Halaman

Selasa, 04 Oktober 2011

#5 Seandainya

Sudah satu bulan Elang dan Delfi tidak bertemu, dan 3 minggu tidak juga berkomunikasi. Entahlah cinta dengan cara menggantung telah Elang pilih. Elang tak pernah menghubungi Delfi maupun menerima telepon dari Delfi bahkan sekedar membalas sms dari Delfi pun seperti tak ingin.

Elang dan Delfi sudah menjalin hubungan berpacaran hampir tiga perempat tahun namun kesan yang dirasa cukuplah mendalam. Pasangan ini romantis, jarak bukan lagi penghalang, tak pernah ada perselisihan, saling pengertian, saling percaya bahkan di saat terakhir pertemuan Delfi dan Elang pun semua baik-baik saja tapi entah mengapa akhir-akhir ini Elang sulit sekali dihubungi. Delfi si tipe penyabar dan setia hanya terus saja berusaha mencoba menghubungi Elang, tidak pernah terbesit untuk mencari pelarian.


"Apa aku coba gunakan nomer lain sajalah untuk menghubungi dia ya?" Gumam Delfi dalam hati, sambil menekan tombol genggamnya dengan hati-hati. Nada sambung pun terdengar, tidak lama terdengar suara yang tak asing yang selalu dirindukan

"Hallo..", DEG jantung Delfi terasa cepat berdetak, ada rasa panas di wajah, suara yang dirindukan.

"Elang?"

"Iya, ini siapa ya?"

"Ini aku Delfi." Dengan nada kecewa.

"Oh iya, kamu pakai nomer siapa?"

"Nomer baru, habisnya kamu gak bisa dihubungin terus sih, aku kangen kamu, aku sayang kamu Elang", Delfi mencoba menahan tekanan rasa rindu yang ingin keluar dari tangisan.

"Oh, aku juga." Jawab Elang singkat.

"Juga apa?" Tanya Delfi menggoda manja, mencoba menutupi rasa sedihnya.

"Perlu ya diomongin?" jawabnya dingin,

"Ya aku kan pengen denger dari kamu, kan udah lama gak denger kalimat itu dari kamu."

"Udah ya aku gak enak sama temen-temen ku." Ada rasa sesak di dada yang menyabar Delfi saat mendengar ucapan-ucapan dari Elang. Elang pun langsung menutup teleponnya tanpa pamit terlebih dahulu. Delfi sekali lagi hanya bisa menangis dan memilih tidur cepat.

***
"Ardy, kamu tau gak kenapa Elang kok berubah akhir-akhir ini."

Pesan singkat untuk Ardy, sahabat Elang sejak SMP. Satu jam Delfi menunggu balasan Ardy namun telepon genggamnya tak pernah berbunyi. Dua jam, empat jam, sepuluh jam, dan hingga keesokan harinya pun Delfi belum mendapat balasan dari Ardy.

*Drrr Drrr* telepon genggam Delfi bergetar.

"Gue gak tau Del, kemarin sih kita ngumpul-ngumpul tapi dia gak cerita apa-apa." Balas Ardy. "Oh gitu ya, thanks ya di." Bathin Delfi pun berkecamuk, rasanya ingin sekali terbang ke tempat Elang berada, seandainya jarak Bandung-Jakarta itu bisa di tempuh beberapa menit, seandainya aku tahu rumah Elang, gumam Delfi.

***
Keesokan malamnya, Delfi terus saja mencoba hubungi Elang. Setelah 2 jam berlalu, akhirnya suara di ujung telepon sana menyapa,

"Hallo."

"Akhirnya kamu angkat juga, sayang. Kemarin-kemarin kenapa gak diangkat? Kamu apa kabar?"

"Hmm baik, tapi hubungan kita tidak membaik." Deg, ada perasaan tidak enak menghampiri saat Delfi mendengar kalimat dari Elang, 'oh Tuhan semoga hubungan ini membaik.' Bathinnya.

"Yaudah kita omongin baik-baik aja dulu, selesaikan berdua, cari jalan tengahnya." Jawab Delfi dengan tenang menutupi kegelisahannya.

"Maaf banget, maaf maaf banget. Aku ingin kita selesai aja sampai sini." Seketika Delfi tidak bisa membendung tangisnya namun tetap berusaha tenang.

"Kenapa? Kenapa kita gak bisa omongin baik-baik dulu."

"Gak bisa, aku udah pikirin ini matang-matang, dan jalan tengahnya memang harus seperti ini." Dengan tetap tenang pula Elang menjawab.

"Tapi kenapa kamu gak libatkan aku untuk berpikir di dalamnya." Timpah Delfi.

"Maaf, aku gak bisa ceritakan apa masalah sebenarnya. Sekali lagi maaf ya, ini demi kamu. Dan aku salut dengan kesabaranmu yang telah aku sakiti namun tak pernah kamu marah padaku." Delfi hanya terdiam.

"Kamu baik-baik ya tanpa aku ke depannya. sekali lagi maaf. Selamat malam." Tiba-tiba telepon pun terputus. Dan Delfi berusaha menghubunginya lagi namun nomer telepon Elang sudah tidak aktif.

Setiap hari Delfi mencoba menghubungi Elang, berharap mendengar suara yang selalu dirindukannya. Dan berharap pula ada keajaiban menghampiri hubungan mereka. Tapi sepertinya usahanya sia-sia. Elang sudah hilang, teman-temannya pun menghilang. Dan tak terasa hampir dua tahun sudah Delfi lewati tanpa Elang.

***
Suatu hari di sudut kota Bandung. Elang yang duduk memandangi hujan dari balik jendela sedangkan di tangan kanannya memegang suatu foto,

"Seandainya dulu, orang tua kita tak saling mengenal. Seandainya orang tua kita tidak saling bermusuhan, seandainya orang tuamu tidak mengancam keluargaku, seandainya kios tempat orang tuaku mencari nafkah tidak dirusak oleh orang-orang suruhan orang tuamu, seandainya saja itu tidak pernah terjadi mungkin kita adalah pasangan yang berbahagia sejak dulu. Aku sangat mencintaimu, Delfi." Dan tetesan-tetesan luka dari mata Elang pun jatuh membasahi foto sepasang kekasih dengan senyum sangat bahagia itu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar