"Ketika status berubah menjadi seorang mantan pacar dari seorang pria/wanita. Maka stalking timeline sang mantan akan menjadi suatu hobi hingga sesuatu hal yang menghentikan kamu".
Saya dan dia adalah pecinta kata, merajut aksara menjadi sesuatu yang bisa dikatakan indah. Memenuhi timeline tiap malam hanya untuk saling berbalas kata. Layaknya seperti Zarry dan Rahne, kita memang selalu berbalas-balas puisi di blog ku atau blognya.
Twitter, dulu dia tak mengenal twitter hingga saya ajak dia untuk bermain-main disana. Awalnya saya yang bermain #kode dengan teman saya dan dia ikut nimbrung. Dan kita pun berbalas kata ya bisa dibilang sajak. Hmm seandainya bisa saya tuliskan beberapa sajaknya dulu.
Saya dan dia sempat merasakan cinta 5 bulan cukup memberi kesan yang mendalam dibanding saya yang pernah menjalin kisah 3 tahun. Entah apa sebabnya ia memilih untuk berjalan sendiri-sendiri, setelah janji dan keyakinan dia ucap.
Satu hari setelah kita putus, ia mengganti password facebook-nya. Dan saya tidak bisa mengetahui dengan siapa ia dekat dan apa balasan untuk wall-wall temannya terutama ada seorang wanita--sepertinya adik kelasnya--yang selalu mengirim kata-kata yang tidak layak disebut teman. Dan hal itu membuat saya tidak bisa berhenti memantaunya di timeline twitternya maupun di facebooknya.
Seminggu setelah putus, dia unfollow akun twitter saya. Saya tanya kenapa, tapi sayang tak ada balasan. Rasanya di-unfollow mantan itu seperti diputuskan 2 kali. Entah kenapa penyakit sesak di dada kembali menghampiri. Lalu beberapa hari setelah itu, ia menghapus semua tweet-nya. Dan sebegitukah buruknya kenangan saya dengan dia?
Sedih rasanya melihat ia bisa becanda, saling membalas tweet teman-temannya di timeline, dan saya hanyalah seorang mantan. Lalu 2 bulan setelah kita berpisah saya putuskan untuk me-unfollow-nya. Tapi hal tersebut belum juga menghilangkan hobi saya untuk stalking di timeline-nya.
Suatu hari setelah kesibukan saya menghentikan saya sesaat untuk memantau timeline-nya. Hingga suatu hari saya mencoba untuk mengetahui kabarnya melalui timeline-nya, tiba-tiba dada kembali sesak saat membaca tulisan,
"Dia memang bukan siapa-siapa sekarang, tapi lihat nanti dia akan jadi ibu dari anak-anak saya. #lol udah malem tidur dulu."
Oke, sepertinya dia sudah cepat move on lalu bertemu seseorang. Dia ingin bahagia bukan ingin dipantau terus menerus. Dan saya seharusnya ada untuk--hanya--berada di suatu tempat yang bernama kenangan. Walaupun janji-janjinya dan keyakinan dia tentang hubungan ini sudah--pernah--terucap, "aku yakin kamu jodohku, dan akan ku buat kamu merasa yakin pula", "aku tidak akan jenuh dengan hubungan ini, tidak akan," dan aku ingat kata-kata terakhirnya setelah putus, "maafkan aku, mungkin 2 atau 4 tahun lagi kita bertemu dengan rasa yang sama seperti dulu, Tuhan yang punya rencana."
Seseorang yang memutuskan itu lebih siap dibanding yang diputuskan, dan terkadang seseorang yang diputuskan masih saja menunggu adanya harapan.
... Dalem. (pernah) Ngerasa kaya gini.
BalasHapus