Di sebuah senja, aku duduk di sebuah bangku taman kayu dengan dikelilingi pohon cemara dan pinus. Melamun atau membaca buku di keheningan adalah kesukaanku sambil menikmati angin berbaukan pinus yang seakan saling berbisik. Namun kenikmatan ku ini terusik oleh sesosok pria misterius di arah jam 2. Siapa dia? Karena selama aku berkunjung di taman ini tak pernah ku temui seseorang lagi selain aku dan burung-burung saling bersautan.
Pria itu memakai kaos berkerah berwarna putih dan bercelana pendek coklat muda sedang asik melihat sekitar nampaknya. Sesekali ia duduk beralaskan rumput-rumput. Rasa penasaranku pun menjadi. Ingin ku hampiri sekedar berkenalan atau berbagi keindahan di sini tapi aku takut mengganggunya.
Dan tiba-tiba ia melihatku lalu tersenyum, entah kenapa pria itu membuat jantungku hendak loncat untuk keluar--untung aku pegang dadaku. Jarak kita berdua itu sekitar 10 meteran dan makin berkurang saat ia mulai mendekat.
"Hai, sudah lama di sini?" tanyanya sambil tersenyum. Dan aku masih terpaku menatapnya. Pria itu dilihat lama-lama makin menarik dengan kacamata berbingkai hitam. Suaranya pun membuat tenang.
"Hallo?" Pria itu menyapaku lagi, membuyarkan lamunanku.
"Eh, iya udah lama", jawabku terbata-bata.
"Perkenalkan namaku Langit", pria itu mengulurkan tangannya sambil tersenyum. Aku langsung menaruh bukuku langsung menjabat tangannya.
"Hmm namaku Luna", jawabku. "Silahkan duduk, kamu dari mana?", lanjutku sambil mempersilahkannya duduk disampingku sambil menyembunyikan jantungku yang berdebar-debar.
"Aku dari tadi", jawabnya singkat dan lagi-lagi senyumnya itu loh.
"Ah kamu bisa saja"
"Aku serius, aku dari tadi bahkan dari dulu menunggumu. Menunggu untuk dipertemukan denganmu, menunggu kamu move on dari masa lalumu", jawabnya dengan nada bicara yang entah mengapa membuatku tenang. Dan aku hanya terdiam bingung.
"Aku yang disiapkan Tuhan untukmu. Aku jodohmu", lanjutnya dan aku merasa menelan ludah pun berat sekarang.
"Hah? Jodohku? Dari mana kamu tahu aku ini jodohmu?", tanyaku heran tapi ada rasa melambung.
"Dari keyakinanku, jadi tidak perlu kamu tanya lagi alasan keyakinan dari mana hingga aku tahu kamu jodohku. Karena seperti kita meyakini adanya Tuhan", aku yang masih diam kebingungan mendengar penjelasan singkatnya.
"Jadi apa kabarmu, dungde?", tanyanya manja sambil mencubit hidungku yang memang agak besar. Dan jantungku yang kembali berdetak kencang.
"Hmm aku baik-baik saja", jawabku terbata-bata sambil memegang hidungku--takut posisinya berubah.
Dia mampu mencairkan suasana yang membuat kita pun cepat sekali akrab, kita membicarakan segala hal, becanda, dan saat ia mencoba menggendongku lalu tiba-tiba *GUBRAK*
Aku terjatuh dan mengusap-usap pantatku yang kesakitan. Namun tak ku dapati pria bernama Langit itu di depanku, hanya seorang perempuan yang wajahnya tidak asing sedang tertawa puas.
"Hahaha.. Luna tidur kamu lincah banget sih, sampai bisa jatuh gitu. Mimpi apa lagi?" tanya Deby teman kost-ku yang tak henti-hentinya menertawai aku.
"Ah sial cuma mimpi, tapi kenapa begitu nyata", gumamku dalam hati.
"Kenapa lagi kamu?", timpahnya lagi sambil menahan ketawa.
"Gak apa-apa, rese ah.. udah jangan ngetawain aku mulu", kulihat jam dinding menunjukan pukul 6 pagi, saatnya ku siap-siap berangkat kuliah--sembari masih linglung antara merasa masih mimpi atau kenyataan.
Ku sambar handukku yang menggantung dekat kasurku, sambil tak henti-hentinya memikirkan arti mimpiku.
"Seandainya itu kenyataan", keluhku lagi dalam hati. Berjalan pelan menuju kamar mandi, membayangkan wajah pria itu lagi.
"Ah tapi bagaimana kalau itu benar? Bagaimana kalau pria itu memang jodohku? Duh kenapa waktu di mimpi itu tidak kutanyakan nomer teleponnya atau alamat rumahnya", pikirku yang masih termangu di depan pintu kamar mandi.
well written.. :) - @elnaa_
BalasHapusTerimakasih elna..
BalasHapusaku pun sedang belajar untuk menulis sebuah fiksi. Jadi butuh sekali masukan untuk menjadi lebih baik.
Terima kasih sudah menciptakan permainan #15HariMenulisBlog