Halaman

Minggu, 02 September 2012

Cinta Pandangan Pertama

   “sial, telat”
Aku bergegas masuk ke theater dengan membawa popcorn di tangan kiriku dan tiket di tangan kananku. Karena asik jalan-jalan sendiri mengitari mall aku tak sadar waktu 30  menit begitu cepat berputar.

   “E 13” pikirku coba untuk mengingat karena lampu theater ini baru saja digelapkan. Sengaja aku pilih tempat di tengah karena jauh dari orang yang berpacaran, iya aku belum punya pacar semenjak 2 tahun lalu dikecewakan, hati pun mati rasa. Entah menjadi orang yang sulit jatuh cinta.

   “hmm, L, K, I, H, G, F, dan yup E.” Ucapku riang dalam hati mencari lokasi tempat duduk dalam kegelapan. Perlu melewati 2 orang untuk mendapati posisi tempat dudukku.

    “Tapi, tunggu. Kok ada orangnya ya?” kembali ku lihat tiket di tangan kananku namun sesaat kemudian  telepon genggamku berdering. Gawat lupa di-silent. Kurogoh handphoneku di dalam saku sembari berjalan saja aku ke bangku disebelahnya yang kosong yang berarti E 15.  Namun kakiku tersandung dan aku terjatuh tapi pria E 14 memegangiku, jika tidak aku tersungkur kelantai. Spontan ku lontarkan maaf padanya dan segera duduk namun senyumnya mengalihkan pandangku untuk sekian detik menatapnya. Tapi handphone ku tak henti-hentinya berdering.

   “hallo” bisikku saat mengangkat telepon

   “lo di mana, cha? Jadi nontonnya?” suara perempuan yang tak asing bagiku. Dia adis, sahabatku.

   “jadi, lo sih susah bener diajakin sih.” Jawabku datar

   “makanya punya cowo dong hahaha.” Adis tertawa puas

   “sial, ish. Udah ah gue mau nonton dulu” langsung saja ku tutup teleponnya dengan jengkel

Kurapihkan posisi dudukku, menatap sedih melihat popcornku yang hampir tertumpah semua akibat terjatuh tadi. Untung saja filmnya belum mulai, baru iklan-iklan film yang akan segera datang. Namun teringat dengan pria disebelahnya.

   “eh maaf ya tadi, tapi makasih juga udah ditolongin” aku menatap pria itu yang wajahnya yang tampan terpantulkan cahaya layar film. Seperti adegan slowmotion dia pun menoleh pelan.

   “oh iya gak apa-apa, lagi buru-buru ya?” jawabnya dengan suara yang mengingatkan aku kepada artis Vino G. Bastian. Dan entah lagi-lagi senyumnya itu manis dan memakukanku sesaat.

   “eh iya, ini tadi aku bingung ada yang duduk di tempat dudukku terus ada telepon, lengkap deh.” Jawabku sembari merasa aneh, entah hanya memandangnya mengapa seperti ada yang menguap dalam perutku.

    “oh emang kamu duduk nomer berapa? Ya sudahlah bangkunya kosong ini kan. Kamu nonton sendiri?”

   “oh iya ya aku nonton sendiri, kamu?” jawabku cepat dengan segera menenangkan jantung yang sedari tadi berdegup kencang.

    “aku juga, eh filmnya udah mulai tuh.” Lagi-lagi senyumnya dan aku hanya menganguk-angguk.

Aku jatuh cinta kepadamu
Saat pertama bertemu

Aku menonton film dengan perasaan tidak karuan. Selama pemutaran film sedikit kita mengomentari filmnya.

   “abis ini kamu mau ke mana?” tanyanya saat film usai

   “oh makan mungkin.”

   “eh sama, yuk bareng. Aku juga sambil nunggu  temen nih.” Jawabnya santai

  “uhm okay.” Entah wajahku terasa panas, ada desiran pelan menuju hatiku.

Setibanya di sebuah cafe aroma kopi pun langsung terhirup segar. Pria itu  memilih tempat duduk di lantai dua caffe ini yang tidak begitu ramai, Kini pria itu duduk tepat di depanku. Aku tersenyum menatapnya sembari mencoba menjelajahi setiap sudut caffe ini, hanya ada pelayan yang lalu lalang namun dia tiba-tiba tertawa kecil.

    “Heh kamu sadar gak sih, kita jalan gini tapi belum kenalan.” Aku pun baru tersadar kalau kita memang belum berkenalan. Aku terlalu sibuk untuk menenangkan hati.

   “oh iya ya, bodoh. hahaha.” sambil menepuk keningku aku tertawa lepas bersamanya, lalu aku mengulurkan tanganku.

      “aku Icha” ku coba berikan senyuman termanisku

     “hei Icha, aku Rio. Senang berkenalan denganmu.” Balasnya dengan senyum menggoda khasnya. Entah aku spontan mencubit perutnya seperti sudah akrab sekali.

Kita pun berbincang tentang dia dan pekerjaannya sambil menunggu temannya. Aku seperti terbangun dari mati suriku akan cinta. Aku benar-benar jatuh cinta setelah sekian lama tak merasa ini. Aku pikir cinta pada pandangan pertama itu hanya ada di FTV dan menertawakan setiap adegan-adegan yang sepertinya tidak mungkin untuk orang bisa secepat itu jatuh cinta.

Tidak lebih dari sejam kita mengobrol asik temannya pun datang. Pria tinggi bersih yang tampannya tidak jauh beda dengan Rio. Namun ada hal yang mengherankan, saat bertemu dengan temannya ini ada tatapan yang beda.

   “Oh iya Andri, ini Icha. Icha ini Andri.” Rio yang mencoba memperkenalkan aku dengan temannya itu. Aku berdiri dan mengulurkan tanganku namun “GLETAK” handphoneku jatuh tapi kuabaikan saja dahulu.

    “Eh iya, aku Icha.” Jawabku canggung karena melihat tatapan Andri yang sepertinya tidak suka melihatku.

   “aku Andri” jawabnya singkat. Dan kami semua duduk kembali. Andri dan Rio, dua pria tampan yang duduk di depanku

   “tinggal di mana Andri? Maaf ya mau ambil handphoneku dulu.” Aku bertanya sambil membukukan badanku mencoba meraih handphoneku di bawah meja. Belum juga dijawab oleh Andri tiba-tiba pandanganku yang tertuju pada handphone putihku teralihkan pada dua orang yang saling menggenggam tangan.

