“Aku menyukai puisimu.”
Komentarku pada sebuah blog yang berisikan puisi puisi indah dan postingan yang bercerita tentang kehidupan. Daniel, sejak berkenalan dengannya melalui blogwalking, aku menjadi kecanduan menulis suatu tulisan yang bisa dikatakan puisi. Terlebih saat kita bisa saling berbalas puisi.
Aku menyukai malam, saat yang tepat menuliskan kegalauan, menumpahkan semua perasaan yang terselimuti oleh ambigunya sebuah puisi, apalagi hanya pada saat malam tiba aku dan Daniel bertukar cerita dengan mengindahkan kata.
“apa aku mulai jatuh cinta padanya?” pikirku
***
Aku membenci malam seperti bagaimana aku membencinya yang tak ada saat ku rindukan. Dinding dinding dan lelangit kamar semakin membutakanku, bagaimana bisa sebuah benda mati mewujudkan bayanganmu dengan seburat senyum manis kepadaku. Kata orang ini adalah rindu, sebuah rasa indah pelengkap dari suatu hubungan.
“Ah ini sungguh menyiksa, aku merindukanmu, Daniel.”
***
Dua, tiga, dan kini empat minggu berlalu tanpa kabar dari Daniel, pun mimpi buruk selalu menghantui. Dan aku hanya mencoba memejamkan mata dan mengatur napas saat semua pikiran negatif muncul setidaknya ada perasaan lega walau sesaat getir menghampiri. Antara memilih untuk menunggu Daniel atau melanjutkan kembali langkahku, masa depanku, tanpa Daniel.
Setahun berlalu
Hari-hari ku lalui, tanpa Daniel tentunya. Menjalani hidup dengan kesendirian pun sudah terbiasa, sebenarnya ada dan tiada cinta bagiku itu bukan satu alasan untuk hidup, hanya ada sesuatu yang hilang dari diriku, entahlah. Aku yang sejak kecil tanpa orang tua, hidup di panti asuhan bersama anak-anak lain yang bernasib sama. Setidaknya aku pernah mempunyai cinta, bersama Daniel
Melalui Daniel aku belajar banyak hal. Seperti sekarang ini, aku memilih untuk menunggunya. Aku yakin suatu hari Daniel akan kembali. Kembali menuliskan puisi untukku.
“Maaf mbak, waktunya terapis”, suara wanita berbaju putih membuyarkan lamunanku
Ku hantarkan Daniel dengan kursi rodanya ke ruang terapis. Ya, Daniel lumpuh total sejak kecelakaaan 11 bulan lalu, dan beruntunglah matanya masih berfungsi walaupun kesemua inderanya butuh beberapa kali terapi kembali. Namun hingga kini kemajuannya sangat lambat, pun fisiknya semakin melemah.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar