Halaman

Selasa, 15 November 2011

Waktu bukanlah jarak kita.

Kita sudah lama bersama. Kamu dan saya mempunyai ikatan yang kuat--ya memang seharusnya begitu. Namun, kesukaanmu dan saya, hobimu dan saya, kesibukanmu dan saya, menjauhkanmu dengan saya--saat itu.

Malam itu, saya pandangi wajah lelahmu saat terlelap. Mengingatkan segala hal tentang kamu. Saya ingat jarak kita dulu jauh, namun tidak menyurutkan cintamu. Jakarta - Bandung bukan masalah. Kamu mendatangi saya sekali atau dua kali dalam sebulan.

Saya ingat saat kamu datang dari jakarta setelah mungkin satu bulan tak bersua, kamu dengan boneka teddy bear hitam lucu yang hingga kini masih ada untuk saya jaga. Saya juga ingat saat jarak tak lagi menjadi masalah karena kita satu tempat tidak melunturkan cintamu dengan kejenuhan namun selalu memberi saya ice cream setiap hari.

Waktu berlalu, sayang saya ke kamu selalu sama begitu pula denganmu. Saya ingat caramu menyiapkan bekal untukku yang terlalu sibuk dan hingga melupakan makan.

"Ini buat kamu, dimakan ya." Ujarmu menyodorkan roti bakar tanpa isi, sengaja katamu agar badan saya tidak melebar.

"Saya mencintaimu" bathin saya.

Dan saya takut kehilanganmu, terlebih pada kejadian sebulan lalu. Kamu pulang dengan wajah memar dan luka juga darah yang terus menetes di dagumu.

"Tadi ditabrak dari kiri. Kata orang-orang sih langsung pingsan di tengah jalan. Lalu dibawa ke pinggir. Si penabrak kabur" Ujarmu yang masih menahan sakit

Ya Tuhan, saya peluk kamu, menangis dalam pelukmu.

"Tuhan, terimakasih masih menyelamatkannya."

Sayang saya ke kamu memang tak sebanding dengan apa yang telah kamu korbankan untuk saya. Kamu cape saya tahu, namun kamu selalu merasa ini adalah tanggung jawabmu. Walau tidak ada waktu lagi kita untuk sering bersama, seperti saat dahulu kamu menyempatkan waktu untuk menemani saya mengikuti lomba mewarnai dan hanya menggeleng-geleng kepala saat melihat warna awan saya yang hitam.

"Awannya kan sedang mendung. " Jawab saya enteng, kamu pun tertawa kecil.

Namun kejadian kecil seperti tawa yang tergelak saat kamu membonceng saya dan kita hampir saja terjatuh karena jok motor yang licin lalu tak henti-hentinya tertawa sepanjang perjalanan, itu sangat amat luar biasa indahnya.

Untukmu yang kini menghitam terbakar matahari, garis kulitmu menunjukan usiamu, untukmu yang selalu berkorban, untukmu. Ya untukmu yang mencintai keluarga kecilnya. Saya menyayangimu dengan sangat, Ayah.

Anakmu, Mirna.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar