Halaman

Rabu, 07 Maret 2012

Suatu kisah sebelum meniup lilin

Kamu ingat pertemuan yang (tidak) romantis kita? Kita bertemu depan Tiang bendera, hukuman karena telat datang ke sekolah. Saya mengeluh kepanasan tapi kamu mengulurkan tangan mengajak berkenalan. Saat itu wajahmu yang coklat dengan bulir-bulir keringat yang memasang senyuman menawan membuat saya tak pernah bisa tidur. Sejak saat itu sepertinya saya jatuh cinta padamu.


Saya senang bersekolah di tempat kita bertemu. SMA yang cukup terkenal pada saat itu karena selalu memanggil band ternama setiap pensinya. Kamu ingat pensi terakhir di kelas 3? Yang menjadi kencan pertama saya dan kamu. Kita menonton band kesukaan kita, lalu vokalis band tersebut melempar topi yang dia pakai lengkap dengan tanda tangannya. Kamu menangkapnya, untuk saya.

Dan apakah kamu masih ingat? Seorang kolektor topi yang menginginkan topi itu, sangat. Dia berani membayar hingga 10 juta. Kita menganggapnya tidak waras karena berani membayar dengan harga tersebut saat kita terus saja menolaknya.

Saya bahagia bertemu kamu, mencintai kamu dan dicintai kamu. Kamu bukan seorang biasa, kamu luar biasa. Pintar dalam membuat notasi lagu untuk saya dan menyanyikan dengan sepenuh hati diantara lilin di suatu kafe itu. Suaramu yang mampu mengalahkan kaleng-kaleng kosong di jalanan tetap bisa meluluhkan hati saya.

Jiwa petualangmu kamu tularkan pada saya. Kita pernah mendaki bersama, melihat kawanan capung dan kupu-kupu menari indah diantara kita, serta melihat apa itu Eldewaise secara langsung dengan jumlah yang banyak. Meskipun aku hampir terjatuh dan terseok-seok namun sesampainya di puncak gunung memang ada kepuasan tersendiri. Melihat matahari terbit secara dekat, kabut, gumpalan awan yang seperti gumpalan gulali berwarna putih. Kamu memeluk erat saya dari belakang, kamu bilang
"kamu liatkan? Betapa saya menyukai pendakian ini. Ada suatu kepuasan tersendiri. Melihat dari atas lebih indah karena ada beberapa hal yang tidak bisa kamu lihat dari bawah maka dengan melihat dari atas ada sesuatu hal yang menambah, menambah wawasan baru, menambah rasa sayang saya ke kamu." Saya hanya tersenyum lalu mendaratkan ciuman hangat di pipimu.

2 bulan kemudian kamu mengajak saya melakukan hal ekstrem lagi. "Apa? Terjun payung?", Saya belum pernah melakukannya, hanya saja sejak kecil saya selalu membeli permainan terjun payung, dimana mainan ini terbuat dari plastik belanjaan yang pinggirannya diberi beberapa lubang untuk mengikatkan tali dan si penerjunnya adalah miniatur seorang tentara yang terbuat dari plastik yang digemari saat itu.

Akhirnya kita melakukan terjun payung bersama. Pendaratan kita berdua pun tak kan pernah terlupakan. Kamu ingat bagaimana kita mendarat? Ya, kita mendarat di kolam renang, 1 km dari pendaratan sebenarnya. Lucu ya, kita basah-basahan dan kesulitan bernapas karena parasut menutupi kita yang hendak mengambil oksigen. Malunya kejadian tersebut dimuat dalam surat kabar.

Karena kejadian pendaratan memalukan itu, ada seseorang yang menghampiri kita memberi kartu nama, katanya jika ingin berlatih menjadi penerjun payung yang baik silahkan datang ke tempat latihannya. Kita hanya saling tatap lalu memberi senyuman kepada si pemberi kartu nama.

Hari ini hari spesial saya, kamu paling tahu bagaimana membahagiakan saya. Ada saja kejutan untuk ulang tahun saya. Walau saya tidak yakin, tapi ucapan ulang tahun darimu pun cukup berarti. Meskipun kita sudah tak bersama lagi. Setidaknya kamu tidak lupa saya yang pernah kamu sayangi dan menyayangi kamu.

Oke, sudah 3 jam saya duduk sendiri dalam kafe ini. Hanya ditemani cake dengan lilin seadanya. Mungkin saya harus segera menyalakan lilin dihadapan saya ini lalu meniupkannya. Sebelumnya saya memejamkan mata membuat beberapa pengharapan dan doa-doa. Kamu tidak perlu tahu apa itu. Intinya terbaik untuk saya dan kamu. Untuk kebahagian saya dan kamu.


***
Tulisan diatas adalah hasil tantangan menulis huruf kecil
Tulisan yang mengembangkan 10 frase (cetak tebal) menjadi sebuah karangan.
Senangnya bisa menyelesaikan tantangan ini setelah sekian lama tidak menulis fiksi. Memang harus dipancing :D

3 komentar:

  1. Terima kasih Ayu sudah mau berkunjung dan meninggalkan jejak :)
    Blog kamu juga keren review-reviewnya ;)

    BalasHapus
  2. Bagus na ceritanya.. Gw yang ga suka baca jadi baca ni cerita, romantis bgt ya..

    BalasHapus