Halaman

Kamis, 27 Januari 2011

Miss Galau (katanya)


            Mereka bilang saya ini “Miss Galau”, katanya karena sering ngetweet galau. Sebenarnya enggak bermaksud galau juga tapi sedang berlatih sajak. Ya mau bagaimana lagi udah di jelasin tetap aja mereka ngasih gelar saya “Miss Galau”. Aslinya emang sering galau juga sih ya kadang karena ketularan, kadang karena mantan, kadang karena kelamaan ngejomblo juga, eh. Atau dari hal-hal kecil, ya alhasil jadi penggalau yang konsisten, tukang khayal, berilusi hingga hati kacau.
           Mungkin saya memang punya bakat galau. Jadi ingat pembicaraan dengan @tuannico, saya berbicara tentang awan dan langit, lalu saya bilang kalau saya pernah mewarnai awan dengan warna hitam saat lomba mewarnai tingkat TK di masjid istiqlal. Kalau kata tuan nico itu saya Keren!! galaunya udah dari kecil. Dan saya pun—dan mungkin kalian—bertanya, dimana letak galaunya. Menurut tuan nico, dimana saat anak-anak kecil lebih suka mewarnai awan dengan warna polos atau biru, maka titik galaunya itu kamu yang beda sendiri, awannya mendung = galau—jengjeng, dan mungkin ini salah dua saya menjadi penggalau
          Plus ada satu cerita lagi, saat saya merasa berbeda mendengar cerita ibu saya, "Dulu kamu lahir tuh enggak nangis, untung dokternya bisa buat kamu nangis, kalau gak nangis-nangis juga kamu mungkin sekarang ya gak ada di sini."
         Mendengar hal itu saya merasa keren karna berbeda dengan yang lain, dan suatu hal yang patut disyukuri dan juga diceritakan—loh? Iya, iya saya cerita kepada teman-teman saya, bukan hal takjub yang mereka perlihatkan malah
         "Ya ampun sejak lahir pun lo udah galau, bayi yang lain nangis, lo masih bingung mau nangis bagaimana, pantes aja lo mau move on aja masih bingung."
            “HEH!!” Kalian tuh enggak kasian apa ya sama orang-orang jomblo. Udah sendirian, di-bully, kesepian, tukang khayal, fakir asmara. Kasiani kami wahai orang-orang di luar sana.
            Galau itu artinya bimbangkan? Bingung gimana gitu. Ya jadi wajarlah kami—para jomblo—bingung mau berbagi sama siapa setiap kegundahan hati.
            “Aku berlari ke hutan kemudian dikira orang utan. Aku berlari ke pantai kemudian tenggelamku. Sepi, sepi dan sendiri aku benci. Hanya dibawah shower aku bisa menangis.”
            Jadi biarkan saja kami menggalau di twitter, di facebook atau mungkin agar tak merasa diganggu kami menggalau di Friendster. Sudah biarkan saja, jangan diganggu, jangan. Kecuali mau jadi sandaran saat dia sedih. Apalagi jadi sandaran hidupnya.



postingan lama di blog saya yang tak pernah ditengok
24 Juli 2011

Tidak ada komentar:

Posting Komentar