Halaman

Senin, 03 Oktober 2011

#4 Stalking Timeline

"Ketika status berubah menjadi seorang mantan pacar dari seorang pria/wanita. Maka stalking timeline sang mantan akan menjadi suatu hobi hingga sesuatu hal yang menghentikan kamu".

Saya dan dia adalah pecinta kata, merajut aksara menjadi sesuatu yang bisa dikatakan indah. Memenuhi timeline tiap malam hanya untuk saling berbalas kata. Layaknya seperti Zarry dan Rahne, kita memang selalu berbalas-balas puisi di blog ku atau blognya.

Twitter, dulu dia tak mengenal twitter hingga saya ajak dia untuk bermain-main disana. Awalnya saya yang bermain #kode dengan teman saya dan dia ikut nimbrung. Dan kita pun berbalas kata ya bisa dibilang sajak. Hmm seandainya bisa saya tuliskan beberapa sajaknya dulu.

Saya dan dia sempat merasakan cinta 5 bulan cukup memberi kesan yang mendalam dibanding saya yang pernah menjalin kisah 3 tahun. Entah apa sebabnya ia memilih untuk berjalan sendiri-sendiri, setelah janji dan keyakinan dia ucap.

Satu hari setelah kita putus, ia mengganti password facebook-nya. Dan saya tidak bisa mengetahui dengan siapa ia dekat dan apa balasan untuk wall-wall temannya terutama ada seorang wanita--sepertinya adik kelasnya--yang selalu mengirim kata-kata yang tidak layak disebut teman. Dan hal itu membuat saya tidak bisa berhenti memantaunya di timeline twitternya maupun di facebooknya.

Seminggu setelah putus, dia unfollow akun twitter saya. Saya tanya kenapa, tapi sayang tak ada balasan. Rasanya di-unfollow mantan itu seperti diputuskan 2 kali. Entah kenapa penyakit sesak di dada kembali menghampiri. Lalu beberapa hari setelah itu, ia menghapus semua tweet-nya. Dan sebegitukah buruknya kenangan saya dengan dia?

Sedih rasanya melihat ia bisa becanda, saling membalas tweet teman-temannya di timeline, dan saya hanyalah seorang mantan. Lalu 2 bulan setelah kita berpisah saya putuskan untuk me-unfollow-nya. Tapi hal tersebut belum juga menghilangkan hobi saya untuk stalking di timeline-nya.

Suatu hari setelah kesibukan saya menghentikan saya sesaat untuk memantau timeline-nya. Hingga suatu hari saya mencoba untuk mengetahui kabarnya melalui timeline-nya, tiba-tiba dada kembali sesak saat membaca tulisan,

"Dia memang bukan siapa-siapa sekarang, tapi lihat nanti dia akan jadi ibu dari anak-anak saya. #lol udah malem tidur dulu."

Oke, sepertinya dia sudah cepat move on lalu bertemu seseorang. Dia ingin bahagia bukan ingin dipantau terus menerus. Dan saya seharusnya ada untuk--hanya--berada di suatu tempat yang bernama kenangan. Walaupun janji-janjinya dan keyakinan dia tentang hubungan ini sudah--pernah--terucap, "aku yakin kamu jodohku, dan akan ku buat kamu merasa yakin pula", "aku tidak akan jenuh dengan hubungan ini, tidak akan," dan aku ingat kata-kata terakhirnya setelah putus, "maafkan aku, mungkin 2 atau 4 tahun lagi kita bertemu dengan rasa yang sama seperti dulu, Tuhan yang punya rencana."

Seseorang yang memutuskan itu lebih siap dibanding yang diputuskan, dan terkadang seseorang yang diputuskan masih saja menunggu adanya harapan.

Minggu, 02 Oktober 2011

#3 Senja Di Suatu Hari

Di sebuah senja, aku duduk di sebuah bangku taman kayu dengan dikelilingi pohon cemara dan pinus. Melamun atau membaca buku di keheningan adalah kesukaanku sambil menikmati angin berbaukan pinus yang seakan saling berbisik. Namun kenikmatan ku ini terusik oleh sesosok pria misterius di arah jam 2. Siapa dia? Karena selama aku berkunjung di taman ini tak pernah ku temui seseorang lagi selain aku dan burung-burung saling bersautan.

Pria itu memakai kaos berkerah berwarna putih dan bercelana pendek coklat muda sedang asik melihat sekitar nampaknya. Sesekali ia duduk beralaskan rumput-rumput. Rasa penasaranku pun menjadi. Ingin ku hampiri sekedar berkenalan atau berbagi keindahan di sini tapi aku takut mengganggunya.


Dan tiba-tiba ia melihatku lalu tersenyum, entah kenapa pria itu membuat jantungku hendak loncat untuk keluar--untung aku pegang dadaku. Jarak kita berdua itu sekitar 10 meteran dan makin berkurang saat ia mulai mendekat.

"Hai, sudah lama di sini?" tanyanya sambil tersenyum. Dan aku masih terpaku menatapnya. Pria itu dilihat lama-lama makin menarik dengan kacamata berbingkai hitam. Suaranya pun membuat tenang.