    “Ya Tuhan, ternyata mereka...”

Oh mungkin, hanya keajaiban Tuhan
Yang bisa jadikan hambanya yang manis
Menjadi milikku



Ditulis untuk meramaikan #30harilagukubercerita
Terinspirasi dari lagu Kasidah Cinta – Dewi dewi

Senin, 27 Agustus 2012

Satu Orang Galau, Dua, Tiga Orang Terpengaruhi

Di suatu bimbingan belajar, kelas intensif menghadapi UN SMP yang seminggu lagi namun kelas sudah mulai tak kondusif dan bersemangat belajar. Isna, guru bidang studi Matematika di salah satu bimbingan belajar.

“Oke, assalamu‘alaikum, selamat malam.” Sapa Kak Isna yang baru memasuki ruangan yang berisikan 12 siswa.

“wa‘alaikumsalam. malam.” Jawab siswa serentak. Beberapa langsung memperbaiki posisi duduknya, sebagian yang lain masih asik mengobrol dan Tentor—panggilan untuk guru les—melihat sekeliling dan tersenyum.

“oke, yuk kita mulai belajarnya. Ini pertemuan terakhir kita, jadi kakak hanya akan membahas sesuatu yang kalian belum paham. Hingga saat ini di Matematika materi apa yang belum kalian mengerti?”

“kak, saya bingung yang ada modal awal, modal akhir terus ditanya bunga dalam berapa bulan gitu. Itu gimana ya caranya?” tanya Bima

“Oh itu aritmatika sosial ya? Oke jadi contohnya kalau.....” kak Isna menjelaskan dengan santai lalu sambil melihat sekeliling yang mulai ribut.

“Ini masa kakaknya ngejelasin masih aja rame, ayo dong perhatikan. Coba itu kamu yang dipojokan udah jangan mainan hape aja.”

“Syifa lagi galau kak, baru putus dia.” Celetuk Adit sambil tertawa dan diikuti oleh teman-temannya.

“Ah diem lu, dit” sergah Syifa sambil memasukan hape-nya

“Kak, saya suka bingung belajar Matematika.” Lanjut Syifa

“Bingung kenapa?” tanya tentor Isna dan mengernyitkan dahinya.

“Kita belajar matematika tapi kok tidak ada penerapan dalam kehidupan sehari-hari, terlebih dalam suatu hubungan.” Jawab Syifa dengan memasang wajah polos dan sepertinya patut dikasihani.

“Ada kok.” Kak Isna menanggapi.

“Masa kak? Buktinya saya belum pernah menemukan contoh soal bagaimana menyelesaikan permasalahan jika modal awalnya adalah cinta dan mendapat bunga-bunga kehidupan yang indah tapi modal akhirnya yang saya terima selalu menerima kepahitan.” Syifa yang memasang ekspresi datar itu membuat satu kelas pun tertawa.

“Jrit, Syifa galau klimaks.” Sambar Ghozi.

“Eh tapi bener ya kak, kita belajar Matematika penerapan pada kehidupan sosialnya terlebih pada kehidupan asmara itu tidak ada.” Fitri pun ternyata ikut-ikutan.

“Contohnya kita belajar Peluang. Tapi kita tidak diajarkan mendapatkan Peluang yang kita hitung atau kita cinta. Mentok-mentok di Peluang Harapan.” Lanjut Fitri sambil cengengesan.

“Eh eh eh, kok jadi galau semua gini?” Kak Isna memukul-mukul papan tulis untuk menghentikan keributan di dalam kelas.

“Udah yuk kak kita ngobrol aja, bosen belajar melulu.” Keluh Syifa

“Kok gitu? Udah jadi mana lagi yang ingin ditanyakan lagi?”

Eka yang duduk di depan langsung membuka kertas dihadapan Tentor Isna dan membacakan soal matematika yang menurutnya membingungkan. “Ini kak, kalau ada soal seperti, suatu pekerjaan direncanakan 30 hari dengan 15 pekerja tapi baru dikerjakan 6 hari dan terhenti selama 4 hari. Jika pekerjaan itu diteruskan, berapa pekerja yang harus ditambahkan?”

Hening sesaat, terlihat kak Isna sedang berpikir. “Oh ini namanya perbandingan berbalik nilai, Ka. Jadi kamu tinggal mengalikan ini dan ini lalu hasilnya dikurangi sama pekerja awalnya.” Kak Isna menjelaskan di papan tulis dengan pelan-pelan.

“Kak, kalau soalnya gini kak. Jadi jika ada pacar yang selalu membandingkan pacarnya yang sekarang dengan mantannya itu masuk ke perbandingan apa kak?” Adit kembali cengengesan sambil melirik Syifa.

Kak Isna hanya menghela nafas dan melanjutkan mengajarnya mengenai Fungsi dan Pemetaan  namun tiba-tiba Adit celetuk. “Kak, kita belajar Fungsi dan Pemetaan tapi kok saya sudah nyoba memetakan hati saya ke dia kenapa tidak berfungsi mengubah pemikirannya?” Adit pun memberi cengirannya.

Kak Isna hanya mengusap-ngusap dahinya. “Aduh ini kalian menjelang UN jadi pada galau semua ya?”

“Kak, punya pacar?” Tanya Syifa

“Kenapa?” Kak Isna mulai curiga

“Umur kakak berapa?” Lanjut Syifa

“Ih kamu mauan deh, mau banget atau mau aja? 25 kenapa? Kamu punya kakak”

“yeay kakak. Cuma mau ingetin umur kakak aja sih kak. Kok aneh belum nikah kak?” Hening sesaat lalu siswa pun tertawa memecahkan keheningan. Kak Isna hanya  bisa menghela napas.

Kamis, 23 Agustus 2012

Semacam Renungan Aja

Saya punya Tuhan yang baik, Allah. Selalu mempertemukan saya dengan orang-orang yang memang direncanakan untuk belajar. Belajar segala hal, belajar ilmu bermanfaat, agama, bahkan belajar cinta dan kekeluargaan serta tegang rasa *kaya pelajaran PKN aja*. Ya walau hanya bertemu untuk jadi temen curhat atau mengenalkan lagi ke orang lain lalu mempertemukan saya dengan kerjaan baru saya, dengan jodoh saya mungkin. Gak ada yang sia-sia di dunia ini, begitu pun dengan pertemuan-pertemuan dengan orang lain. Meski kadang suka ngerasa “aduh gak kuat.” Sedih, galau, ngeluh sering saya ngalaminnya. Padahal kan Allah memberi ini semua cobaan buat saya makin dewasa. Maafin nae ya Allah.

