Sekejap lidahku membatu
Mengingkari mataku yang berkata jujur
Biarlah sahabatku puisi yang mengaku:
Sungguh mata di balik lensa kacamata itu
Mata yang bisa mengunci dunia dalam bisu
Namun, kini matamu telah berlalu
Meninggalkan aku seperti orang buta
Meraba birunya pagi dan merahnya senja
Tidak ada komentar:
Posting Komentar