lalu membuatmu--pacar-saya-kelak--tertekan karena merasa diburu-buru. Karena kalimat itu hanya kalimat pengganti "aku ingin bersamamu, selamanya. Itu saja."

Tanggal cantik katanya lebih mudah diingat nantinya. Tapi bagi saya semua tanggal cantik, semua tanggal jadian dan putus dengan (mantan) pacar saya saja masih ingat--karena memang kurang dari 5 jari tangan. Siapa sih yang gak kan ingat dengan hari bersejarah dalam hidup? Tapi siapa pula yang gak pengen punya sesuatu yang unik? Menambah suatu hal untuk dikenang bukan?