Saya selalu merasa Allah itu orang tua saya. Tempat meminta sesuatu, seperti anak kecil yang meminta sesuatu kepada orangtuanya. Saya pernah meminta sesuatu ya yang mungkin salah, kalau diibaratkan itu anak kecil yang merengek ingin sesuatu, masih belum tahu apakah itu baik atau tidak tapi tetap merengek namun orangtua akhirnya memberikan agar si anak belajar. Istilahnya dalam psikologi jika ingin melarang sesuatu itu tidak boleh menggunakan “jangan” atau “tidak”. Tapi orangtua memberi penjelasan dahulu kenapa hal tersebut tidak boleh dilakukan, bahayanya apa. Namun kalo si anak ngeyel kan nanti disuruh nyoba aja, tapi dari jauh. Bukan berarti mempersilahkan anak  terjerumus ke jalan yang salah, gak begitu. Ya seperti itu, saya pernah meminta sesuatu dan mungkin itu salah lalu Allah memberikan petunjuk-petunjuknya untuk kembali ke jalan yang benar *asik kaya ustadzah aja*.

Ya, itu yang saya alami. Manusia kan selalu dihadapkan pada beberapa pilihan yang setiap pilihannya memiliki konsekuensi. Tapi saya percaya aja sama Allah. Apapun pilihannya nanti jika itu salah, Allah akan memberi petunjuk kok. Tapi saya tetep aja ya ngebandel gitu masih suka ngelanggar atau belum mengikuti ajaran sebenarnya dalam al-qur’an. Ya ada usaha kok buat lebih baik sih. Saya sayang Allah, terima kasih telah selalu menjaga saya dan hati saya juga iman saya yang naik turun gak jelas semoga semakin jelas dan mendekat kepada-Mu.



Bandung 01.05
23 Agustus 2012

Rabu, 15 Agustus 2012

Rumahmu

Aku senang duduk di kursi kayu taman, ya taman depan rumahmu. Menunggu pintu rumahmu terbuka dengan sesekali mengayunkan kakiku, sebagai penghilang penat.

Rumahmu teduh, sangat teduh. Membuatku nyaman berlama-lama di sana. Meski beberapa tahun lalu rumah ini didatangi orang yang berlalu lalang untuk mengisi keriangan rumahmu, namun kini sepi, namun tak juga kamu membiarkan ku masuk.

Tapi aku tak mau diam, aku berlari mengitari rumah tempat yang kamu diami, nyaman. Lariku dengan riang, leloncatan seperti anak kecil yang sedang kesenangan. Aku intip rumahmu dari jendela yang kacanya sedikit retak, mungkin pernah terbentur sesuatu yang keras. Belum juga diperbaiki. Aku intip dari kaca yang sedikit berdebu, ku bersihkan dengan lengan bajuku, arahnya memutar. Ku lihat dirimu tersenyum melihatku. Jantungku berdetak semakin kencang, sangat hebat. Samar-samar wajahmu sayu teduh, namun matamu terlihat keresahan mendalam di sana.

Aku berlari menghindari rumahmu. Takut mengganggu, pikirku. Tapi akalku terus berputar, memikirkan bagaimana mengajakmu keluar, menikmati indah bersama, aku dan kamu
Tangga sudah ku siapkan, aku sedang ingin membuatkan pelangi. Merah, jingga, kuning, hijau, biru, nila, dan ungu. Kuwarnai langit rumahmu dengan simpul pelangi yang indah.

Ya, aku sedang menarik perhatianmu, cara entah kesekian kalinya aku berbuat ulah agar kamu memperhatikanku. Namun, kamu hanya mengintip dari balik jendela, lalu kembali menarik kain penutup jendela.

Hujan deras mengguyur rumahmu, menghapus pelangiku untukmu. Aku duduk di kursi tamanmu, menggigil. Dingin, sangat dingin. Sama seperti sikapmu. Kembali ku lihat kamu mengintip di jendela menatap ku iba. Tapi kembali lagi kamu menarik kain penutup jendela tersebut.

Suatu hari aku menemukan tulisan di rumahmu, "Tunggu, ku perbaiki dulu rumah ini. Akan ku bukakan pintu untukmu. Tapi tunggu."

Aku menunggu, waktupun berlalu. Rumahmu belum juga diperbaiki, pintunya pun tak juga terbuka untuk membiarkan ku masuk. Aku termenung, apakah aku terlalu memaksakan kehendakku? Mungkin aku harus pulang, dengan meledak-meledakan balon berisikan asa untukmu.

Aku pulang, mungkin rumahku belum cukup huni jika kita nanti bertukaran rumah. Aku akan buat rumahku nyaman, untuk kamu siap huni nantinya.

posted from Bloggeroid

Sabtu, 05 Mei 2012

Selamat Ulang Tahun, Kamu

Hey halo. Apa kabar kamu? Ya, aku harap kamu baik-baik saja. Dan sepertinya memang begitu. Seharusnya aku posting ini pada tanggal 30 April lalu, Cuma baru sekarang aku sempat menulisnya.

Hmm dari mana ya? Aku selalu bingung memulai dari mana jika ingin memulai percakapan denganmu. Mungkin terasa aneh, hampir satu tahun berlalu aku masih suka menuliskan hal-hal berhubungan denganmu, seperti tulisan ini. But I don’t care what people think about me, termasuk mungkin pemikiranmu yang menganggap aku belum move on. Seseorang tidak harus memiliki pacar dahulu untuk dikatakan dia sudah move on, bukan?

As the title of the post, I just wanna say Happy Birthday to you. Biasanya di pergantian hari, aku menelponmu lalu memberikan doa-doa terbaik untuk kamu. Aku ingat bagian terakhir dari doaku untukmu. “... Semoga kamu terus menyayangiku, dan makin sayang.” Ya sama seperti doa-doa para kekasihnya. Dan kamu menjawab “Amin amin, terus doakan aku ya. semoga.”

“Doaku dan sayangku menyertaimu”

Maaf ya, aku hanya bisa mendoakanmu dari sini. Semoga dengan bertambahnya usiamu sekarang kamu selalu terus semangat, jika ada kesulitan berdoalah dalam solatmu dan mendekatkan diri pada yang maha kuasa. Ayo mulai untuk rajin solatnya ya. Ini untuk kebaikanmu juga. Maaf jika dahulu mungkin caraku salah mengajakmu untuk ibadah lalu menjadi perdebatan kita karena aku ingin mencintaimu karena Allah.

