Halaman

Senin, 27 Agustus 2012

Satu Orang Galau, Dua, Tiga Orang Terpengaruhi

Di suatu bimbingan belajar, kelas intensif menghadapi UN SMP yang seminggu lagi namun kelas sudah mulai tak kondusif dan bersemangat belajar. Isna, guru bidang studi Matematika di salah satu bimbingan belajar.

“Oke, assalamu‘alaikum, selamat malam.” Sapa Kak Isna yang baru memasuki ruangan yang berisikan 12 siswa.

“wa‘alaikumsalam. malam.” Jawab siswa serentak. Beberapa langsung memperbaiki posisi duduknya, sebagian yang lain masih asik mengobrol dan Tentor—panggilan untuk guru les—melihat sekeliling dan tersenyum.

“oke, yuk kita mulai belajarnya. Ini pertemuan terakhir kita, jadi kakak hanya akan membahas sesuatu yang kalian belum paham. Hingga saat ini di Matematika materi apa yang belum kalian mengerti?”

“kak, saya bingung yang ada modal awal, modal akhir terus ditanya bunga dalam berapa bulan gitu. Itu gimana ya caranya?” tanya Bima

“Oh itu aritmatika sosial ya? Oke jadi contohnya kalau.....” kak Isna menjelaskan dengan santai lalu sambil melihat sekeliling yang mulai ribut.

“Ini masa kakaknya ngejelasin masih aja rame, ayo dong perhatikan. Coba itu kamu yang dipojokan udah jangan mainan hape aja.”

“Syifa lagi galau kak, baru putus dia.” Celetuk Adit sambil tertawa dan diikuti oleh teman-temannya.

“Ah diem lu, dit” sergah Syifa sambil memasukan hape-nya

“Kak, saya suka bingung belajar Matematika.” Lanjut Syifa

“Bingung kenapa?” tanya tentor Isna dan mengernyitkan dahinya.

“Kita belajar matematika tapi kok tidak ada penerapan dalam kehidupan sehari-hari, terlebih dalam suatu hubungan.” Jawab Syifa dengan memasang wajah polos dan sepertinya patut dikasihani.

“Ada kok.” Kak Isna menanggapi.

“Masa kak? Buktinya saya belum pernah menemukan contoh soal bagaimana menyelesaikan permasalahan jika modal awalnya adalah cinta dan mendapat bunga-bunga kehidupan yang indah tapi modal akhirnya yang saya terima selalu menerima kepahitan.” Syifa yang memasang ekspresi datar itu membuat satu kelas pun tertawa.

“Jrit, Syifa galau klimaks.” Sambar Ghozi.

“Eh tapi bener ya kak, kita belajar Matematika penerapan pada kehidupan sosialnya terlebih pada kehidupan asmara itu tidak ada.” Fitri pun ternyata ikut-ikutan.

“Contohnya kita belajar Peluang. Tapi kita tidak diajarkan mendapatkan Peluang yang kita hitung atau kita cinta. Mentok-mentok di Peluang Harapan.” Lanjut Fitri sambil cengengesan.

“Eh eh eh, kok jadi galau semua gini?” Kak Isna memukul-mukul papan tulis untuk menghentikan keributan di dalam kelas.

“Udah yuk kak kita ngobrol aja, bosen belajar melulu.” Keluh Syifa

“Kok gitu? Udah jadi mana lagi yang ingin ditanyakan lagi?”

Eka yang duduk di depan langsung membuka kertas dihadapan Tentor Isna dan membacakan soal matematika yang menurutnya membingungkan. “Ini kak, kalau ada soal seperti, suatu pekerjaan direncanakan 30 hari dengan 15 pekerja tapi baru dikerjakan 6 hari dan terhenti selama 4 hari. Jika pekerjaan itu diteruskan, berapa pekerja yang harus ditambahkan?”

Hening sesaat, terlihat kak Isna sedang berpikir. “Oh ini namanya perbandingan berbalik nilai, Ka. Jadi kamu tinggal mengalikan ini dan ini lalu hasilnya dikurangi sama pekerja awalnya.” Kak Isna menjelaskan di papan tulis dengan pelan-pelan.

“Kak, kalau soalnya gini kak. Jadi jika ada pacar yang selalu membandingkan pacarnya yang sekarang dengan mantannya itu masuk ke perbandingan apa kak?” Adit kembali cengengesan sambil melirik Syifa.

Kak Isna hanya menghela nafas dan melanjutkan mengajarnya mengenai Fungsi dan Pemetaan  namun tiba-tiba Adit celetuk. “Kak, kita belajar Fungsi dan Pemetaan tapi kok saya sudah nyoba memetakan hati saya ke dia kenapa tidak berfungsi mengubah pemikirannya?” Adit pun memberi cengirannya.

Kak Isna hanya mengusap-ngusap dahinya. “Aduh ini kalian menjelang UN jadi pada galau semua ya?”

“Kak, punya pacar?” Tanya Syifa

“Kenapa?” Kak Isna mulai curiga

“Umur kakak berapa?” Lanjut Syifa

“Ih kamu mauan deh, mau banget atau mau aja? 25 kenapa? Kamu punya kakak”

“yeay kakak. Cuma mau ingetin umur kakak aja sih kak. Kok aneh belum nikah kak?” Hening sesaat lalu siswa pun tertawa memecahkan keheningan. Kak Isna hanya  bisa menghela napas.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar