Halaman

Kamis, 26 April 2012

Tiket Surga

Pantai senja menjingga, dari pelataran rumah. Terdengar riuh camar yang menyenangkan, deru ombak yang memecah sayup, dan wangi lautan segar terhirup. Aku duduk di kursi kayu cokelat yang menua karena rayap dan waktu, termenung menatap hamparan luas langit dan laut sebagai cerminnya.

Aku suka pantai, suka sekali. Kamu ingat permainan air yang kita lakukan bersama? Kita seperti anak kecil yang baru menemukan air, tertawa bersama, bermain hingga lelah. Lalu kita berbaring dengan beralaskan pasir putih pantai, menatap matahari kembali pada pelukan laut yang dingin. Dan jutaan, oh bukan tapi miliaran Bintang menggantikan sinar matahari dengan bulan yang selalu cantik. Namun tak kan mengalahkan cantiknya aku, katamu.

Kita suka pantai, ada damai yang terasa saat berada di sana. Hingga suatu saat kita punya mimpi, membangun rumah ditepian pantai. Tempat di mana kita akan menua bersama, dengan anak-anak kita kelak, pun berkumpul dengan cucu-cucu lucu kita. Untuk memperindah, kita akan bangun taman bunga, kita akan tanam berbagai macam bunga yang bisa ditanam di sana, tapi tidak untuk bunga melati dan kamboja, jangan. Tidak lupa ayunan kayunya, katamu agar menyatu dengan tamannya maka buatlah ayunan dari kayu.

Hidup denganmu laksana menemukan surga kecil. Pelangi setelah hujan yang melagu haru, dan puisi indah yang tak lekang oleh waktu. kamu lelaki hebat yang tak kenal mundur. Iya kamu tak kenal mundur, ingatkah kamu saatt kamu ingin memberikan ku boneka dengan usaha mengambil di mesin boneka yang mengharuskan kita memasukannya sebuah koin untuk menggerakan tuas. Koin 1, 2, 3, 4 berlalu begitu saja masuk kedalam perut mesin.

"Sudah sayang, tidak apa." Ucapku yang tak henti-hentinya tersenyum dan mengelus punggungmu. Namun pada koin ke-13 yang kamu masukan, koin keberuntungan. Akhirnya kamu mendapatkan boneka singa kecil berwarna kuning.

Sambil tersenyum, pria bermata hitam itu berbinar, "Jangan menyerah pada kegagalan, kita harus coba lagi dan lagi. Semangat!" kamu pun memberikan singa kecil itu. Lalu merangkulku beranjak dari depan mesin boneka itu.

Menikah, aku dan kamu memutuskan untuk mengakhiri hubungan dengan indah. Ya, menikah. Dan malam pertama kita hanya berbincang tentang masa-masa sulit selama pacaran di atas kasur air. Berbincang bagaimana setelah ini, kamu yang berbaring dengan posisi miring menatapku lekat-lekat berkata,

"kita menikah bukan berarti mendapatkan cerita yang happy ending. Tapi kita baru saja memulai fase baru kehidupan yang kelak akan selalu bertemu masalah. Pasti ada saatnya kita salah paham dan bertengkar. Namun anggaplah kita sedang mengiris bawang, dan berada dekat dengan irisan bawang tersebut, memedihkan mata hanya beberapa saat saja. Kita mungkin menangis, wajar. Tapi ini hanya sesaat, kuat dan terus bertahan. Aku akan selalu menjagamu dan setia mencintaimu sepanjang usia Tuhan." Kamu tersenyum lalu mendaratkan kecupan di keningku.

Aku memelukmu erat dan membisikan kata, "Pun aku yang mencintaimu karena Allah."

Aku suka saat kita melakukan solat berjamaah. Kita saling mendoakan untuk beli tiket ke surga nanti. Usai solat, aku suka bagian di mana aku menciumi punggung tanganmu lama, cukup lama. Karena kamu pun mencium keningku yang sebelumnya telah kamu bisikan doa dan meniupkannya diubun-ubun kepalaku. Hal yang akan menjadi kebiasaan untuk anak-anak kita. Sayangnya kita tidak punya anak. Hingga sekarang, hingga kamu telah tiada.

50 tahun pernikahan kita, 28 tahun tanpamu. Jeritan hati seorang yang merinndukanmu sangat, mungkinkah akan terdengar jelas di telingamu. Aku selalu mendoakanmu, selalu. Tidak pernah terputus. Masih di tempat kesukaan kita, di rumah kayu tepi pantai. Masih ditemani warna senja yang indah serta kicauan camar dan deburan ombak yang selalu pergi dari pantai beberapa saat dan datang kembali sebagai buih-buih di pantai. Begitu pun pada dirimu, kamu pergi menghadap Illahi dan mungkin akan datang masanya kita bertemu kembali memegang tiket menuju surga.
Kini aku sedang menghitung mundur detik-detik untuk sekiranya Allah menemukan aku dengan dirimu. Entahlah alam mengatakan begitu, karena senja hari ini lebih gelap dan dingin dibanding senja-senja sebelumnya.

------------------------------------------------------- Tulisan ini dibuat berdasarkan permintaan tantangan 10 frase kepada kak @riestianto :) Terima kasih kak ;)



posted from Bloggeroid

5 komentar:

  1. Ini keren. Permainan diksi yang ciamik membuatnya jadi lebih indah jika disebut prosa. ;) Salam.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terimakasih sudah mampir dan meninggalkan komentar ayu. Masih dalam tahap belajar lebih baik lagi :)
      Apa Ayu memiliki usul 10 prase berikutnya? :D
      Salam ;)

      Hapus
  2. wihh keren.. lanjutkan terus berkarya...

    BalasHapus
  3. SUBHANALLAH
    Luar biasa cerita Adinda ini
    Aku terharu

    BalasHapus