Aku tak seperti kamu yang kreatif sekali memberikan kado video kata-kata romantis. Di saat aku sudah buat, scrapbook dan video untukmu. Tuhan berkehendak lain. Tidak apa, yang penting kamu bahagia. Bicara tentang bahagia, sepertinya kamu sudah beberapa kali mendapat pengganti aku ya. I glad to hear that. Listening a good news about you is a good thing about me. Seriusan.  Semoga dia mampu mengajakmu dalam kebaikan. Tidak dengan aku.

Aku selalu berharap kamu bisa mencapai apa yang kamu cita-citakan, mendapat apa yang kamu inginkan dan selalu didampingi dengan orang yang kamu sayang, pun keinginanmu yang menikah muda. You’re a nice person. Saya yakin kamu bisa, kamu dapat.



Untuk kamu yang ahli psikolog,

Terimakasih pernah menjadi psikolog pribadiku

Terimakasih pernah mencintaiku>

Terimakasih, dan

Selamat mengulang tahun kelahiran.

Kamis, 26 April 2012

Tiket Surga

Pantai senja menjingga, dari pelataran rumah. Terdengar riuh camar yang menyenangkan, deru ombak yang memecah sayup, dan wangi lautan segar terhirup. Aku duduk di kursi kayu cokelat yang menua karena rayap dan waktu, termenung menatap hamparan luas langit dan laut sebagai cerminnya.

Aku suka pantai, suka sekali. Kamu ingat permainan air yang kita lakukan bersama? Kita seperti anak kecil yang baru menemukan air, tertawa bersama, bermain hingga lelah. Lalu kita berbaring dengan beralaskan pasir putih pantai, menatap matahari kembali pada pelukan laut yang dingin. Dan jutaan, oh bukan tapi miliaran Bintang menggantikan sinar matahari dengan bulan yang selalu cantik. Namun tak kan mengalahkan cantiknya aku, katamu.

Kita suka pantai, ada damai yang terasa saat berada di sana. Hingga suatu saat kita punya mimpi, membangun rumah ditepian pantai. Tempat di mana kita akan menua bersama, dengan anak-anak kita kelak, pun berkumpul dengan cucu-cucu lucu kita. Untuk memperindah, kita akan bangun taman bunga, kita akan tanam berbagai macam bunga yang bisa ditanam di sana, tapi tidak untuk bunga melati dan kamboja, jangan. Tidak lupa ayunan kayunya, katamu agar menyatu dengan tamannya maka buatlah ayunan dari kayu.

Hidup denganmu laksana menemukan surga kecil. Pelangi setelah hujan yang melagu haru, dan puisi indah yang tak lekang oleh waktu. kamu lelaki hebat yang tak kenal mundur. Iya kamu tak kenal mundur, ingatkah kamu saatt kamu ingin memberikan ku boneka dengan usaha mengambil di mesin boneka yang mengharuskan kita memasukannya sebuah koin untuk menggerakan tuas. Koin 1, 2, 3, 4 berlalu begitu saja masuk kedalam perut mesin.

"Sudah sayang, tidak apa." Ucapku yang tak henti-hentinya tersenyum dan mengelus punggungmu. Namun pada koin ke-13 yang kamu masukan, koin keberuntungan. Akhirnya kamu mendapatkan boneka singa kecil berwarna kuning.

Sambil tersenyum, pria bermata hitam itu berbinar, "Jangan menyerah pada kegagalan, kita harus coba lagi dan lagi. Semangat!" kamu pun memberikan singa kecil itu. Lalu merangkulku beranjak dari depan mesin boneka itu.

Menikah, aku dan kamu memutuskan untuk mengakhiri hubungan dengan indah. Ya, menikah. Dan malam pertama kita hanya berbincang tentang masa-masa sulit selama pacaran di atas kasur air. Berbincang bagaimana setelah ini, kamu yang berbaring dengan posisi miring menatapku lekat-lekat berkata,

"kita menikah bukan berarti mendapatkan cerita yang happy ending. Tapi kita baru saja memulai fase baru kehidupan yang kelak akan selalu bertemu masalah. Pasti ada saatnya kita salah paham dan bertengkar. Namun anggaplah kita sedang mengiris bawang, dan berada dekat dengan irisan bawang tersebut, memedihkan mata hanya beberapa saat saja. Kita mungkin menangis, wajar. Tapi ini hanya sesaat, kuat dan terus bertahan. Aku akan selalu menjagamu dan setia mencintaimu sepanjang usia Tuhan." Kamu tersenyum lalu mendaratkan kecupan di keningku.

Aku memelukmu erat dan membisikan kata, "Pun aku yang mencintaimu karena Allah."

Aku suka saat kita melakukan solat berjamaah. Kita saling mendoakan untuk beli tiket ke surga nanti. Usai solat, aku suka bagian di mana aku menciumi punggung tanganmu lama, cukup lama. Karena kamu pun mencium keningku yang sebelumnya telah kamu bisikan doa dan meniupkannya diubun-ubun kepalaku. Hal yang akan menjadi kebiasaan untuk anak-anak kita. Sayangnya kita tidak punya anak. Hingga sekarang, hingga kamu telah tiada.

50 tahun pernikahan kita, 28 tahun tanpamu. Jeritan hati seorang yang merinndukanmu sangat, mungkinkah akan terdengar jelas di telingamu. Aku selalu mendoakanmu, selalu. Tidak pernah terputus. Masih di tempat kesukaan kita, di rumah kayu tepi pantai. Masih ditemani warna senja yang indah serta kicauan camar dan deburan ombak yang selalu pergi dari pantai beberapa saat dan datang kembali sebagai buih-buih di pantai. Begitu pun pada dirimu, kamu pergi menghadap Illahi dan mungkin akan datang masanya kita bertemu kembali memegang tiket menuju surga.
Kini aku sedang menghitung mundur detik-detik untuk sekiranya Allah menemukan aku dengan dirimu. Entahlah alam mengatakan begitu, karena senja hari ini lebih gelap dan dingin dibanding senja-senja sebelumnya.

------------------------------------------------------- Tulisan ini dibuat berdasarkan permintaan tantangan 10 frase kepada kak @riestianto :) Terima kasih kak ;)



posted from Bloggeroid

Jumat, 13 April 2012

-untitle

Langit malam sepakat denganku
Jatuh ke bumi
Lebih dari rintik
Memeluk setiap peluh
Memandangi kembali matamu,
mencari setiap hal yang mungkin serupa
pada hal yang mungkin kau upayakan
namun ku sadari ternyata bukan
aku berangan pada ingin yang menjadi mimpi
dan kamu hanya menganggapku angin
berlalu menyejukan sesaat hati

posted from Bloggeroid

Minggu, 25 Maret 2012

Untuk Sebuah Nama di Media Sosial Online

Pagi itu saya terbangun dengan wajah memerah. Semalam saya mendapatkan mimpi indah. Di dalam mimpinya ada seorang pria—entah siapa—menyatakan perasaannya. Tapi saya jawab "nanti dulu, beri saya waktu". Sombong sekali saya ini. Namun penolakan saya ini bukan tidak beralasan karena hari ini saya akan bertemu pria yang saya memang dari dahulu ingin saya temui dalam dunia nyata. Siapa tahu dia ingin menyatakan perasaannya juga—tolong bangunkan saya dari hayalan ini.

Pria ini saya kenal di jejaring sosial facebook, kita berteman sejak Mei 2009. Tak ada yang menarik dari pertemanan kita. Layaknya teman facebook dan saya pun baru mengenal facebook. Jadi setiap orang yang add saya dan tampan—maklum saja 2009 saya masih ababil—langsung saya konfirm. Tapi hanya sebatas itu, tidak bertegur sapa. Dia hanya mengucap terimakasih dan kita menjalani kehidupan masing-masing di dunia facebook.

Saya memang suka mengintip facebooknya, melihat fotonya—tidak apa bukan mensyukuri dan memuji ciptaan Tuhan? Saya sadari saat itu memang masih genit, hehehe. Dan keadaan berubah saat dia menyapa saya di message FB.

"Mirna Ermawati." Pesannya

"Ya Ilan" *bukan nama sebenarnya :p

Lalu setelah kejadian itu dia pun mengajak saya beberapa kali chat, bergurau dan mengobrol hal-hal tidak penting. Saya ingat dia punya julukan untuk saya "ih na SERING deh"—Seru tapi garing.. Kejadian tersebut tepatnya terjadi pada tahun Agustus 2010. Dari situ kita mulai akrab, chat via YM, telepon dan webcam via YM—saat itu belum tau skype.

Ya mungkin karna terlalu intens suatu interaksi itu berakibat buruk pada hati, Hehe. Ya saya mulai suka, tapi langsung hancur karena dia baru saja "jadian" dengan seorang wanita manis keturunan arab. Yah "pedekate-nya sama siapa, jadiannya sama siapa". Memang sih jika dibandingkan dengan saya itu ya gak terlalu jauhlah. Ah tapi setiap orang punya kekurangan dan kelebihan.

Semenjak dia punya pacar, sedikit demi sedikit menarik diri. Terlebih saat dia selalu balas mention saya via DM di twitter. Ya katanya gak enak kalau pacarnya melihat. Ya sudah kalau begitu, dari situ saya gak kontak-kontakan, akhir Oktober 2010. Awal 2011 saya punya pacar dan dia baru putus, itu pun baru saya tau akhir-akhir ini.

Kini, kita menyambung silahturahmi. Dari saya yang entah ingin menyapanya. Lalu dia pun mengajak ketemuan, bukan di mall, di jalan atau suatu tempat tapi di rumah saya. Tidak dengan kendaraan umum tapi motor. Rumah saya dan tempat tinggalnya bisa dikatakan jauh. Dengan motor, waktu yang diperlukan itu sekitar 2.5 jam.

Ya, ada tamu dari jauh itu harus menyiapkan diri agar dia tidak kecewa, Hah XD. Dan dia pun datang dengan motor Revo hitam, berjaket hitam, bermata coklat lalu tersenyum. "Salaman dulu na" usai memarkirkan motornya.

Kaku, saya kaku. Saya yang biasanya aktif, bawel dan lebay tiba-tiba salting. Kalaupun saya sempat memendam rasa itu serasa terpanggil kembali. Senyumnya, cara bicaranya, walau terkesan baku—ya saya maklumi karena pekerjaan dia yang merangkap sebagai wartawan sekaligus manager marketing—tapi saya tetap terpesona dan meleleh.

Dia tiba pukul 3 sore. Berapa menit kemudian adzan. Dan kamu tahu dia langsung menanyakan kamar mandi. Oke, ini saya sedang bermimpi? Dulu saat pertama kenal dia, dia sempat mengatakan "buat apa solat? Kenapa harus solat." Sepertinya saya belum banyak mengenal dia. Atau memang banyak yang terlewatkan di sini.

Setelah dia solat dan saya masih salting, dia menanyakan ke saya,

"kamu lagi gak solat na?" Dan saya pun terbata-bata menjawab.

"Hmm.. uhm tadi kan ilan solat dulu, jadi gantian. Tadinya na mau solat bareng sama ilan, di imami oleh ilan, siapa tahu bisa jadi imam hidup na, seterusnya." Oke saya nyepiknya ini garing banget karena responnya hanya senyum—serasa ingin gali lubang karena malu *duh

Sebenarnya lebih banyak diam sih, obrolan ya standar-standar. Kerjaan, sosial media, agama, politik *serius*, kenaikan harga bbm, kehidupan dia, kuliah dia dulu, aktivitas sebagai GEMSOS. Pokoknya random dan begitulah. Saya senang melihat tatapan matanya yang antusias mendengarkan cerita saya namun saya agak kurang suka melihat seseorang menguap, itu kan salah satu kegiatan merasa bosan.

Hal saya ingat adalah,

"Saya sudah putus akhir 2010, dan hingga sekarang masih nyaman dengan keadaan seperti ini. Karena memilih untuk menjalani suatu hubungan itu tidak boleh asal, ada hati yang harus dijaga agar tak tersakiti atau tak sengaja tersakiti. Lagi pula pacaran banyak sekali tuntutannya sedangkan saya juga banyak tuntutan dari pekerjaan saya."

Jadi pada intinya dia belum mau pacaran *ngangguk-ngangguk. Lalu dia pun berkata lagi, kata-kata yang akan saya ingat,

"Dalam sosmed orang-orang menjadi memiliki banyak kepribadian, termasuk saya. Berbicara tentang masalah yang menarik perhatian followers dan pertemanan memudahkan saya mempromosikan media informasi online."