"Hallo?" Pria itu menyapaku lagi, membuyarkan lamunanku.

"Eh, iya udah lama", jawabku terbata-bata.

"Perkenalkan namaku Langit", pria itu mengulurkan tangannya sambil tersenyum. Aku langsung menaruh bukuku langsung menjabat tangannya.

"Hmm namaku Luna", jawabku. "Silahkan duduk, kamu dari mana?", lanjutku sambil mempersilahkannya duduk disampingku sambil menyembunyikan jantungku yang berdebar-debar.

"Aku dari tadi", jawabnya singkat dan lagi-lagi senyumnya itu loh.

"Ah kamu bisa saja"

"Aku serius, aku dari tadi bahkan dari dulu menunggumu. Menunggu untuk dipertemukan denganmu, menunggu kamu move on dari masa lalumu", jawabnya dengan nada bicara yang entah mengapa membuatku tenang. Dan aku hanya terdiam bingung.

"Aku yang disiapkan Tuhan untukmu. Aku jodohmu", lanjutnya dan aku merasa menelan ludah pun berat sekarang.

"Hah? Jodohku? Dari mana kamu tahu aku ini jodohmu?", tanyaku heran tapi ada rasa melambung.

"Dari keyakinanku, jadi tidak perlu kamu tanya lagi alasan keyakinan dari mana hingga aku tahu kamu jodohku. Karena seperti kita meyakini adanya Tuhan", aku yang masih diam kebingungan mendengar penjelasan singkatnya.

"Jadi apa kabarmu, dungde?", tanyanya manja sambil mencubit hidungku yang memang agak besar. Dan jantungku yang kembali berdetak kencang.

"Hmm aku baik-baik saja", jawabku terbata-bata sambil memegang hidungku--takut posisinya berubah.

Dia mampu mencairkan suasana yang membuat kita pun cepat sekali akrab, kita membicarakan segala hal, becanda, dan saat ia mencoba menggendongku lalu tiba-tiba *GUBRAK*

Aku terjatuh dan mengusap-usap pantatku yang kesakitan. Namun tak ku dapati pria bernama Langit itu di depanku, hanya seorang perempuan yang wajahnya tidak asing sedang tertawa puas.

"Hahaha.. Luna tidur kamu lincah banget sih, sampai bisa jatuh gitu. Mimpi apa lagi?" tanya Deby teman kost-ku yang tak henti-hentinya menertawai aku.

"Ah sial cuma mimpi, tapi kenapa begitu nyata", gumamku dalam hati.

"Kenapa lagi kamu?", timpahnya lagi sambil menahan ketawa.

"Gak apa-apa, rese ah.. udah jangan ngetawain aku mulu", kulihat jam dinding menunjukan pukul 6 pagi, saatnya ku siap-siap berangkat kuliah--sembari masih linglung antara merasa masih mimpi atau kenyataan.

Ku sambar handukku yang menggantung dekat kasurku, sambil tak henti-hentinya memikirkan arti mimpiku.

"Seandainya itu kenyataan", keluhku lagi dalam hati. Berjalan pelan menuju kamar mandi, membayangkan wajah pria itu lagi.

"Ah tapi bagaimana kalau itu benar? Bagaimana kalau pria itu memang jodohku? Duh kenapa waktu di mimpi itu tidak kutanyakan nomer teleponnya atau alamat rumahnya", pikirku yang masih termangu di depan pintu kamar mandi.

Sabtu, 01 Oktober 2011

#2 - Aku Ini Siapanya Dia?

Mendapat ajakan malam minggu, hari itu tanggal 23 Januari 2011. Seorang pria yang baru ku kenal 2 bulan di dunia per-blog-an, komentator setia pada postingan blogku. Kaos berkerah biru tertutup jaket tebal dengan motor matic putihnya tiba di rumahku. Ada wangi yang sampai sekarang ku rindukan. Ada senyum manis di balik helm putihnya.

"Masuk dulu yuk, minum aja, aku mau siap-siap dulu. Bentar ya" ucapku. Dia hanya tersenyum. Ah senyum yang hingga sekarang gak bisa aku lupakan.

Malam minggu ini kita pergi nonton di daeerah Serpong. Tentang pendakian dan pembunuhan. Ya aku pikir dia pasti suka, karna dia suka mendaki. Tapi filmnya malah membuatku takut hingga entah sengaja tidak sengaja--karna dorongan hati memegang pergelangan tangannya.

"Maaf." Ujarku, karna takut dia berpikir macam-macam.

Namun kenyataannya aku melalukan itu lagi, tapi dia malah menurunkan pegangan tanganku menuju genggamannya. Jantung bedebar semakin kencang, mungkin dia merasa, tangan ini berkeringat. Entah dengannya, dia mengusap tanganku dengan ibu jarinya. Ah malam yang tak pernah terduga.

