Jika puisi menurut mu sebagai pengantar asa maka sudah kah asaku tersampai padamu?
Jika puisi sebagai doa, maka tak pernah lelah puisiku panjatkan kepada Maha Indah
ku memuji yang Maha Kuasa pemilik dirimu
setiap stanza doa menyebut namamu
begitu sempurnanya ciptaan Maha Indah pelengkap hidup
ah, mungkin sudah lembaran puisi kubuat untuk mu
mungkin dapat kurajut tiap lembarannya menjadi penghangat duniamu.
kita memang memahami satu itu kita
lalu tak pernah mengenal kata perpisahan
tak pernah tahu arti berpisah
dan memang tak ingin seperti itu
dua dalam satu
kamu tahu bukan, aku menginginkamu, titik.
ku peluk lengan mu erat
tangan yang selalu membantu menutup telingaku dari buruknya masa lalu
cinta pun tak mampu berhenti
rasa yang aneh dalam dada ini menjerat
menuntunku terus untuk bersama
matamu yang sendu saat punggungmu ku usap
selalu mengisi betapa kamu mencintaiku dengan sangat
kamu pun juga tahu, aku membutuhkanmu, titik.
kamu layaknya metamfetamin dalam tubuh
candu pembuat debar jantung terhebat
candu penenang dari setiap gundah
candu pembuat euforia
candu yang membuatku hangat
jadi apa ini termasuk puisi?
padahal indahmu belum cukup terwakilkan di sini
Tangerang, 2 Januari 2014
Tidak ada komentar:
Posting Komentar