Dan siapa yang sedang berbicara dengan saya? Hmm pukul 17.45, ada yang mau pamit pulang. Cerita ini akan segera berakhir. Dia memakai sepatunya di teras rumah lalu saya berkata,

"Ada yang ketinggalan gak?"

"Gak ada kayanya." Sambil mengecek tiap saku di jaketnya.

"Yakin? Kayanya ada deh, hati aku ketinggalan di kamu." Oke ini saya garing banget karena lagi-lagi dengan datarnya dan senyumnya yang melelehkan saya itu hanya menjawab.

"Iya he." *tepok jidat, saya kaku, saya salting dan kamu datar. Pertemuan yang tidak mengesankan, tapi saya tetap terpesona :p

Yah setelah dia pulang melewati malam bersama mamah dan beliau pun berkata,

"Jadi, dia nembak kamu?" Saya yang mendengar itu langsung tertawa

"Ya gak lah mah, dia hanya anggap na teman."

"Lalu, menurutmu dia naksir kamu?"

"Hmm... Enggak hehe." Pertanyaan yang jleb.

"Yah sayang, padahal keliatannya dia baik banget, sopan, menjaga waktu solatnya, dan ganteng pula."

"Hah.. bukan jodohnya kali mah, mungkin ada yang lebih baik di luar sana." Menenangkan diri.

"Emangnya kamu udah lebih baik dari dia?" Tuh kan jleb lagi. Dan saya hanya bisa diam

Setelah 2 jam dari dia pulang, saya memberanikan diri untuk sms dia sekedar menanyakan apakah sudah sampai dan sudahkah makan. Sebelunya saya ini deg-degan banget karena saya bukan tipe perempuan sms duluan jika ada perasaan ke pria. Jawabannya baik tapi selalu singkat, 2 kali berbalas dan sms terakhirnya hanya mengirimkan 3 huruf "sip"

Tidak ada sesuatu hal positif merujuk ke arah sana sepertinya, bukan menyerah dan tidak mau berjuang hanya saja saya bukan seorang tipe perempuan aktif dalam pedekate, saya tidak cukup pengalaman dalam hal ini. Dan kini saya harus mengalah pada pria yang menyatakan cintanya semalam dalam mimpi tentunya. Ya mimpi, jadi tolong jangan bangunkan hingga jodoh saya benar-benar datang.


Tangerang, 11 Maret 2012

Dalam kebimbangan antara harus senang atau sedih.
******************************************************************************

Tangerang 25 Maret 2012

Berteman akrab dari 2010 namun sempat lost contact dan bertemu lagi 2012 and still FRIEND, saya mention-mentionan dengan dia hingga sekarang, saling balas gombalan tapi ya tetep datar. Sekarang sih gak berharap lebih—biar terlihat tegar aja sih—but Oke I'm stuck in FRIENDZONE

Ini ceritaku, apa ceritamu?

Rabu, 07 Maret 2012

Suatu kisah sebelum meniup lilin

Kamu ingat pertemuan yang (tidak) romantis kita? Kita bertemu depan Tiang bendera, hukuman karena telat datang ke sekolah. Saya mengeluh kepanasan tapi kamu mengulurkan tangan mengajak berkenalan. Saat itu wajahmu yang coklat dengan bulir-bulir keringat yang memasang senyuman menawan membuat saya tak pernah bisa tidur. Sejak saat itu sepertinya saya jatuh cinta padamu.


Saya senang bersekolah di tempat kita bertemu. SMA yang cukup terkenal pada saat itu karena selalu memanggil band ternama setiap pensinya. Kamu ingat pensi terakhir di kelas 3? Yang menjadi kencan pertama saya dan kamu. Kita menonton band kesukaan kita, lalu vokalis band tersebut melempar topi yang dia pakai lengkap dengan tanda tangannya. Kamu menangkapnya, untuk saya.

Dan apakah kamu masih ingat? Seorang kolektor topi yang menginginkan topi itu, sangat. Dia berani membayar hingga 10 juta. Kita menganggapnya tidak waras karena berani membayar dengan harga tersebut saat kita terus saja menolaknya.

Saya bahagia bertemu kamu, mencintai kamu dan dicintai kamu. Kamu bukan seorang biasa, kamu luar biasa. Pintar dalam membuat notasi lagu untuk saya dan menyanyikan dengan sepenuh hati diantara lilin di suatu kafe itu. Suaramu yang mampu mengalahkan kaleng-kaleng kosong di jalanan tetap bisa meluluhkan hati saya.

Jiwa petualangmu kamu tularkan pada saya. Kita pernah mendaki bersama, melihat kawanan capung dan kupu-kupu menari indah diantara kita, serta melihat apa itu Eldewaise secara langsung dengan jumlah yang banyak. Meskipun aku hampir terjatuh dan terseok-seok namun sesampainya di puncak gunung memang ada kepuasan tersendiri. Melihat matahari terbit secara dekat, kabut, gumpalan awan yang seperti gumpalan gulali berwarna putih. Kamu memeluk erat saya dari belakang, kamu bilang
"kamu liatkan? Betapa saya menyukai pendakian ini. Ada suatu kepuasan tersendiri. Melihat dari atas lebih indah karena ada beberapa hal yang tidak bisa kamu lihat dari bawah maka dengan melihat dari atas ada sesuatu hal yang menambah, menambah wawasan baru, menambah rasa sayang saya ke kamu." Saya hanya tersenyum lalu mendaratkan ciuman hangat di pipimu.

2 bulan kemudian kamu mengajak saya melakukan hal ekstrem lagi. "Apa? Terjun payung?", Saya belum pernah melakukannya, hanya saja sejak kecil saya selalu membeli permainan terjun payung, dimana mainan ini terbuat dari plastik belanjaan yang pinggirannya diberi beberapa lubang untuk mengikatkan tali dan si penerjunnya adalah miniatur seorang tentara yang terbuat dari plastik yang digemari saat itu.

Akhirnya kita melakukan terjun payung bersama. Pendaratan kita berdua pun tak kan pernah terlupakan. Kamu ingat bagaimana kita mendarat? Ya, kita mendarat di kolam renang, 1 km dari pendaratan sebenarnya. Lucu ya, kita basah-basahan dan kesulitan bernapas karena parasut menutupi kita yang hendak mengambil oksigen. Malunya kejadian tersebut dimuat dalam surat kabar.