Selesai nonton aku dan dia jalan-jalan dulu, bertukar cerita. Pada waktu itu sedang ada acara imlek. Ya aku diajak untuk melihatnya, tapi jalan dia itu ngebingungin, sesekali seperti ingin ke kanan kadang ke kiri, aku yang disampingnya narikin baju dia kebingungan.

"Iiihh kamu tuh mau kemana?" Tanyaku

"Makanya klo bingung jangan tarikin baju mulu, sini pegang tangan aku." Ucapnya santai dengan tersenyum.

Ya tuhan, mungkin aku seperti anak kecil yang baru seperti itu saja rasanya ingin loncat-loncat kegirangan. Aku yang memegang pergelangan tangannya lalu ia turunkan hingga pada satu genggaman tangan kirinya. Muka memanas, dia hanya tersenyum. Aku dan dia akhirnya memilih tempat duduk, malam yang indah. Aku dan dia berbagi cerita tentang kehidupan dan tangan kita pun masih saja berpautan.

Tidak ingin malam ini berakhir, ku peluk dia dari belakang saat menaiki skuter matic-nya.

"Yah, bentar lagi sampai rumah." Keluhku

"Iya, sabar ya nanti kita ketemu lagi. Aku janji." Hiburnya sambil menggenggam tanganku.

Akhirnya tiba di depan rumah, dia tersenyum berlalu. Perpisahan terjadi dengan rasa penasaran. Aku ini siapa dia ya sekarang?

Jumat, 02 September 2011

"Aku membencimu (dengan cinta); berpikir bagaimana menjatuh(cinta)kan mu."   - Nae
"Kamu selalu mampu menciptakan hal terindah dalam hidupku; pun luka darimu" - Nae (@whynae)

Kamis, 01 September 2011

Semoga Akhir ini Adalah Awal Memulai Hidup Baru

Malam ini pukul 1 dini hari, Bandung semakin dingin. Aku mengambil posisi sudut ruangan rumah nenekku. Ya, dekat stop contact. Sambil mengecharge hp, aku mengetik pada keypad, seperti biasa untuk bercerita. Sunyi, senyap, tempat ku suka untuk merenung. Dimana selalu merasa banyak suara dipikiranku dan menerima, lalu merenungkan.

Cinta, sebuah rasa untuk kamu yang mungkin masih di hati. Anggit, entah kenapa menjadi primadona dipikiranku, padahal sudah saatnya aku berhenti memikirkanmu saat kau telah melakukan terlebih dahulu, melupakanku.

Pernah kamu merasa merindu hingga menangis namun pikiran membuat suatu suara bantahan "untuk apa?". Tapi setidaknya aku ingin menyapamu, tapi sungguh berat, terlebih kamu seseorang yang mengambil ilmu psikolog, pasti tahu tujuan sms ku, aku kangen kamu.

"Hi, apa kabar?"

Sms terkirim. Tak bisa dibohongi saat bagaimana jantung lebih berdetak cepat saat mengirimimu sms sesingkat itu. Ya, dan bodohnya aku. Kebiasaanku yang selalu terbuka denganmu. Kamu menanyakan keadaanku yang sebenarnya aku tahu itu hanya basa basi mencairkan kondisi hati kita.

Semakin panjang smsku, kamu semakin malas untuk membalas. Ya aku terlalu terbuka, denganmu. Kamu menanyakan hidupku, pekerjaanku, anak-anak berkebutuhan khusus, lalu aku akan bercerita tiada henti. Dan 2 hari setelah kita bertukar cerita via sms, aku mengerti. Aku baru sadar sikap ku bercerita panjang lebar tentang segala hal yang berkaitan dengan pertanyaanmu hanya akan membuat kamu berpikir bahwa aku sedang menarik perhatian, menarik simpatimu tentang aku. Bukan, tolong jangan berpikir seperti itu. Aku hanya ingin berbagi, dan mungkin aku tidak tahu tempat.

Kamu tahu, karna tersadarnya aku itu, aku berjanji pada diriku sendiri. Tak kan ada cerita panjang lagi di smsku padamu, atau bahkan tak kan ada lagi sms untukmu. Aku takut kamu berpikir lain. Aku hanya ingin berubah, keluar dari bayang-bayangmu dengan menjadi temanmu. Tapi ternyata cara yang ku pilih salah. Lebih baik aku benar-benar harus menjauh, demi ketenanganmu, demi kebahagianmu, demi kamu.

Semoga tak ada lagi seseorang yang stalking di media sosialmu. Tak kan ada lagi surat seperti ini. Aku harus berhenti ketika waktu untuk kita pada saat itu terhenti. Berhenti berhayal bahwa kamu akan mampu dan sempat untuk membaca ini. Peratap, ya pasti pikirmu bilang seperti itu, seperti yang pernah kamu bilang langsung padaku.

Aku akan mulai hidup baru, bukan dengan sepi, tapi dengan keceriaan dan tawa polos anak-anak di sekolahku. Aku kubur cinta ini, meski sempat ada keyakinan yang kamu tanam di sini, namun hanya waktu yang bisa menjawab semua keraguan. Tuhan punya rencana, berharap kita dewasa.


Selamat tinggal Kenangan.