Karena kejadian pendaratan memalukan itu, ada seseorang yang menghampiri kita memberi kartu nama, katanya jika ingin berlatih menjadi penerjun payung yang baik silahkan datang ke tempat latihannya. Kita hanya saling tatap lalu memberi senyuman kepada si pemberi kartu nama.

Hari ini hari spesial saya, kamu paling tahu bagaimana membahagiakan saya. Ada saja kejutan untuk ulang tahun saya. Walau saya tidak yakin, tapi ucapan ulang tahun darimu pun cukup berarti. Meskipun kita sudah tak bersama lagi. Setidaknya kamu tidak lupa saya yang pernah kamu sayangi dan menyayangi kamu.

Oke, sudah 3 jam saya duduk sendiri dalam kafe ini. Hanya ditemani cake dengan lilin seadanya. Mungkin saya harus segera menyalakan lilin dihadapan saya ini lalu meniupkannya. Sebelumnya saya memejamkan mata membuat beberapa pengharapan dan doa-doa. Kamu tidak perlu tahu apa itu. Intinya terbaik untuk saya dan kamu. Untuk kebahagian saya dan kamu.


***
Tulisan diatas adalah hasil tantangan menulis huruf kecil
Tulisan yang mengembangkan 10 frase (cetak tebal) menjadi sebuah karangan.
Senangnya bisa menyelesaikan tantangan ini setelah sekian lama tidak menulis fiksi. Memang harus dipancing :D

Rabu, 08 Februari 2012

Dear kamu

Dear Kamu, apa kabar kamu?
Kabarku baik, walau setelah kecelakaan yang membuat tulang jari kelingkingku agak berubah tapi tenang semua baik-baik saja. Aku tidak mau membuatmu cemas lalu menghawatirkanku terlalu hingga kamu mendiam agar aku tersadar bahwa kamu begitu karena mencintaiku.

Dear kamu, hari ini hujan.
Kamu tahu betapa aku menyukai hujan? Entah, hujan selalu membuatku merasa dalam situasi romantis jika aku berada denganmu. Ada pelukan hangat diantara dinginnya hujan, ada obrolan hangat tentang hidup, aku, kamu, kita dan masa depan.

Dear kamu, pangeran dengan scutter matic putih
Hujan dan kamu, kamu tidak takut hujan. Kamu dengan senang hati menjemputku di halte itu, berhenti tepat di depanku lalu tersenyum dengan butiran-butiran air hujan di wajah. Ah, mirip adegan yang menjadi slow motion dalam FTV-FTV.

Dear kamu,
Masihkah kamu selalu pilek tiba-tiba bila dalam ruangan bersuhu rendah? Kini aku selalu membawa tissue, untuk kamu agar saat kita berpergian nanti kamu tidak kehabisan tissue untuk membersihkan wajahmu atau menghambat aliran dalam hidungmu. Jangan lupa pula dengan memakai jacketmu tapi selalu dicuci ya agar jaket tersebut tetap pada fungsinya yaitu melindungi kamu dari penyakit bukan memberimu penyakit.

Kamu, si cuek
Aku tak peduli kamu memakai baju apa untuk bertemu denganku. Kaos belel kuning yang kamu bilang “ini kaos nyaman banget”, tidak merubah kadar sayang aku ke kamu. Kamu ingat kita pernah pergi ke suatu mall dengan kamu hanya memakai kaos hitam dan celana pendek yang bahannya seperti celana bola itu lalu membawa ransel merahku berkeliling mall, makan, nonton, aku tidak peduli orang melihatnya aneh. Sama sekali. Aku hanya ingin membuatmu nyaman pada zonamu. Menjadikan dirimu apa adanya karena aku tahu kamu di luar sana bisa lebih rapi. Aku sayang kamu.

Dear kamu, dengan kemeja dan dasi itu
Aku luluh saat melihatmu dengan kemeja panjang yang digulung lengannya lalu dasi yang melingkar di lehermu. Kamu tampan, sangat tampan. Pergi bekerja dengan semangat, belajar untuk jadi pekerja keras. “Aku seperti ini, agar aku terbiasa ke depannya dengan pekerjaan yang lebih berat lagi,” katamu.

Dear kamu, waktu itu hujan
Kamu tidak bisa datang ke rumahku karena gerimis padahal kamu tidak takut hujan terlebih gerimis bukanlah suatu penghalang besar untuk menyatukan rindu kita. Waktu itu hujan, kamu takut. Tapi aku lebih takut ini adalah awal badai kita. Kita tak bertemu, hingga sekarang tak pernah bertemu lagi. Layaknya orang asing.

Dear kamu, lelaki terbaik.
Aku sedih saat kamu berkata, “kamu terlalu baik untukku.” Karena aku tak akan bicara, “ya, kamu tidak baik untukku.” Walaupun kamu lebih memilih meninggalkan aku tanpa aku tahu alasannya sampai sekarang. Yang aku tahu kamu lelaki terbaik memperlakukanku sangat spesial hingga membekas dalam pikiran sampai sekarang. Kamu pria baik, mencari seseorang yang lebih baik, dan itu bukan aku. Maka janganlah memakai alasan klise “kamu terlalu baik untukku”.

Dear kamu,
Baik-baik ya kamu di sana. Aku selalu mendoakanmu dalam kebaikan. Salam buat ayahmu, atlet bulu tangkis. salam untuk ibumu, instruktur senam yang hebat. Salam juga untuk adikmu yang cantik juga berprestasi seperti kakaknya. Juga pada kucing-kucing blesteranmu itu. Aku menyayangimu juga keluargamu. Semoga kamu mendapat yang lebih baik ya setelah ini. Amieen.

Sampai Jumpa!
Semoga Tuhan merencanakan kita bertemu lagi walau hanya bertegur sapa sebagai teman.

Minggu, 29 Januari 2012

Jatuh cinta dan Jodoh (semu)

Ingatkah kapan terakhir kamu jatuh cinta? Saya sedang mengalaminya sekaligus merasakan jatuh sakit karna cinta. Seseorang yang membuat saya benar-benar dibutuhkan (saat itu) dan saya pun merasakan cintanya (masih pada saat itu). Saya pernah berpikir, jodoh hingga aakhir usia itu orang yang benar-benar persis sama apa yang saya impikan atau melengkapi saya dengan segala kekurangan dan kelebihan (sekali lagi, pada saat itu).

Saya pernah bertemu dengan seseorang, kita punya banyak kesamaan entah dari segi musik, bacaan, pemikiran, kesukaan. Semua terasa mimpi menemukan dan memiliki seseorang seperti itu dan saya sangat bahagia (pada saat itu).

Pernahkah ada pria menyisihkan kulit ayam yang crispy buat kamu? Pernahkah ada pria yang menemanimu walau hanya via sms hanya untuk menyemangatimu? Pernahkah kamu tertawa atau tersenyum saat teringat akan dia? Pernahkah ada nyanyian kebangsaan? Atau ada panggilan lucu-lucuan? Ya begitulah indahnya jatuh cinta.

Pada saat itu, jatuh cinta. Saat dimana semua indah, saat rindu-rindu yang menyiksa pun masih terasa indah, menanti bertemu lalu saling mendekatkan dan mengobati rindu pada pelukan. Pernahkah merasa itu? Jatuh cinta pada saat itu, selalu tak pernah habis bercerita, bernyanyi, tertawa, dan melakukan hal yang menyenangkan bersama dia.

Sekarang, jatuh cinta. Saat dimana semua indah, mengingat kenangan bersamanya lalu entah seperti ada kupu-kupu di dalam perut terbang menuju dada lalu menjadi sesak karna rindu-rindu yang menyiksa tak lagi menjadi indah, tak ada lagi yang membuat rindu itu terobati dengan pelukan, mencintainya pun hanya mampu dalam diam.

Tuhan menciptakan orang-orang yang telah dipertemukan dengan saya dan kamu atau yang sedang menunggu waktu dipertemukan untuk saya dan kamu adalah mereka yang disebut jodoh. Masalahnya waktu kebersamaan saja yang akan menunjukan hingga kapan jodoh(semu) itu.

Semua orang yang telah dipertemukan oleh Tuhan dengan saya pun kamu adalah bukan suatu hal yang kebetulan atau suatu hal yang sia-sia. Mereka punya peran di hidupmu. Tuhan sudah merencanakan semuannya, dengan siapa saja nanti akan bertemu dan semua ada tujuannya, selalu ada hikmahnya.

Persimpangan

Tuhan berencana kembali
Mengirimkan seorang penyusup hati
Namun ia tak sendiri

Ada doa tiap harap pada kursi cadangan
Ada duka diantara kisah kamu dan dia
Ada aku yang terlihat jahat

Padahal bukan inginku
Juga bukan inginmu
Pun cupid tidak ingin disalahkan

Aku menjauh tuk menghindar
Tapi kamu berharap ku tuk tinggal
Dan aku terpenat pada suatu persimpangan

Sabtu, 14 Januari 2012

Kangen Mantan Unite

Kangen Mantan Pacar

Rintik hujan kembali mengingatkanmu. Seorang yang selalu istimewa, mantan pacar terindah.

Tanggal 14 Januari ini genap kita sudah 1 tahun bermantanpacaran. Suatu hal yang selalu kurindukan bisa terus bersamamu. Bagaimana tidak? Setiap scene ketidakbersamaan kita selalu saja terputar. Bagian dimana kamu menyisihkan kulit crispy ayam kesukaanku tanpa diminta lalu menyuapinya. Bagian dimana kamu memaksaku untuk makan sayuran yang tidak ku suka hingga membuatku suka. Bagian dimana sate ayam 6 tusuk dengan nasinya habis karena kamu yang menyuapinya padahal aku bilang 2 tusuk saja sudah membuatku kenyang atau saat aku kedinginan lalu kamu memelukku atau pula saat kita tertawa bersama. Aku kangen kamu, mantan pacarku.
Aku pikir ketidakbersamaan kita membuat orang-orang iri. Kamu ingat, mantanpacarku? Pandangan mereka kepadaku seakan bahwa aku adalah orang yang tidak beruntung. Semenjak aku tidakmendapatkanpenggantimu orang-orang bilang aku menjadi seseorang yang penuh kasih(an), menjadi sangat tidak lembut.

Hari ini mari kita tiup lilin 1 tahun bermantanpacaran. Jadikan hari ini spesial untuk kamu(false) juga aku. Suatu ken(angan) yang tak kan terlupakan dan menjadi sebuah momen bahwa aku tidak sendirian.





******************************************************************************



"The life won't go on if you not move on"
***
Ku pandangi langit yang sedang tidak bersahabat dari sisi kanan jendela bus. Bus yang menghatarkanku dari kampus menuju kota tempat tinggalku. Ku rogoh telepon genggam di dalam tas ku. Memandangi foto yang menjadi wallpapernya, aku dan Radith.

Hampir genap satu bulan aku bersamaanya. Akhirnya, setelah 2 tahun aku berpisah dengan Agra, aku dipertemukan dengan Radith oleh Tuhan. Ya yang tidak bisa persis dengan Agra. Sebenarnya  Agra tampilannya biasa saja, seorang pria berkacamata, pintar, pekerja keras namun tetap romantis. Dia tidak tampan tapi dia manis. Diaa punya pipi chuby dan kumis seperti tukul haha..

Lamunanku terbuyarkan saat kudapati telepon genggamku bergetar, ku lihat layar telepon genggamku ternyata sms dari Radith.

"Sayang, disini masih hujan. Kalo hujannya gak berhenti-berhenti aku gak bisa jemput kamu. Maaf ya cinta."

Aku  hanya mematikan layar telepon genggamku setelah membaca sms Radith. Dia tidak pernah mau berkorban, beda dengan Agra. Keluhku dalam hati. Ku pandangi kembali jendela bus yang kini sudah berembun. Memandangi jalan dan lamunanku kembali pada Agra. 2 tahun tanpa Agra, apa kabar ya dia?
Aku ingat setiap puisi-puisi yang ia buat untukku. Apakah ia masih mengingatnya? Mengingat tiap getaran rasa perdetiknya saat ia buatkan itu semua? Video tentang pernyataan perasaannya kepadaku pun aku masih menyimpannya. Foto-foto kebersamaannya pun aku masih menyimpannya. Walau tiap tetes air mata menjadi saksi bisu betapa ku merindukannya.

Aku kangen kamu, gra. Aku tahu aku salah bila hingga kini aku belum memenuhi permintaanmu, untuk move on. Hidupku masih berputar dengan kamu pada porosnya. Doakan aku, semoga Radith bisa menarikku keluar dari gravitasimu. Semoga.


tulisan untuk meramaikan #kangenmantanunite